Model Simulasi Ungkap Cara Terbaik Menjaga Ketersediaan Pupuk di Sulawesi
Penelitian Universitas Negeri Makassar menemukan strategi stok pengaman yang mampu menjaga pasokan pupuk tetap stabil meski terjadi keterlambatan kapal dan cuaca ekstrem.
Distribusi pupuk di Sulawesi menghadapi tantangan besar akibat ketergantungan pada transportasi laut. Keterlambatan kapal, antrean pelabuhan, dan cuaca buruk sering menghambat pengiriman pupuk ke berbagai daerah. Kondisi ini dapat memicu kelangkaan pupuk di tingkat petani dan mengganggu produktivitas sektor pertanian.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang terdiri dari Fahri Anwar, Nurlaela, Andi Muadz Palerangi, dan Achmad Romadin mengembangkan model simulasi berbasis System Dynamics guna menentukan kebijakan persediaan pupuk yang paling efektif di tengah ketidakpastian waktu pengiriman.
Hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) menunjukkan bahwa strategi persediaan yang seimbang mampu menjaga ketersediaan pupuk sekaligus mengendalikan biaya penyimpanan.
Distribusi Pupuk Rentan Gangguan Transportasi Laut
Sebagai pulau terbesar keempat di Indonesia, Sulawesi memiliki kondisi geografis yang kompleks dengan wilayah pegunungan dan garis pantai yang panjang. Distribusi logistik antardaerah sangat bergantung pada jalur laut.
Menurut para peneliti, masalah utama dalam distribusi pupuk bukan hanya perubahan permintaan, melainkan ketidakpastian waktu pengiriman atau lead time. Kapal yang terlambat tiba dapat menyebabkan stok gudang menurun drastis sehingga meningkatkan risiko kekurangan pupuk di daerah tujuan.
Dalam sistem distribusi modern, ketersediaan produk menjadi indikator penting keberhasilan rantai pasok. Karena itu, perusahaan maupun pemerintah membutuhkan kebijakan persediaan yang mampu mengantisipasi gangguan distribusi sebelum terjadi.
Menggabungkan Perhitungan Statistik dan Simulasi Dinamis
Penelitian ini menggunakan pendekatan yang menggabungkan metode statistik pengendalian persediaan dengan simulasi dinamis menggunakan perangkat lunak Vensim.
Model yang dikembangkan memasukkan berbagai faktor yang memengaruhi distribusi pupuk, antara lain:
- Keterlambatan kapal pengangkut.
- Kepadatan aktivitas di pelabuhan.
- Gangguan cuaca ekstrem.
- Tingkat permintaan pupuk.
- Kapasitas persediaan gudang.
Tim peneliti kemudian menguji tiga skenario kebijakan persediaan berdasarkan target tingkat pelayanan (service level) yang berbeda.
Skenario pertama menargetkan tingkat pelayanan 99 persen, skenario kedua 95 persen, dan skenario ketiga 90 persen.
Tujuannya adalah mengetahui seberapa besar stok pengaman (safety stock) yang dibutuhkan serta dampaknya terhadap biaya penyimpanan dan risiko kekurangan stok.
Stok Pengaman Harus Naik Saat Risiko Gangguan Meningkat
Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan stok pengaman meningkat secara signifikan ketika perusahaan ingin mempertahankan tingkat pelayanan yang lebih tinggi.
Pada skenario pertama, kebutuhan stok pengaman berkisar antara 872 hingga 916 unit.
Pada skenario kedua, kebutuhan tersebut meningkat menjadi sekitar 1.121 hingga 1.177 unit.
Sementara pada skenario ketiga, stok pengaman mencapai sekitar 1.588 hingga 1.668 unit.
Secara rata-rata:
- Skenario kedua membutuhkan stok pengaman sekitar 28 persen lebih tinggi dibanding skenario pertama.
- Skenario ketiga membutuhkan stok pengaman sekitar 42 persen lebih tinggi dibanding skenario kedua.
Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi target keandalan distribusi, semakin besar pula cadangan stok yang harus disediakan untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman.
Menurut tim peneliti, stok pengaman berfungsi sebagai bantalan yang menjaga sistem distribusi tetap berjalan ketika terjadi gangguan transportasi.
Titik Pemesanan Ulang Relatif Stabil
Menariknya, penelitian menemukan bahwa nilai reorder point atau titik pemesanan ulang tidak berubah secara signifikan antar skenario.
Perbedaan nilai reorder point di antara ketiga skenario tercatat kurang dari 3 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa besarnya kebutuhan pupuk selama masa tunggu pengiriman lebih berpengaruh terhadap keputusan pemesanan ulang dibandingkan perubahan stok pengaman.
Dengan kata lain, volume permintaan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kapan gudang harus melakukan pemesanan kembali.
Biaya Penyimpanan Naik, Tetapi Tidak Terlalu Besar
Penelitian juga mengevaluasi dampak ekonomi dari setiap kebijakan persediaan.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan stok pengaman memang menyebabkan biaya penyimpanan naik, tetapi kenaikannya relatif kecil.
Rata-rata biaya penyimpanan meningkat:
- Sekitar 0,98 persen pada skenario kedua dibanding skenario pertama.
- Sekitar 2,93 persen pada skenario ketiga dibanding skenario pertama.
Meski secara persentase terlihat kecil, peneliti mengingatkan bahwa akumulasi biaya tersebut dapat menjadi signifikan jika dihitung dalam skala tahunan.
Karena itu, kebijakan persediaan harus mempertimbangkan keseimbangan antara biaya dan tingkat keandalan distribusi.
Strategi Seimbang Menjadi Pilihan Terbaik
Dari ketiga skenario yang diuji, skenario kedua dinilai paling realistis dan layak diterapkan dalam jangka panjang.
Strategi ini mampu menjaga tingkat pelayanan sekitar 95 persen dengan kenaikan biaya yang relatif rendah.
Sebaliknya, skenario pertama memang memberikan perlindungan paling tinggi terhadap risiko gangguan distribusi, tetapi membutuhkan stok cadangan yang lebih besar.
Sementara itu, skenario ketiga yang menerapkan pendekatan persediaan lebih ramping (lean logistics) justru meningkatkan risiko kekurangan stok ketika terjadi gangguan pengiriman.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kebijakan persediaan yang terlalu hemat dapat menjadi masalah dalam lingkungan distribusi yang sangat bergantung pada transportasi laut.
Implikasi bagi Pemerintah dan Industri
Temuan ini memberikan masukan penting bagi pemerintah, produsen pupuk, distributor, dan pengelola logistik.
Peneliti merekomendasikan agar pemangku kepentingan menerapkan kebijakan persediaan seimbang sebagai strategi utama distribusi pupuk di Sulawesi.
Selain itu, sistem distribusi perlu diperkuat melalui pemantauan real-time terhadap:
- Prakiraan cuaca.
- Tingkat kepadatan pelabuhan.
- Jadwal kedatangan kapal.
- Potensi gangguan logistik lainnya.
Integrasi data tersebut memungkinkan penyesuaian stok pengaman secara dinamis sehingga risiko kelangkaan pupuk dapat ditekan lebih dini.
Menurut Nurlaela dan rekan-rekannya dari Universitas Negeri Makassar, pendekatan berbasis simulasi dinamis dapat membantu pengambil keputusan menemukan keseimbangan terbaik antara biaya distribusi dan ketahanan rantai pasok.
Profil Penulis
Fahri Anwar — Peneliti bidang manajemen rantai pasok dan sistem distribusi, Universitas Negeri Makassar.
Nurlaela — Akademisi dan peneliti Universitas Negeri Makassar, berfokus pada manajemen operasi, logistik, dan optimasi sistem distribusi.
Andi Muadz Palerangi — Dosen dan peneliti Universitas Negeri Makassar dengan minat penelitian pada pemodelan sistem dan manajemen industri.
Achmad Romadin — Peneliti Universitas Negeri Makassar yang menekuni bidang manajemen logistik dan pengambilan keputusan berbasis data.
Sumber Penelitian
Anwar, F., Nurlaela, Palerangi, A. M., & Romadin, A. (2026). “System Dynamics Modeling for Safety Stock Optimization Under Lead Time Uncertainty in Fertilizer Distribution: A Case Study in South Sulawesi.”
Dipublikasikan dalam International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4 No. 5, 2026, halaman 487–500.
0 Komentar