Komplikasi Radioterapi yang Mengancam Nutrisi Pasien
Pengobatan kanker payudara stadium lanjut sering kali membutuhkan kombinasi terapi yang agresif, termasuk pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi di area dada
Kondisi fibrosis ini memicu penyempitan abnormal pada saluran esofagus yang secara medis dikenal sebagai RIES
Kondisi penyempitan saluran kerongkongan akibat radiasi ini menyebabkan penurunan kemampuan menelan atau disfagia yang sangat menyiksa pasien
Tantangan Metode Konvensional dan Kronologi Kasus
Dalam praktik kedokteran umum, penanganan lini pertama untuk mengatasi penyempitan kerongkongan adalah tindakan pelebaran saluran menggunakan balon medis (Controlled Radial Expansion balloon dilation) atau busi
Penelitian dari Universitas Airlangga ini mendokumentasikan secara rinci perjalanan klinis seorang pasien wanita berusia 47 tahun dengan kanker payudara stadium IV yang telah menyebar ke organ hati
Tim dokter spesialis di UNAIR segera melakukan evaluasi menyeluruh menggunakan prosedur endoskopi saluran cerna bagian atas (Esophagogastroduodenoscopy / EGD)
- Pelebaran Balon Pertama: Tindakan pelebaran awal berhasil memperluas saluran kerongkongan dan mengembalikan fungsi menelan pasien sementara waktu, sehingga pasien diizinkan pulang
. Namun, dalam hitungan minggu, penyempitan kembali terjadi secara agresif . - Pelebaran Kedua dan Injeksi Steroid: Tim dokter melakukan endoskopi ulang dan menerapkan kombinasi pelebaran balon pneumatik disertai suntikan obat kortikosteroid langsung ke dalam jaringan parut (intralesional)
. Terapi kombinasi ini bertujuan untuk menenangkan produksi kolagen dan mencegah pembentukan parut baru . Sayangnya, efikasinya tetap terbatas dan gejala disfagia kembali kambuh dengan cepat . - Komplikasi Sekunder: Akibat kondisi penyempitan yang persisten dan tekanan balik saluran, pasien sempat mengalami sesak napas akut dan didiagnosis mengalami kondisi darurat akumulasi udara dan cairan di rongga dada (tension pneumothorax), yang segera ditangani dengan pemasangan selang dada (chest tube)
.
Efikasi Stent Logam Mandiri (SEMS) Sebagai Solusi Akhir
Menghadapi kondisi penyempitan yang membandel (refraktori) tersebut, tim medis multidisiplin Universitas Airlangga mengambil keputusan krusial untuk beralih ke teknologi kedokteran mutakhir, yaitu pemasangan stent logam ekspansi mandiri (SEMS)
Sebuah piranti stent logam berselubung penuh (Wallflex fully covered SEMS) berukuran diameter 23 mm dan panjang 125 mm dipasang melintasi segmen kerongkongan yang menyempit tersebut
Hasil pasca-prosedur menunjukkan keberhasilan yang memuaskan
Dampak Klinis dan Manfaat Bagi Kebijakan Kesehatan
Penelitian laporan kasus ini membawa implikasi besar bagi dunia medis dan kebijakan pelayanan kesehatan, khususnya di Indonesia. Publikasi dari akademisi UNAIR ini menegaskan bahwa penggunaan fully covered SEMS harus dipertimbangkan lebih awal sebagai strategi terapeutik yang andal pada kasus penyempitan kerongkongan akibat radiasi jika tindakan pelebaran balon pertama terbukti gagal memberikan hasil yang langgeng
Penggunaan jenis stent yang tertutup penuh (fully covered) terbukti lebih unggul dibandingkan jenis stent plastik atau stent terbuka sebagian, karena lapisan khususnya mampu mencegah tumbuhnya jaringan parut ke dalam rongga stent, sekaligus memudahkan tim dokter untuk melepas atau mengevaluasi kembali stent tersebut di kemudian hari demi kenyamanan pasien
Profil Tim Peneliti Utama
- Bidang Keahlian: Gastroenterologi, Hepatologi, dan Endoskopi Intervensi untuk penanganan penyakit saluran cerna kompleks.
dr. Annisa Zahra Mufida Gelar/Afiliasi: Staf medis dan peneliti di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya
Sumber Penelitian Resmi
Judul Artikel Jurnal: Self-Expandable Metallic Stent Placement for Radiation-Induced Esophageal Stricture: A Case Report
Nama Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA)Tahun Publikasi: 2026
DOI Resmi:
0 Komentar