Masih Ampuh, Dividen Jadi Sinyal Terkuat Prediksi Harga Saham Unggulan LQ45 di Bursa Efek Indonesia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Di tengah dinamisnya pasar modal Indonesia pasca-pandemi, investor kerap dihadapkan pada ketidakpastian dalam menilai harga wajar saham pemimpin pasar. Menjawab tantangan tersebut, sebuah penelitian terbaru yang dirilis pada Mei 2026 mengevaluasi efektivitas model penilaian saham di Indonesia. Riset kolaboratif ini digawangi oleh Icha Mustamin dari Politeknik Indonesia, bersama Amiruddin dan Darmawati dari Universitas Hasanuddin, serta Endang Sriningsih dari Universitas Teknologi Akba.

Mereka menemukan bahwa pembagian dividen tunai masih menjadi jangkar utama psikologis pasar dalam menentukan pergerakan harga saham perusahaan-perusahaan liquid dalam indeks LQ45. Hasil ini sangat krusial bagi para pelaku pasar untuk menyaring strategi investasi terbaik demi meminimalkan risiko di tengah fluktuasi pasar.

Dilema Dividen Versus Laba Ditahan di Pasar Berkembang

Pasar modal di negara berkembang seperti Indonesia memiliki karakteristik unik yang sangat dinamis. Banyak emiten besar yang tergabung dalam indeks LQ45 mulai mengubah kebijakan pengelolaan keuntungan mereka, seperti menahan laba atau melakukan aksi beli kembali saham (share buyback) alih-alih membagikannya sebagai dividen rutin. Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan analisis keuangan: apakah formula tradisional berbasis dividen masih relevan, ataukah model modern berbasis laba bersih jauh lebih akurat?

Secara teoretis, ada dua model populer yang sering diadu. Pertama adalah Dividend Discount Model (DDM), metode klasik yang meyakini nilai riil saham murni berasal dari arus dividen masa depan. Kedua adalah Residual Income Valuation (RIV), model yang lebih menitikberatkan pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba ekonomis setelah dikurangi biaya modal, dinilai cocok untuk perusahaan yang jarang membagikan dividen. Melalui riset ini, para peneliti menguji model mana yang paling sakti diterapkan pada saham-saham LQ45.

Menyisir Data Keuangan Saham Blue Chip dengan Statistik

Untuk membuktikannya, tim peneliti menggunakan desain penelitian kuantitatif komparatif. Mereka mengumpulkan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan dan pergerakan harga saham dari emiten yang konsisten masuk dalam indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia.

Sampel dipilih menggunakan metode purposive sampling, yakni menyaring emiten yang memiliki data laporan keuangan super lengkap sepanjang periode pengamatan, mencakup catatan laba bersih, nilai buku ekuitas, dividen per saham, hingga harga penutupan pasar. Data-data angka tersebut kemudian diolah secara komputerisasi menggunakan perangkat lunak statistik SPSS melalui pendekatan analisis regresi linear berganda. Keakuratan prediksi dari kedua model akhir diukur menggunakan indikator pembanding Mean Absolute Percentage Error (MAPE) dan Root Mean Square Error (RMSE).

Temuan Utama: Efek Dominan Dividen Per Saham

Analisis data menunjukkan hasil yang menarik bagi lanskap investasi tanah air:

  • Daya Penjelas Gabungan Kuat: Secara simultan (bersama-sama), variabel laba bersih, nilai buku ekuitas, dan dividen memiliki relevansi nilai yang tinggi, mampu menjelaskan 65,8% variasi pergerakan harga saham LQ45.
  • Dividen adalah Raja: Ketika diuji secara parsial (individu), dividen per saham (dividend per share) keluar sebagai variabel paling dominan dan signifikan secara statistik memengaruhi harga saham.
  • Laba Bersih Mengejutkan Pasar: Sebaliknya, laba bersih dan nilai buku ekuitas secara mandiri justru tidak memperlihatkan pengaruh signifikan terhadap harga saham pada saat laporan dipublikasikan.

Fenomena tidak signifikannya laba bersih ini didorong oleh kecenderungan pasar di mana harga saham biasanya sudah bergerak lebih dulu mengantisipasi informasi keuntungan jauh sebelum laporan resmi diterbitkan oleh emiten (prices lead earnings). Berdasarkan performa akurasi, Dividend Discount Model (DDM) terbukti jauh lebih relevan dan memiliki daya prediksi yang lebih kuat dibandingkan model RIV dalam konteks pasar saham LQ45.

Implikasi Strategis Bagi Investor dan Kebijakan Publik

"Hasil studi ini mengindikasikan bahwa para investor di pasar modal Indonesia masih sangat bergantung pada kucuran dividen nyata sebagai sinyal utama stabilitas, komitmen manajemen, dan kualitas fundamental dari sebuah perusahaan," tulis Icha Mustamin beserta tim dalam laporan ilmiahnya.

Bagi masyarakat umum dan investor ritel, riset ini memberikan literasi finansial berharga agar tidak sekadar tergiur oleh besaran laba bersih di atas kertas, melainkan memperhatikan konsistensi emiten dalam membagikan dividen tunai. Bagi dunia usaha, temuan ini menjadi alarm bahwa kebijakan dividen sangat sensitif memengaruhi persepsi pasar dan valuasi harga saham mereka. Sementara bagi regulator bursa, data ini bisa dijadikan acuan dalam merumuskan kebijakan perlindungan investor, terutama terkait transparansi informasi akuntansi dan aturan distribusi laba perusahaan publik.

Profil Peneliti

  • Icha Mustamin, S.E., M.Si. (Penulis Utama & Korespondensi) – Akademisi dan peneliti di Politeknik Indonesia, fokus pada bidang Akuntansi Keuangan, Pasar Modal, dan Valuasi Saham.
  • Prof. Dr. Amiruddin, S.E., M.Si., Ak., CA. – Dosen dan peneliti senior di Universitas Hasanuddin, ahli di bidang Akuntansi Keuangan dan Analisis Laporan Keuangan.
  • Dr. Darmawati, S.E., M.Si., Ak. – Akademisi di Universitas Hasanuddin, fokus pada riset Akuntansi Keperilakuan, Relevansi Nilai, dan Teori Pasar Modal.
  • Endang Sriningsih, S.E., M.M. – Staf pengajar dan peneliti di Universitas Teknologi Akba, mendalami bidang Manajemen Keuangan dan Strategi Investasi.

Sumber Publikasi Ilmiah

Judul Artikel Jurnal: Comparative Analysis of the Residual Income Valuation Model and the Dividend Discounting Model in Predicting Stock Prices of LQ45 Companies

Nama Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 5, Halaman 759-770
Tahun Publikasi: 2026
DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i5.16520

Posting Komentar

0 Komentar