Penelitian tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya tantangan lingkungan global seperti perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan berkurangnya sumber daya alam. Berbagai negara, termasuk Indonesia, membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memahami masalah lingkungan, tetapi juga mampu mengambil keputusan dan tindakan nyata untuk mendukung keberlanjutan.
Menurut para peneliti, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan antara pengetahuan lingkungan dan perilaku nyata. Banyak individu memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi belum tentu menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, penelitian ini mencoba menjelaskan bagaimana literasi lingkungan dapat diterjemahkan menjadi tindakan konkret melalui penguatan kompetensi keberlanjutan.
Melibatkan 340 Mahasiswa
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 340 mahasiswa sebagai responden. Para peserta mengisi kuesioner yang mengukur tiga aspek utama, yaitu literasi lingkungan, kompetensi berkelanjutan (sustainable competence), dan perilaku ramah lingkungan (pro-environmental behavior).
Data kemudian dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), sebuah teknik statistik yang mampu mengukur hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi lingkungan mahasiswa berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 4,18 dari 5, sementara kompetensi berkelanjutan memperoleh skor 4,12, dan perilaku ramah lingkungan mencapai 4,20.
Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar responden telah memiliki kesadaran lingkungan yang baik serta menunjukkan kecenderungan untuk melakukan tindakan yang mendukung pelestarian lingkungan.
Literasi Lingkungan Memberikan Pengaruh Sangat Kuat
Analisis statistik menunjukkan bahwa literasi lingkungan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kompetensi berkelanjutan.
Beberapa hasil utama penelitian meliputi:
- Literasi lingkungan meningkatkan kompetensi berkelanjutan dengan koefisien pengaruh β = 0,81.
- Literasi lingkungan secara langsung meningkatkan perilaku ramah lingkungan dengan koefisien β = 0,32.
- Kompetensi berkelanjutan meningkatkan perilaku ramah lingkungan dengan koefisien β = 0,64.
- Kompetensi berkelanjutan terbukti menjadi mediator yang memperkuat hubungan antara literasi lingkungan dan perilaku ramah lingkungan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki pemahaman lebih baik tentang lingkungan cenderung memiliki kemampuan lebih tinggi dalam berpikir sistemik, memecahkan masalah, mengambil keputusan berkelanjutan, serta bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
Kemampuan-kemampuan tersebut kemudian mendorong munculnya perilaku nyata yang lebih ramah lingkungan.
Sikap Peduli Lingkungan Menjadi Aspek Terkuat
Penelitian juga menemukan bahwa aspek dengan skor tertinggi dalam literasi lingkungan adalah sikap peduli terhadap lingkungan dengan nilai rata-rata 4,30.
Sementara itu, pada kompetensi berkelanjutan, dimensi yang paling kuat adalah kemampuan bertindak (action competence) dengan skor 4,20. Pada perilaku ramah lingkungan, dimensi tertinggi adalah kepedulian terhadap lingkungan dengan skor 4,28.
Sebaliknya, beberapa aspek yang masih memerlukan penguatan adalah keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan partisipasi aktif dalam kegiatan lingkungan. Meskipun tetap berada pada kategori tinggi, ketiga aspek tersebut memperoleh nilai relatif lebih rendah dibandingkan indikator lainnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup hanya meningkatkan pengetahuan. Mahasiswa juga perlu diberikan pengalaman belajar yang mendorong keterlibatan langsung dalam penyelesaian masalah lingkungan.
Penting untuk Dunia Pendidikan
Para peneliti menegaskan bahwa peningkatan literasi lingkungan harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan. Kurikulum tidak hanya perlu mengajarkan konsep-konsep ekologis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan kolaborasi.
Menurut G. Aris Wulantoro dan tim dari Universitas Negeri Jakarta, literasi lingkungan yang didukung kompetensi keberlanjutan dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan di masa depan.
Hasil penelitian ini juga memberikan masukan bagi sekolah, perguruan tinggi, serta pembuat kebijakan pendidikan untuk memperkuat program pendidikan lingkungan berbasis praktik. Kegiatan seperti proyek konservasi, pengelolaan sampah, penghematan energi, dan aksi sosial berbasis lingkungan dapat menjadi sarana efektif dalam membangun perilaku berkelanjutan.
Dampak bagi Masyarakat dan Kebijakan Publik
Temuan penelitian memiliki implikasi yang luas bagi masyarakat. Individu dengan literasi lingkungan tinggi cenderung lebih bijak dalam menggunakan sumber daya, mengurangi limbah, menghemat energi, dan berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Dalam jangka panjang, peningkatan literasi lingkungan dapat membantu menciptakan budaya masyarakat yang lebih peduli terhadap keberlanjutan. Hal ini sangat relevan dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang menempatkan pendidikan dan perlindungan lingkungan sebagai agenda utama pembangunan global.
Bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan pendidikan yang lebih berorientasi pada pembangunan kompetensi keberlanjutan, bukan sekadar transfer pengetahuan.
Profil Penulis
G. Aris Wulantoro merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Jakarta yang memiliki minat penelitian pada bidang pendidikan lingkungan, literasi lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Dr. Tuty Sariwulan adalah dosen Universitas Negeri Jakarta yang menekuni bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan studi keberlanjutan.
Hania Aminah merupakan akademisi Universitas Negeri Jakarta dengan fokus penelitian pada pendidikan, perilaku sosial, dan isu-isu keberlanjutan lingkungan.
Sumber Penelitian
Wulantoro, G. Aris., Sariwulan, Tuty., & Aminah, Hania. (2026). “Environmental Literacy as a Catalyst for Enhancing Students’ Sustainable Competence and Pro-Environmental Behavior.” Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES), Vol. 2 No. 3, 141–156.
0 Komentar