Menganalisis Dampak Intensitas Penggunaan AI Generatif terhadap Burnout dan Kepuasan Kerja Karyawan di Lingkungan Kerja Hybrid

Ilustasi by AI

Intensitas Penggunaan Generative AI Terbukti Kurangi Burnout dan Tingkatkan Kepuasan Kerja

FORMOSA NEWS – Penggunaan teknologi Generative Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT dan Copilot semakin menjadi bagian dari aktivitas kerja sehari-hari. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa semakin intens karyawan menggunakan Generative AI dalam lingkungan kerja hybrid, semakin rendah tingkat burnout yang mereka alami dan semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Applied Economics, Accounting and Management (IJAEAM) tahun 2026 melalui artikel berjudul “Examining the Impact of Generative AI Usage Intensity on Employee Burnout and Job Satisfaction in Hybrid Work Environments”. Penelitian dilakukan oleh R. Abdul Haris dari Universitas Panca Marga, Faizah Syihab dari Universitas Trilogi, dan Aminuddin dari Universitas Islam Sumatera Utara.

Studi ini menjadi penting karena dunia kerja pascapandemi semakin mengandalkan model kerja hybrid yang menggabungkan pekerjaan dari kantor dan dari rumah. Pada saat yang sama, penggunaan teknologi AI generatif berkembang sangat cepat dan mulai memengaruhi cara karyawan menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

AI Mengubah Cara Karyawan Bekerja

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan di berbagai sektor mulai mengintegrasikan AI untuk membantu penyusunan dokumen, analisis data, pembuatan laporan, hingga komunikasi bisnis. Kehadiran teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mengubah pola kerja dan pengalaman karyawan.

Meski demikian, para peneliti menilai masih sedikit penelitian yang secara khusus mengkaji dampak psikologis dari intensitas penggunaan AI terhadap kesejahteraan pekerja. Sebagian besar studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada produktivitas dan otomatisasi.

Karena itu, tim peneliti mencoba menjawab pertanyaan penting: apakah penggunaan AI yang lebih intens membuat pekerjaan semakin menekan, atau justru membantu mengurangi stres kerja?

Survei terhadap 120 Karyawan Hybrid di Jawa Timur

Untuk mendapatkan jawabannya, para peneliti melakukan survei terhadap 120 karyawan yang bekerja dalam sistem hybrid di Jawa Timur. Seluruh responden merupakan pekerja aktif yang telah menggunakan Generative AI dalam aktivitas pekerjaan mereka.

Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang disebarkan secara daring. Penelitian kemudian menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengukur hubungan antara intensitas penggunaan AI, tingkat burnout, dan kepuasan kerja.

Rata-rata tingkat penggunaan Generative AI di kalangan responden tergolong tinggi dengan skor 4,12 dari 5. Sementara itu, tingkat burnout berada pada skor 2,31, menunjukkan kondisi kelelahan kerja yang relatif rendah. Di sisi lain, kepuasan kerja memperoleh skor 4,05, yang menunjukkan tingkat kepuasan yang cukup tinggi.

Burnout Menurun Saat Penggunaan AI Meningkat

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah adanya hubungan negatif yang signifikan antara penggunaan AI dan burnout.

Hasil analisis menunjukkan koefisien regresi sebesar -0,452, yang berarti semakin tinggi intensitas penggunaan Generative AI, semakin rendah tingkat burnout yang dialami karyawan.

Menurut para peneliti, AI membantu mengurangi beban kerja melalui otomatisasi tugas-tugas rutin dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Dengan demikian, karyawan dapat mengalokasikan energi mereka untuk pekerjaan yang lebih strategis dan bernilai tambah.

Temuan ini menarik karena berbeda dengan sebagian penelitian sebelumnya yang menyoroti risiko technostress atau stres akibat penggunaan teknologi yang berlebihan.

Dalam konteks kerja hybrid di Indonesia, Generative AI justru berfungsi sebagai alat bantu yang membantu pekerja mengelola tekanan kerja secara lebih efektif.

Kepuasan Kerja Ikut Meningkat

Selain menurunkan burnout, penelitian juga menemukan bahwa penggunaan AI secara intens berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja.

Koefisien regresi sebesar 0,538 menunjukkan bahwa semakin sering karyawan memanfaatkan Generative AI, semakin tinggi tingkat kepuasan kerja mereka.

AI membantu mempercepat penyelesaian tugas, mengurangi pekerjaan yang monoton, serta memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam mengatur pekerjaan.

Karyawan merasa lebih produktif dan memiliki kontrol yang lebih baik terhadap tugas yang mereka kerjakan. Hal ini menciptakan pengalaman kerja yang lebih positif dan meningkatkan persepsi terhadap lingkungan kerja secara keseluruhan.

Para peneliti menilai bahwa Generative AI bukan hanya alat produktivitas, tetapi juga teknologi yang mampu mendukung kesejahteraan psikologis pekerja.

Model Kerja Hybrid Memperkuat Manfaat AI

Penelitian ini juga menyoroti peran lingkungan kerja hybrid sebagai faktor yang memperkuat dampak positif AI.

Meskipun variabel hybrid work tidak diuji secara statistik sebagai moderator, hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas yang diberikan sistem kerja hybrid memungkinkan karyawan memanfaatkan AI secara lebih optimal.

Kombinasi antara teknologi cerdas dan fleksibilitas kerja menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan karyawan.

Menurut penulis, sinergi antara AI dan sistem kerja hybrid berpotensi menjadi model kerja masa depan yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja.

Implikasi bagi Perusahaan dan Dunia Kerja

Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi perusahaan yang sedang menjalankan transformasi digital.

Alih-alih hanya memandang AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, perusahaan juga perlu melihat teknologi ini sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pengalaman kerja karyawan.

Para peneliti merekomendasikan agar organisasi:

  • Mengintegrasikan Generative AI secara strategis dalam proses kerja.
  • Menyediakan pelatihan dan peningkatan literasi digital bagi karyawan.
  • Menyusun kebijakan kerja hybrid yang jelas dan fleksibel.
  • Menjaga keseimbangan antara target kinerja dan kesejahteraan pekerja.
  • Memastikan penggunaan AI mendukung, bukan membebani, aktivitas kerja.

Pendekatan tersebut diyakini dapat menciptakan sistem kerja yang lebih berkelanjutan dan mampu meningkatkan daya saing organisasi di era digital.

Profil Penulis

Dr. R. Abdul Haris merupakan akademisi dari Universitas Panca Marga yang memiliki fokus penelitian pada manajemen sumber daya manusia, transformasi digital, dan perilaku organisasi.

Faizah Syihab, M.M. adalah peneliti dari Universitas Trilogi yang menaruh perhatian pada bidang manajemen, inovasi organisasi, dan teknologi dalam lingkungan kerja modern.

Aminuddin, M.M. berasal dari Universitas Islam Sumatera Utara dengan bidang keahlian manajemen sumber daya manusia, pengembangan organisasi, dan digital workplace.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Examining the Impact of Generative AI Usage Intensity on Employee Burnout and Job Satisfaction in Hybrid Work Environments

Penulis: R. Abdul Haris, Faizah Syihab, Aminuddin

Jurnal: International Journal of Applied Economics, Accounting and Management (IJAEAM)

Volume dan Tahun: Vol. 4 No. 3, 2026, halaman 167–180

DOI: 10.59890/ijaeam.v4i3.176

URL: https://doi.org/10.59890/ijaeam.v4i3.176

Posting Komentar

0 Komentar