Penelitian ini menjadi penting karena fenomena fatherlessness semakin banyak ditemukan di Indonesia. Tidak hanya terjadi ketika ayah meninggal dunia atau tidak tinggal bersama keluarga, tetapi juga saat ayah hadir secara fisik namun tidak terlibat secara emosional dalam kehidupan anak. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan psikologis remaja, termasuk cara mereka memandang dan menerima diri sendiri.
Menurut data yang dikutip dalam penelitian, UNICEF pada tahun 2021 mencatat sekitar 20,9 persen anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Sementara data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan jutaan anak Indonesia hidup tanpa figur ayah dalam kesehariannya. Fenomena serupa juga ditemukan di SMK TI Telaga Nipa, tempat penelitian dilakukan, di mana sejumlah siswa tidak tinggal bersama ayah mereka akibat perceraian maupun kematian.
Dalam dunia psikologi, penerimaan diri merupakan kemampuan seseorang untuk menerima kelebihan dan kekurangannya secara realistis. Remaja yang memiliki penerimaan diri yang baik cenderung lebih percaya diri, mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial, serta memiliki kesehatan mental yang lebih stabil. Sebaliknya, rendahnya penerimaan diri dapat meningkatkan risiko munculnya masalah emosional, kesulitan sosial, hingga penurunan prestasi akademik.
Untuk memahami hubungan antara kedua faktor tersebut, Fany Sabban melibatkan seluruh siswa yang mengalami fatherlessness di SMK TI Telaga Nipa. Total terdapat 30 responden yang menjadi sampel penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar mengenai tingkat fatherlessness dan tingkat penerimaan diri, kemudian dianalisis menggunakan metode statistik Chi-Square.
Mayoritas responden berusia 16 tahun, dengan komposisi perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Dari seluruh responden, sebanyak 70 persen masuk kategori fatherlessness positif, sedangkan 30 persen lainnya berada dalam kategori fatherlessness negatif.
Pada aspek penerimaan diri, hasil penelitian menunjukkan:
Temuan paling penting muncul ketika peneliti menguji hubungan antara kedua variabel tersebut. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar p = 0,001, jauh di bawah batas statistik 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang nyata antara kondisi fatherlessness dan tingkat penerimaan diri siswa.
Siswa yang mengalami fatherlessness positif lebih banyak menunjukkan tingkat penerimaan diri sedang hingga baik. Sebaliknya, siswa yang mengalami fatherlessness negatif lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan penerimaan diri rendah.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa ketiadaan ayah tidak selalu berujung pada masalah psikologis yang serius. Dukungan keluarga, hubungan pertemanan yang sehat, serta kebiasaan adaptif yang dibangun sejak kecil dapat membantu remaja tetap memiliki penerimaan diri yang cukup baik meskipun tumbuh tanpa figur ayah yang utuh.
Fany Sabban menjelaskan bahwa peran ayah tidak hanya sebatas penyedia kebutuhan ekonomi keluarga. Ayah juga berfungsi sebagai sumber dukungan emosional, teladan perilaku, pemberi arahan, pelindung, sekaligus pendamping dalam proses tumbuh kembang anak. Ketika fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan optimal, perkembangan psikologis remaja berpotensi terpengaruh.
Hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, harga diri, dan kemampuan menerima diri pada masa remaja. Namun penelitian ini juga memperlihatkan bahwa faktor lingkungan sosial dapat menjadi pelindung yang membantu mengurangi dampak negatif dari fatherlessness.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga sebagai ruang dukungan psikologis bagi siswa yang menghadapi tantangan keluarga. Program konseling yang lebih sensitif terhadap kondisi keluarga siswa dinilai dapat membantu meningkatkan kesehatan mental dan kemampuan adaptasi remaja.
Selain itu, penelitian ini menjadi pengingat bagi orang tua bahwa kualitas hubungan emosional antara ayah dan anak sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan materi. Kehadiran yang aktif, komunikasi yang hangat, serta keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari anak dapat memberikan dampak positif yang besar terhadap perkembangan psikologis mereka.
Meskipun dilakukan pada jumlah responden yang terbatas dan hanya mencakup satu sekolah, hasil penelitian ini memberikan gambaran awal yang kuat mengenai pentingnya peran ayah dalam pembentukan penerimaan diri remaja. Penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas diperlukan untuk memahami faktor-faktor lain yang dapat membantu remaja berkembang secara sehat meskipun mengalami fatherlessness.
Profil Penulis
Fany Sabban merupakan akademisi dan peneliti dari STIKes Maluku Husada. Fokus kajian yang ditekuni meliputi psikologi remaja, kesehatan mental, perkembangan individu, serta faktor-faktor sosial yang memengaruhi kesejahteraan psikologis anak dan remaja.
Sumber Penelitian
Sabban, Fany. 2026. “The Relationship between Fatherlessness and Self-Acceptance Levels among Students at Telaga Nipa Information Technology Vocational School, West Seram Regency.” International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS), Vol. 4 No. 3, 2026, halaman 383–390.
0 Komentar