Harga Minyak Dunia dan Kurs Rupiah Ternyata Tidak Menentukan Return Saham Energi Indonesia
FORMOSA NEWS – Fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ternyata tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan sektor energi di Indonesia. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Nidrah dan Mufidatul Azmi dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR). Hasil studi ini menunjukkan bahwa kinerja saham energi di Bursa Efek Indonesia lebih banyak ditentukan oleh faktor internal perusahaan dan kebijakan energi domestik dibandingkan gejolak ekonomi global. Temuan tersebut menarik perhatian karena selama beberapa tahun terakhir pasar energi global mengalami ketidakpastian yang tinggi. Konflik geopolitik, pemulihan ekonomi pascapandemi, perubahan kebijakan produksi minyak, serta fluktuasi nilai tukar telah menciptakan tekanan besar pada pasar keuangan di berbagai negara. Banyak investor meyakini bahwa kenaikan atau penurunan harga minyak dunia akan langsung memengaruhi saham-saham sektor energi. Namun, penelitian terbaru dari Universitas Negeri Makassar menunjukkan bahwa kondisi di Indonesia tidak selalu mengikuti pola tersebut.
Ketidakpastian Global dan Pasar Energi Indonesia
Minyak bumi masih menjadi salah satu komoditas paling strategis di dunia. Perubahan harga minyak sering kali berdampak pada biaya produksi, inflasi, hingga kebijakan ekonomi suatu negara. Di sisi lain, pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi memengaruhi perusahaan energi, terutama yang memiliki transaksi internasional atau utang dalam mata uang asing. Menurut Nidrah dan Mufidatul Azmi, sektor energi Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Banyak perusahaan energi memperoleh pendapatan dalam dolar AS melalui kegiatan ekspor sehingga mampu mengurangi dampak negatif pelemahan rupiah. Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah di sektor energi turut berperan dalam menjaga stabilitas industri dari guncangan eksternal. Untuk memahami hubungan tersebut secara lebih mendalam, tim peneliti menganalisis data perusahaan energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021 hingga 2025.
Mengkaji 14 Emiten Energi di Bursa Efek Indonesia
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda. Sebanyak 14 perusahaan energi dijadikan sampel penelitian, antara lain:
-Adaro Energy Indonesia (ADRO)
-AKR Corporindo (AKRA)
-Aneka Tambang (ANTM)
-Elnusa (ELSA)
-Energi Mega Persada (ENRG)
-ESSA Industries Indonesia (ESSA)
-Harum Energy (HRUM)
-Indika Energy (INDY)
-Indo Tambangraya Megah (ITMG)
-Medco Energi Internasional (MEDC)
-Perusahaan Gas Negara (PGAS)
-Bukit Asam (PTBA)
-Timah (TINS)
-TBS Energi Utama (TOBA)
Data yang digunakan mencakup harga saham bulanan, volatilitas harga minyak dunia, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama lima tahun pengamatan. Analisis statistik dilakukan untuk menguji apakah perubahan harga minyak global dan kurs rupiah mampu menjelaskan pergerakan return saham sektor energi di Indonesia.
Hasil Penelitian: Tidak Ada Pengaruh Signifikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik volatilitas harga minyak dunia maupun fluktuasi nilai tukar rupiah tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham sektor energi.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
-Rata-rata return saham sektor energi mencapai 1,88 persen.
-Rata-rata volatilitas harga minyak dunia sebesar 5,83 persen.
-Rata-rata kurs rupiah berada pada level Rp15.420 per dolar AS.
-Pengaruh harga minyak dunia terhadap return saham memiliki nilai signifikansi 0,504.
-Pengaruh kurs rupiah terhadap return saham memiliki nilai signifikansi 0,863.
-Pengujian simultan menghasilkan nilai signifikansi 0,755, yang menunjukkan kedua variabel tidak berpengaruh secara bersama-sama.
-Model penelitian hanya mampu menjelaskan 1,02 persen variasi return saham sektor energi.
Dengan kata lain, hampir seluruh perubahan return saham energi dijelaskan oleh faktor lain di luar harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Faktor Internal Lebih Berpengaruh
Menurut Nidrah dan Mufidatul Azmi dari Universitas Negeri Makassar, investor di pasar modal Indonesia tampaknya lebih memperhatikan kondisi fundamental perusahaan dibandingkan indikator ekonomi global. Faktor-faktor seperti profitabilitas, efisiensi operasional, strategi bisnis, tata kelola perusahaan, serta prospek jangka panjang dinilai lebih menentukan keputusan investasi dibandingkan perubahan harga minyak atau kurs harian. Penelitian ini juga menemukan bahwa banyak perusahaan energi Indonesia memiliki mekanisme perlindungan alami terhadap risiko nilai tukar karena memperoleh pendapatan dalam dolar AS. Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah tidak otomatis menurunkan kinerja perusahaan. Selain itu, kebijakan pemerintah seperti subsidi energi, regulasi ekspor, dan pengendalian harga energi turut mengurangi dampak langsung gejolak pasar global terhadap perusahaan energi nasional.
Investor Perlu Fokus pada Fundamental Perusahaan
Temuan ini memberikan pesan penting bagi investor. Selama ini banyak pelaku pasar menganggap bahwa kenaikan harga minyak dunia akan selalu menguntungkan saham energi. Namun penelitian menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu terjadi di Indonesia. Investor disarankan untuk lebih fokus pada analisis fundamental perusahaan, seperti:
-Kinerja keuangan
-Pertumbuhan laba
-Struktur utang
-Efisiensi operasional
-Strategi bisnis jangka panjang
-Kepatuhan terhadap kebijakan energi nasional
Menurut peneliti, pendekatan tersebut akan memberikan gambaran yang lebih akurat dalam menilai potensi investasi dibandingkan hanya mengandalkan indikator makroekonomi global.
Implikasi bagi Dunia Keuangan dan Kebijakan
Hasil penelitian ini memberikan wawasan baru bagi investor, analis pasar modal, regulator, dan pembuat kebijakan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sektor energi Indonesia memiliki tingkat ketahanan yang relatif baik terhadap guncangan ekonomi global jangka pendek. Bagi regulator, hasil studi dapat menjadi dasar untuk memperkuat kebijakan yang menjaga stabilitas industri energi nasional. Sementara bagi investor, penelitian ini menegaskan pentingnya memahami kondisi perusahaan secara mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Nidrah dan Mufidatul Azmi menilai bahwa karakteristik pasar modal Indonesia masih dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik sehingga dampak informasi global tidak selalu diterjemahkan secara langsung ke dalam harga saham.
Profil Penulis
Nidrah, S.E., M.M. merupakan dosen dan peneliti pada Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar (UNM). Bidang keahliannya meliputi manajemen keuangan, pasar modal, investasi, serta analisis faktor-faktor yang memengaruhi kinerja perusahaan dan pasar keuangan.
Mufidatul Azmi merupakan akademisi dan peneliti yang juga berafiliasi dengan Universitas Negeri Makassar. Fokus penelitiannya mencakup keuangan perusahaan, investasi, ekonomi makro, dan pengembangan pasar modal Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Influence of Global Oil Price Volatility and Exchange Rates on Stock Returns in the Energy Sector in Indonesia
Penulis: Nidrah dan Mufidatul Azmi
Afiliasi: Universitas Negeri Makassar (UNM)
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR)
Volume dan Nomor: Vol. 4, No. 5
Tahun Publikasi: 2026

0 Komentar