Preferensi Keong Mas (Pomacea canaliculata) terhadap Beberapa Varietas Padi

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Kupang - Siput Unggul versus Padi Tangguh: Varietas Inpari Menahan Serangan Hama Keong Mas di Sawah. Penelitian ini diungkapkan dalam riset Isack Jacob Amos Pah, Don H. Kadja, dan Yasinta L. Kleden dari Universitas Nusa Cendana dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 5 Tahun 2026 menyoroti bahwa solusi ekologis bagi petani di Desa Tarus, Kabupaten Kupang Tengah, dalam meminimalkan kerusakan panen tanpa ketergantungan penuh pada pestisida kimia berbahaya.

Ancaman Nyata Invasi Keong Mas di Sektor Pertanian
Beras merupakan makanan pokok utama yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia karena kandungan nutrisinya menjadi sumber energi harian. Oleh karena itu, keberlanjutan budidaya padi menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan nasional. Sayangnya, para petani terus dihadapkan pada tantangan besar berupa organisme pengganggu tanaman, di mana keong mas bertindak sebagai salah satu hama paling rakus dan merusak, terutama pada fase awal pertumbuhan padiBerasal dari Amerika Selatan dan masuk ke Indonesia pada awal 1980-an, keong mas memiliki kemampuan adaptasi lingkungan yang luar biasa. Hama air tawar ini bereproduksi dalam jumlah masif mampu bertelur hingga ribuan butir dalam satu siklus serta dapat bertahan hidup dalam kondisi kekeringan ekstrem melalui proses estivasi atau dormansi di dalam lumpur. Pada fase bibit hingga usia empat minggu, jaringan tanaman padi masih sangat lunak dan menjadi makanan favorit keong mas. Infestasi hama ini begitu cepat hingga mampu merusak 60% area sawah hanya dalam hari pertama dan mencapai kehancuran total dalam waktu satu minggu saja. Fenomena ini menjadi risiko finansial serius bagi komunitas petani lokal yang kelangsungan hidupnya bergantung pada hasil panen.

Menyusun Strategi Pengujian di Laboratorium
Melihat tingginya frekuensi serangan di lahan pertanian Desa Tarus, tim peneliti dari Universitas Nusa Cendana merancang sebuah eksperimen terkontrol di Laboratorium Hama Tanaman menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Mereka menguji preferensi makanan dan tingkat keparahan serangan keong mas terhadap empat varietas padi unggul yang populer ditanam oleh masyarakat, yaitu:
  • Varietas Ciherang.
  • Varietas Inpari 42.
  • Varietas Inpari 24 Red (Merah).
  • Varietas Inpari standar.
Metodologi penelitian ini dibagi menjadi dua tahap utama. Tahap pertama adalah uji preferensi, di mana seluruh varietas padi ditanam bersama dalam satu wadah berukuran $50\text{ cm} \times 50\text{ cm}$ untuk melihat varietas mana yang paling pertama dan paling banyak didekati oleh keong mas dalam waktu 24 jam. Tahap kedua adalah uji infestasi, di mana masing-masing varietas diisolasi dalam wadah terpisah dan dipaparkan pada lima ekor keong mas selama 21 hari untuk mengukur persentase kerusakan biologis secara berkala pada hari ke-7, ke-14, dan ke-21.

Hasil Eksperimen: Ciherang Paling Rentan, Inpari Terbukti Tangguh
Data dari analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan terkait pilihan makanan dan tingkat ketahanan dari masing-masing varietas padi yang diuji.
  • Daya Tarik Ciherang (100%): Pada uji preferensi 24 jam, varietas Ciherang mencatat nilai preferensi mutlak sebesar 100%. Hal ini menandakan bahwa seluruh bibit Ciherang langsung diserang karena memiliki karakteristik jaringan yang jauh lebih lunak dan kandungan nutrisi yang sangat disukai hama.
  • Kategori Sedang: Varietas Inpari 42 dan Inpari 24 merah berada pada tingkat kerentanan menengah dengan angka preferensi masing-masing sebesar 75% dan 50%.
  • Ketangguhan Inpari (25%): Varietas Inpari standar menunjukkan performa terbaik dengan nilai preferensi terendah, yaitu hanya 25%, menjadikannya varietas yang paling dihindari oleh keong mas pada fase awal.
Pada uji serangan jangka panjang, konsistensi data ini tetap bertahan. Di hari ke-7 setelah perlakuan, tingkat kerusakan Ciherang sudah mencapai 100%, sementara Inpari baru menyentuh angka 25%. Di hari ke-14, ketika varietas lain telah rusak total, varietas Inpari masih mampu mempertahankan tingkat kerusakan yang lebih rendah di angka 75%. Meski demikian, pada hari ke-21 seluruh varietas akhirnya mengalami kerusakan 100%. Hal ini membuktikan bahwa varietas padi tertentu efektif menahan serangan di fase awal pertumbuhan, namun tidak memberikan perlindungan mutlak jika hama dibiarkan tanpa tindakan pengendalian tambahan dalam jangka panjang.

Implikasi Kebijakan dan Penerapan Praktis di Sektor Pertanian
Secara ilmiah, ketahanan alami yang dimiliki oleh varietas padi Inpari berasal dari struktur fisiknya yang memiliki batang lebih keras dan akumulasi kadar silikat yang lebih tinggi. Karakteristik mekanis ini menyulitkan keong mas untuk memotong dan mengikis batang padi muda untuk dimakan. Temuan dari Universitas Nusa Cendana ini memberikan panduan praktis yang sangat berharga bagi para petani dalam menyusun strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT)Dengan memilih varietas padi yang memiliki ketahanan awal seperti Inpari, petani bisa mendapatkan "waktu emas" selama dua minggu pertama pasca-tanam untuk menerapkan metode pelindung sekunder. Pendekatan ekologis ini dapat dikombinasikan dengan manajemen pengaturan air sawah, pengumpulan keong secara manual, maupun pemanfaatan agen hayati predator. Implementasi strategi ini secara luas di daerah rawan genangan air diyakini mampu menekan kerugian finansial, meningkatkan produktivitas panen, dan mengurangi dampak buruk penggunaan pestisida kimia terhadap ekosistem perairan sawah.

Profil Penulis

Isack Jacob Amos Pah adalah seorang sarjana pertanian dan peneliti dari Universitas Nusa Cendana. Ia memiliki keahlian spesifik di bidang Hama dan Penyakit Tumbuhan, agronomi, serta perlindungan tanaman berkelanjutan

Sumber Penelitian
Isack Jacob Amos Pah, Don H. Kadja, dan Yasinta L. Kleden (2026). Preferences of the Golden Apple Snail (Pomacea Canaliculata) for Several Rice Varieties. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS)Vol. 5, No. 5, Hal. 1235-1246 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i5.59
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar