Kota Sampit, Kalimantan Tengah, bukan sekadar pusat ekonomi, melainkan
panggung bagi pertunjukan multikulturalisme melalui lanskap kuliner. Penelitian
yang dilakukan oleh Erma Lestari, Kisyani Laksono, dan Syamsul Sodiq dari
Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2025 mengungkapkan bagaimana bahasa yang
tertuang dalam papan nama bisnis dan menu makanan berfungsi sebagai alat untuk
membangun identitas etnis dan kerukunan sosial. Hasil penelitian ini menjadi
penting karena memberikan perspektif baru tentang bagaimana ruang publik kota
mencerminkan realitas keberagaman masyarakat Indonesia.
Bahasa sebagai Identitas di Ruang
Publik
Dalam konteks masyarakat yang heterogen, papan nama bisnis dan menu
makanan sering dianggap sekadar informasi fungsional. Namun, bagi para peneliti
dari Universitas Negeri Surabaya, elemen-elemen tersebut merupakan teks budaya
yang sarat makna. Masalah yang sering muncul adalah bagaimana kelompok etnis
yang berbeda menegosiasikan keberadaan mereka di ruang publik kota melalui
bahasa. Tanpa pemahaman tentang peran performatif bahasa ini, kita sering
melewatkan fakta bahwa cara sebuah warung makan mempromosikan diri sebenarnya
sedang "mempertunjukkan" identitas etnis mereka di tengah masyarakat
Sampit yang majemuk.
Metodologi Visual Etnografi
Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode etnografi
visual. Data dikumpulkan sepanjang tahun 2025 melalui pengamatan langsung dan
dokumentasi terhadap berbagai teks kuliner publik, seperti papan nama warung,
menu, dan spanduk bisnis di Kota Sampit. Data tersebut kemudian dianalisis
dengan teori lanskap linguistik untuk memahami fungsi simbolik dan
representatif dari bahasa yang digunakan, serta konsep antropolinguistik
mengenai performativitas untuk melihat bagaimana bahasa tersebut "bekerja"
dalam menciptakan realitas multikultural.
Temuan Utama: Kuliner sebagai
Panggung Identitas
Penelitian ini menunjukkan bahwa lanskap linguistik kuliner di Sampit
memiliki peran yang lebih dinamis daripada sekadar pemberi informasi:
- ·
Bahasa sebagai Penanda Etnis: Penggunaan nama
etnis tertentu pada papan nama usaha bukan hanya penunjuk asal daerah,
melainkan upaya memperkuat identitas etnis di ruang publik.
- ·
Performativitas Multikultural: Bisnis kuliner di
Sampit menggunakan bahasa untuk menciptakan "panggung" di mana
masyarakat dari berbagai latar belakang budaya dapat berinteraksi secara
harmonis.
- ·
Integrasi Budaya: Terdapat kecenderungan penggunaan
bahasa yang mengintegrasikan istilah lokal dengan bahasa nasional untuk menarik
konsumen dari berbagai segmen etnis.
- ·
Ruang Negosiasi: Teks kuliner berfungsi sebagai
ruang di mana identitas lokal tetap dijaga, namun di saat yang sama terbuka
terhadap penerimaan masyarakat luas.
Dampak dan Implikasi bagi Harmoni
Sosial
Penelitian ini menegaskan bahwa lanskap linguistik di Kota Sampit
merupakan cerminan nyata dari moderasi beragama dan toleransi etnis. Erma
Lestari dan tim dari Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa melalui
bisnis kuliner, masyarakat mampu menciptakan ruang pertukaran budaya yang
damai. Implikasi dari studi ini sangat relevan bagi kebijakan tata kota yang
ramah keberagaman. Dengan memahami bahwa bisnis kuliner adalah medium
komunikasi budaya, pemerintah daerah dapat lebih menghargai identitas etnis sebagai
aset yang memperkaya lanskap sosial kota, bukan sebagai pemicu pemisahan.
Profil
Penulis:
- Erma
Lestari – Peneliti, Universitas Negeri Surabaya; bidang keahlian:
Antropolinguistik dan Linguistik Lanskap.
- Prof.
Dr. Kisyani Laksono, M.Hum. – Dosen, Universitas Negeri Surabaya; bidang
keahlian: Linguistik Budaya.
- Dr.
Syamsul Sodiq, M.Pd. – Dosen, Universitas Negeri Surabaya; bidang keahlian: Pendidikan
Bahasa dan Budaya.
Sumber
Penelitian:
Lestari, E., Laksono, K., & Sodiq, S. (2026). "Multicultural Performance in the Linguistic Landscape of Sampit City, Central Kalimantan, Indonesia (Anthropolinguistic Study)". Journal of Language Development and Linguistics (JLDL), 5(1), 79-96.
DOI: https://doi.org/10.55927/jldl.v5i1.16518
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/jldl

0 Komentar