Penelitian Ungkap Sahu, Gamkonora, dan Waioli Merupakan Satu Keluarga Bahasa di Halmahera Barat

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - HALMAHERA BARAT – Tiga bahasa daerah yang digunakan masyarakat di Halmahera Barat, Maluku Utara, yakni Sahu, Gamkonora, dan Waioli, ternyata memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kuat dan berasal dari satu rumpun bahasa yang sama. Temuan ini diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Ety Duwila, Farida Maricar, Rahma Do Subuh, dan Agus Supriyadi dari Universitas Khairun yang dipublikasikan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) tahun 2026.

Penelitian tersebut menjadi penting karena selama bertahun-tahun masih terdapat perbedaan pandangan mengenai status ketiga bahasa tersebut. Sebagian lembaga kebahasaan mengelompokkannya sebagai dialek dari Bahasa Sahu, sementara masyarakat penuturnya menganggap masing-masing sebagai bahasa yang berdiri sendiri.

Melalui analisis linguistik historis dan perbandingan kosakata dasar, tim peneliti menemukan bukti kuat bahwa Sahu, Gamkonora, dan Waioli bukan sekadar variasi dialek, melainkan anggota dari satu keluarga bahasa yang memiliki nenek moyang linguistik yang sama.

Perdebatan Lama tentang Status Bahasa di Halmahera Barat

Maluku Utara dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keragaman bahasa yang sangat tinggi. Di wilayah ini terdapat bahasa-bahasa yang berasal dari rumpun Austronesia maupun non-Austronesia.

Sahu, Gamkonora, dan Waioli merupakan bahasa yang digunakan di wilayah yang saling berdekatan di Kabupaten Halmahera Barat. Namun hingga kini, status hubungan ketiganya masih menjadi bahan diskusi di kalangan ahli bahasa.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya kemiripan kosakata yang tinggi di antara ketiganya. Bahkan data terdahulu mencatat tingkat kesamaan kosakata Waioli dan Gamkonora mencapai lebih dari 80 persen. Di sisi lain, masyarakat penutur tetap mempertahankan identitas bahasa masing-masing.

Kondisi tersebut mendorong para peneliti Universitas Khairun untuk melakukan kajian yang lebih mendalam guna menjawab pertanyaan mengenai hubungan sejarah ketiga bahasa tersebut.

Membandingkan 200 Kosakata Dasar

Untuk mengungkap hubungan kekerabatan bahasa, para peneliti mengumpulkan data langsung dari penutur asli Bahasa Sahu, Gamkonora, dan Waioli di sejumlah wilayah Halmahera Barat.

Penelitian menggunakan daftar 200 kosakata dasar Swadesh yang umum dipakai dalam studi sejarah bahasa di berbagai negara. Selain kosakata dasar, peneliti juga mengumpulkan kata ganti, angka, frasa, dan kalimat dari masyarakat setempat.

Data kemudian dibandingkan untuk melihat kesamaan bentuk kata, perubahan bunyi, serta pola perkembangan bahasa dari masa ke masa.

Metode ini memungkinkan peneliti menelusuri apakah beberapa bahasa memiliki asal-usul yang sama dan seberapa dekat hubungan kekerabatannya.

Ditemukan Pola Perubahan Bunyi yang Konsisten

Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perubahan bunyi yang teratur antara ketiga bahasa tersebut.

Salah satu contoh yang ditemukan adalah perubahan bunyi huruf "k" pada Bahasa Sahu menjadi bunyi "g" pada Bahasa Gamkonora dan Waioli. Selain itu, terdapat pula perubahan bunyi "r" menjadi "l" dalam sejumlah kosakata yang memiliki makna sama.

Pola perubahan yang konsisten seperti ini merupakan salah satu indikator penting bahwa bahasa-bahasa tersebut berkembang dari sumber yang sama.

Peneliti juga menemukan karakteristik unik pada Bahasa Waioli. Bahasa ini sering menambahkan bunyi vokal di akhir kata yang tidak ditemukan pada Bahasa Sahu maupun Gamkonora.

Sebagai contoh, beberapa kata yang berakhir dengan konsonan dalam Bahasa Sahu dan Gamkonora berubah menjadi kata yang berakhiran vokal dalam Bahasa Waioli. Fenomena linguistik ini dikenal sebagai paragoge, yaitu penambahan bunyi pada akhir kata.

Selain itu, Bahasa Waioli menunjukkan inovasi lain berupa penambahan bunyi di awal maupun di tengah kata, yang membedakannya dari dua bahasa lainnya.

Tingkat Kekerabatan Mencapai 71 Persen

Temuan paling penting dari penelitian ini berasal dari perhitungan statistik kosakata yang menunjukkan tingkat hubungan kekerabatan yang cukup tinggi.

Hasil analisis menunjukkan:

  • Bahasa Sahu dan Waioli memiliki kesamaan kosakata sebesar 71 persen.
  • Bahasa Sahu dan Gamkonora memiliki kesamaan kosakata sebesar 64 persen.
  • Bahasa Waioli dan Gamkonora memiliki kesamaan kosakata sebesar 65 persen.

Menurut klasifikasi linguistik historis, tingkat kesamaan antara 37 hingga 80 persen menempatkan bahasa-bahasa tersebut dalam kategori "keluarga bahasa".

Dengan demikian, ketiga bahasa tersebut terbukti memiliki hubungan genealogis yang kuat dan berasal dari satu bahasa leluhur yang sama.

Penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan paling dekat ditemukan antara Bahasa Sahu dan Waioli. Kedekatan ini tidak hanya terlihat dari kosakata, tetapi juga didukung oleh faktor geografis karena sebagian wilayah penutur Waioli berada di kawasan yang berdekatan dengan komunitas penutur Sahu.

Penting untuk Pelestarian Bahasa Daerah

Temuan ini memiliki arti penting bagi upaya pelestarian bahasa daerah di Maluku Utara.

Menurut para peneliti, bukti ilmiah mengenai hubungan kekerabatan bahasa dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan lembaga kebahasaan untuk memperbarui pemetaan bahasa daerah yang selama ini masih menyisakan perbedaan interpretasi.

Selain itu, hasil penelitian dapat digunakan sebagai landasan penyusunan program revitalisasi bahasa lokal, terutama karena beberapa bahasa di wilayah tersebut menghadapi ancaman penurunan jumlah penutur. Salah satu contohnya adalah Bahasa Ibo yang sebelumnya telah dinyatakan hampir punah.

Rahma Do Subuh dan tim peneliti Universitas Khairun menegaskan bahwa dokumentasi dan penelitian berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga warisan linguistik masyarakat Halmahera Barat agar tetap bertahan di tengah perubahan sosial dan globalisasi.

Pengetahuan mengenai asal-usul bahasa juga membantu masyarakat memahami sejarah budaya mereka sekaligus memperkuat identitas lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Profil Penulis

Ety Duwila merupakan akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun dengan fokus kajian linguistik dan bahasa daerah Maluku Utara.

Farida Maricar adalah dosen dan peneliti pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun yang menekuni bidang linguistik dan kebahasaan.

Rahma Do Subuh merupakan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun yang aktif melakukan penelitian bahasa daerah, linguistik historis, dan pelestarian bahasa lokal di Maluku Utara.

Agus Supriyadi adalah akademisi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Khairun yang memiliki perhatian pada bidang pendidikan dan pengembangan bahasa daerah.

Sumber Penelitian

Duwila, E., Maricar, F., Subuh, R. D., & Supriyadi, A. (2026). Historical Relationship of the Sahu, Gamkonora, and Waioli Languages in West Halmahera, North Maluku. Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 6, 1671–1686.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i6.97

Posting Komentar

0 Komentar