TANGERANG SELATAN – Industri properti di Indonesia menghadapi dinamika pasar yang sangat menantang akibat fluktuasi ekonomi global, kenaikan suku bunga bank sentral, hingga tuntutan transparansi yang semakin tinggi dari konsumen. Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, sebuah penelitian ilmiah terbaru mengungkapkan bahwa media sosial, kesadaran merek, dan persepsi harga memiliki dampak langsung terhadap minat beli konsumen, di mana faktor kepercayaan merek bertindak sebagai kunci penentu utama yang memperkuat seluruh elemen pemasaran tersebut. Riset mendalam ini dilakukan oleh Lady Yohana Kusnadi dan Hadi Aldo dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Matana University pada tahun 2026. Hasil kajian ini memberikan wawasan strategis yang krusial bagi para pengembang real estat nasional untuk menyusun strategi pemulihan penjualan yang efektif di era transformasi digital.
Latar belakang riset ini berakar pada fenomena pasar properti pascapandemi yang terekam sepanjang tahun 2023 hingga 2024. Meskipun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat pertumbuhan penjualan rumah residensial sebesar 8,5 persen, sektor ini didera tantangan berat berupa penurunan kepercayaan konsumen akibat lonjakan harga bahan baku dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang menyentuh angka 6,25 persen. Dampak dari volatilitas ini dirasakan secara nyata oleh raksasa properti seperti PT Lippo Karawaci Tbk yang mencatat penurunan volume penjualan unit hingga 12 persen, terutama pada segmen hunian vertikal dan rumah tapak kelas menengah ke atas akibat tingginya persepsi risiko di kalangan calon pembeli.
Untuk membedah preferensi konsumen di tengah situasi tersebut, Lady Yohana Kusnadi dan Hadi Aldo merancang metodologi kuantitatif eksplanatori yang berfokus pada calon pembeli properti di kawasan Jabodetabek. Data penelitian dikumpulkan secara daring melalui platform survei digital dalam rentang waktu Januari hingga Maret 2024 dengan melibatkan sebanyak 350 responden yang memenuhi kriteria spesifik, yaitu masyarakat berusia 25 hingga 50 tahun yang aktif berinteraksi dengan konten pemasaran digital properti. Seluruh data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode pemodelan persamaan struktural berbasis varians atau SEM-PLS melalui perangkat lunak SmartPLS guna menguji hubungan antarvariabel serta kekuatan efek moderasi secara akurat.
Temuan utama dari analisis data menunjukkan bahwa aktivitas pemasaran di media sosial memegang pengaruh paling dominan dalam memicu minat beli konsumen. Di era modern ini, platform visual seperti Instagram, TikTok, dan YouTube tidak lagi sekadar berfungsi sebagai katalog produk statis, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang interaktif utama bagi konsumen untuk mengevaluasi properti melalui tur virtual dan ulasan pengguna. Melalui riset ini, Lady Yohana Kusnadi dan Hadi Aldo membuktikan secara empiris bahwa interaksi digital yang kuat mampu meningkatkan keterikatan emosional calon pembeli secara signifikan.
Selain media sosial, kesadaran merek juga terbukti memberikan kontribusi positif yang konsisten terhadap minat beli masyarakat. Pengenalan merek yang kuat di tengah persaingan ketat antar-developer memberikan rasa aman awal bagi konsumen sebelum melakukan komitmen finansial jangka panjang. Sebaliknya, faktor persepsi harga ditemukan memiliki hubungan negatif terhadap minat beli, yang mencerminkan tingkat sensitivitas harga yang sangat tinggi pada segmen konsumen kelas menengah akibat tekanan inflasi sektor properti. Ketika calon pembeli merasa nominal harga yang ditawarkan terlalu tinggi tanpa adanya kejelasan nilai tambah, mereka cenderung menunda atau membatalkan niat bertransaksi.
Kontribusi paling penting dari riset yang dilakukan oleh akademisi Matana University ini terletak pada pembuktian peran kepercayaan merek sebagai variabel pemoderasi. Kepercayaan merek secara signifikan mampu memperkuat dampak positif media sosial dan kesadaran merek terhadap minat beli konsumen. Efek penguatan paling besar terjadi pada hubungan antara media sosial dan minat beli, di mana tingkat kepercayaan yang tinggi mampu melipatgandakan efektivitas promosi digital hingga 22 persen sekaligus mengikis skeptisisme netizen terhadap kampanye daring. Lebih jauh lagi, kepercayaan merek bertindak sebagai perisai penahan yang mampu meredam dampak negatif dari persepsi harga tinggi. Ketika konsumen menaruh kepercayaan penuh pada integritas, rekam jejak, dan kualitas pembangunan pengembang, sensitivitas mereka terhadap harga akan berkurang karena mereka merasa dana yang dikeluarkan sebanding dengan nilai investasi jangka panjang yang didapatkan.
Implikasi praktis dari riset ini menegaskan bahwa strategi pemotongan harga atau pemberian diskon besar-besaran oleh pengembang justru berisiko merusak citra eksklusif produk jika tidak dibarengi dengan fondasi kepercayaan yang kokoh. Lady Yohana Kusnadi dan Hadi Aldo merekomendasikan agar manajemen pengembang properti mengalihkan fokus pada penyusunan kampanye media sosial yang berbasis bukti nyata, seperti mengunggah testimoni konsumen yang terverifikasi, menyajikan laporan transparansi keuangan, serta menampilkan sertifikasi bangunan hijau. Integrasi antara konten digital yang jujur dan strategi penentuan harga yang transparan akan menjadi pilar utama bagi perusahaan real estat untuk memenangkan pasar, menjaga loyalitas konsumen, dan menghadapi volatilitas ekonomi di masa mendatang.
Profil penulis artikel ilmiah ini adalah Lady Yohana Kusnadi dan Hadi Aldo. Keduanya merupakan akademisi dan peneliti yang berafiliasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Matana University, Tangerang Selatan, Indonesia. Bidang keahlian mereka berfokus pada manajemen pemasaran, perilaku konsumen digital, dan strategi bisnis pada industri bernilai keterlibatan tinggi (high-involvement industry).
0 Komentar