Pemasangan Stent Logam Mandiri Jadi Solusi Efektif Atasi Penyempitan Kerongkongan Pasca-Radioterapi

Gambbar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Sebuah tim peneliti dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sukses mempublikasikan sebuah terobosan klinis dalam menangani komplikasi lanjut pasca-radioterapi berupa penyempitan kerongkongan yang parah atau Radiation-Induced Esophageal Stricture (RIES). Laporan ilmiah yang dirilis dalam Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA) edisi Volume 5 Tahun 2026 ini dipimpin oleh dr. Annisa Zahra Mufida bersama sejawatnya, dr. Amie Vidyani, dr. Andi Ratna Kartika Maharani, dr. Amal Arifi Hidayat, dan dr. Titong Sugihartono. Penelitian komprehensif berskala laporan kasus ini membuktikan bahwa pemasangan stent logam ekspansi mandiri yang tertutup penuh atau Fully Covered Self-Expandable Metallic Stent (SEMS) mampu mengembalikan fungsi menelan dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara dramatis setelah metode konvensional berulang kali gagal.

Komplikasi Radioterapi yang Mengancam Nutrisi Pasien

Pengobatan kanker payudara stadium lanjut sering kali membutuhkan kombinasi terapi yang agresif, termasuk pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi di area dada. Kendati radioterapi sangat krusial untuk memusnahkan sel kanker, paparan energi radiasi tinggi di area toraks atau leher berisiko mencederai jaringan sehat di sekitarnya. Salah satu efek samping jangka panjang yang paling ditakuti adalah inflamasi kronis dan fibrosis pada dinding kerongkongan.

Kondisi fibrosis ini memicu penyempitan abnormal pada saluran esofagus yang secara medis dikenal sebagai RIES. Penyempitan ini biasanya mulai bermanifestasi secara progresif dalam waktu enam bulan setelah radioterapi selesai. Secara statistik, risiko pembentukan jaringan parut ini berada di bawah 2% untuk dosis radiasi di bawah 50 Gy, namun melonjak drastis hingga mencapai sekitar 15% ketika pasien menerima paparan radiasi dosis 60 Gy.

Kondisi penyempitan saluran kerongkongan akibat radiasi ini menyebabkan penurunan kemampuan menelan atau disfagia yang sangat menyiksa pasien. Pola penurunan kemampuan ini biasanya bermula dari kesulitan menelan makanan padat, yang secara bertahap memburuk hingga pasien sama sekali tidak bisa menelan makanan lunak bahkan cairan. Hal ini berdampak langsung pada penurunan drastis asupan nutrisi dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.

Tantangan Metode Konvensional dan Kronologi Kasus

Dalam praktik kedokteran umum, penanganan lini pertama untuk mengatasi penyempitan kerongkongan adalah tindakan pelebaran saluran menggunakan balon medis (Controlled Radial Expansion balloon dilation) atau busi. Kendati demikian, pada penyempitan yang disebabkan oleh radioterapi, jaringan parut yang terbentuk cenderung sangat kaku dan elastis, sehingga angka kekambuhan setelah prosedur pelebaran balon sangatlah tinggi.

Penelitian dari Universitas Airlangga ini mendokumentasikan secara rinci perjalanan klinis seorang pasien wanita berusia 47 tahun dengan kanker payudara stadium IV yang telah menyebar ke organ hati. Pasien tersebut memiliki riwayat operasi pengangkatan payudara (modified radical mastectomy) yang diikuti dengan 36 sesi radioterapi intensif dua tahun sebelumnya. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan utama tidak mampu menelan makanan atau cairan selama tiga bulan terakhir, hingga tubuhnya mengalami malnutrisi.

Tim dokter spesialis di UNAIR segera melakukan evaluasi menyeluruh menggunakan prosedur endoskopi saluran cerna bagian atas (Esophagogastroduodenoscopy / EGD). Hasil peneropongan mendeteksi adanya penyempitan esofagus sepanjang 4 cm yang terletak pada jarak 25–30 cm dari gigi seri pasien. Langkah awal penanganan yang dilakukan tim medis meliputi:

  1. Pelebaran Balon Pertama: Tindakan pelebaran awal berhasil memperluas saluran kerongkongan dan mengembalikan fungsi menelan pasien sementara waktu, sehingga pasien diizinkan pulang. Namun, dalam hitungan minggu, penyempitan kembali terjadi secara agresif.
  2. Pelebaran Kedua dan Injeksi Steroid: Tim dokter melakukan endoskopi ulang dan menerapkan kombinasi pelebaran balon pneumatik disertai suntikan obat kortikosteroid langsung ke dalam jaringan parut (intralesional). Terapi kombinasi ini bertujuan untuk menenangkan produksi kolagen dan mencegah pembentukan parut baru. Sayangnya, efikasinya tetap terbatas dan gejala disfagia kembali kambuh dengan cepat.
  3. Komplikasi Sekunder: Akibat kondisi penyempitan yang persisten dan tekanan balik saluran, pasien sempat mengalami sesak napas akut dan didiagnosis mengalami kondisi darurat akumulasi udara dan cairan di rongga dada (tension pneumothorax), yang segera ditangani dengan pemasangan selang dada (chest tube).

Efikasi Stent Logam Mandiri (SEMS) Sebagai Solusi Akhir

Menghadapi kondisi penyempitan yang membandel (refraktori) tersebut, tim medis multidisiplin Universitas Airlangga mengambil keputusan krusial untuk beralih ke teknologi kedokteran mutakhir, yaitu pemasangan stent logam ekspansi mandiri (SEMS). Prosedur intervensi ini dilakukan di ruang operasi dengan panduan visual radiologi langsung (fluoroskopi) untuk memastikan presisi letak alat.

Sebuah piranti stent logam berselubung penuh (Wallflex fully covered SEMS) berukuran diameter 23 mm dan panjang 125 mm dipasang melintasi segmen kerongkongan yang menyempit tersebut. Mekanisme kerja utama SEMS adalah memberikan daya dorong radial secara konstan dan berkesinambungan pada dinding saluran esofagus. Tekanan konstan ini merangsang proses renovasi jaringan parut secara internal, sehingga patensi atau keterbukaan lubang kerongkongan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Hasil pasca-prosedur menunjukkan keberhasilan yang memuaskan. Stent mengembang dengan sempurna pada posisi yang direncanakan tanpa memicu robekan organ. Segera setelah pemasangan SEMS, kemampuan menelan pasien langsung pulih signifikan, memungkinkannya kembali mengonsumsi makanan secara oral, memperbaiki status nutrisi, dan mengeliminasi kebutuhan pasien untuk menjalani prosedur pelebaran balon berulang yang berisiko tinggi.

Dampak Klinis dan Manfaat Bagi Kebijakan Kesehatan

Penelitian laporan kasus ini membawa implikasi besar bagi dunia medis dan kebijakan pelayanan kesehatan, khususnya di Indonesia. Publikasi dari akademisi UNAIR ini menegaskan bahwa penggunaan fully covered SEMS harus dipertimbangkan lebih awal sebagai strategi terapeutik yang andal pada kasus penyempitan kerongkongan akibat radiasi jika tindakan pelebaran balon pertama terbukti gagal memberikan hasil yang langgeng.

Penggunaan jenis stent yang tertutup penuh (fully covered) terbukti lebih unggul dibandingkan jenis stent plastik atau stent terbuka sebagian, karena lapisan khususnya mampu mencegah tumbuhnya jaringan parut ke dalam rongga stent, sekaligus memudahkan tim dokter untuk melepas atau mengevaluasi kembali stent tersebut di kemudian hari demi kenyamanan pasien. Pemantauan klinis yang ketat dan personalisasi penanganan tetap menjadi kunci utama untuk meminimalkan potensi risiko sekunder seperti pergeseran letak stent (migrasi) atau rasa tidak nyaman di area dada.

Profil Tim Peneliti Utama

    dr. Annisa Zahra Mufida Gelar/Afiliasi: Staf medis dan peneliti di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya.

  • Bidang Keahlian: Gastroenterologi, Hepatologi, dan Endoskopi Intervensi untuk penanganan penyakit saluran cerna kompleks.
Rekan Peneliti (Afiliasi Universitas Airlangga): dr. Amie Vidyani, Dr. Andi Ratna Kartika Maharani, dr. Amal Arifi Hidayat, dan dr. Titong Sugihartono. Kelompok peneliti ini aktif dalam pengembangan inovasi klinis berbasis bukti di bidang tata laksana gangguan pencernaan dan gastroenterologi analitik.

Sumber Penelitian Resmi

Judul Artikel Jurnal: Self-Expandable Metallic Stent Placement for Radiation-Induced Esophageal Stricture: A Case Report

Nama Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA)
Tahun Publikasi: 2026
DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/ajha.v5i1.15847

Posting Komentar

0 Komentar