Ilustrasi by AI

Penelitian yang dilakukan oleh Wikha Astria Yanti dan Nurtanio Agus Purwanto dari Universitas Negeri Yogyakarta pada Juni 2026 menganalisis tata kelola program ekstrakurikuler berbasis kearifan lokal, khususnya di wilayah pesisir, guna mendukung pembentukan karakter dan identitas budaya siswa.

Latar Belakang dan Permasalahan

Program ekstrakurikuler di tingkat sekolah dasar, terutama di daerah pesisir, menuntut pendekatan yang tidak sekadar menjadi aktivitas tambahan, tetapi juga harus diarahkan pada pembentukan karakter, identitas budaya, partisipasi komunitas, dan peningkatan kualitas sekolah secara berkelanjutan. Meskipun terdapat banyak diskusi mengenai nilai-nilai lokal dan komunitas, namun keterkaitannya dengan manajemen kualitas program ekstrakurikuler di sekolah dasar belum terintegrasi dengan baik. Studi ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menyintesis bukti empiris mengenai manajemen ekstrakurikuler, budaya sekolah, kepemimpinan, dan dukungan masyarakat sebagai basis model kualitas.

Metodologi Penelitian

Studi ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan PRISMA. Data dikumpulkan dari database Scopus dengan kriteria inklusi artikel terbitan tahun 2021–2026, berupa artikel jurnal berbahasa Inggris, memiliki DOI aktif, serta berbasis data primer. Setelah proses penyaringan ketat dari 300 artikel awal, sebanyak 10 artikel terpilih untuk disintesis guna mendapatkan pemahaman mendalam mengenai manajemen program pendidikan berbasis budaya.

Temuan Utama

  • Faktor Penentu Kualitas: Kualitas program ekstrakurikuler dipengaruhi secara signifikan oleh kepemimpinan sekolah, prioritas kelembagaan, budaya sekolah, kesiapan guru, ketersediaan fasilitas, refleksi praktisi, serta keterlibatan komunitas.
  • Peran Kearifan Lokal: Kearifan lokal berfungsi sebagai sumber nilai, legitimasi sosial, dan landasan desain program yang dapat memperkuat karakter siswa.
  • Fungsi Strategis: Kegiatan nonakademik dan kokurikuler terbukti memiliki fungsi strategis dalam meningkatkan partisipasi, memperkuat identitas budaya, serta mendukung kualitas pembelajaran.
  • Pendekatan Holistik: Program yang dikelola melalui pendekatan whole-of-school, budaya sekolah yang positif, dan dukungan komunitas cenderung lebih berkelanjutan dibandingkan program yang bersifat administratif saja.

Implikasi bagi Manajemen

Para penulis menyarankan pengembangan model manajemen ekstrakurikuler dengan karakteristik berikut:

  1. Kontekstual dan Adaptif: Model harus dirancang sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, terutama bagi sekolah di wilayah pesisir yang memiliki tantangan geografis dan sosial unik.
  2. Partisipatif: Melibatkan komunitas lokal sebagai bagian dari ekosistem pendidikan untuk memastikan program mendapatkan dukungan sosial dan material.
  3. Terintegrasi: Mengintegrasikan kepemimpinan sekolah, perencanaan program, serta evaluasi dampak secara berkelanjutan terhadap karakter dan capaian belajar siswa.

Profil Penulis:

  • Wikha Astria Yanti dan Nurtanio Agus Purwanto – Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia.

Sumber Penelitian: Yanti, W. A., & Purwanto, N. A. (2026). "Quality Management of Local Wisdom-Based Extracurricular Programs in Coastal Elementary Schools: A Systematic Literature Review". International Journal of Educational Technology Research (IJETR), 4(6), 69-80.

DOI: 

https://doi.org/10.59890/ijetr.v4i2.4