Gen LOX-1 di Medan Terpetakan, Mayoritas Masyarakat Memiliki Variasi Genetik Heterozigot CT

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Medan - Sebuah penelitian genetik terbaru berhasil memetakan variasi gen LOX-1 pada masyarakat di Kota Medan, Sumatra Utara. Riset yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini dilakukan oleh dua peneliti asal Indonesia, yaitu Shahrul Rahman dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Harun Al Rasyid dari Universitas Sumatera Utara.

Penelitian ini menjadi sangat penting karena gen LOX-1 memiliki peran krusial dalam mendeteksi risiko penyakit hati berlemak non-alkohol atau Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Penyakit ini merupakan gangguan hati kronis yang saat ini diperkirakan menyerang 20 hingga 30 persen populasi di seluruh dunia. Dengan memetakan variasi gen ini, dunia medis dapat selangkah lebih dekat dalam mendeteksi dan mengantisipasi risiko penyakit hati serta komplikasi jantung sejak dini secara lebih personal.

Hubungan Kolesterol Jahat dan Kerusakan Hati

Penyakit NAFLD dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih parah, yaitu Nonalcoholic Steatohepatitis (NASH). Kondisi ini memicu peradangan, kerusakan sel hati, hingga sirosis dan gagal hati. Selain itu, pasien yang berada pada fase ini juga berisiko tinggi terkena diabetes melitus dan penyakit jantung koroner.

Secara biologis, penumpukan kolesterol jahat yang teroksidasi (oxidized low-density lipoprotein atau oxLDL) di dalam tubuh menjadi pemicu utama peradangan sistematis ini. Reseptor LOX-1 di dalam tubuh bertugas mengikat kolesterol jahat tersebut. Namun, ketika aktivitas penyerapan kolesterol jahat ini berlebihan, sel-sel hati akan mengalami stres oksidatif, memicu kematian sel, dan mempercepat kerusakan jaringan hati. Oleh karena itu, perbedaan variasi genetik pada LOX-1 sangat memengaruhi bagaimana tubuh seseorang merespons penumpukan lemak.

Metode Pengujian Sampel Darah di Laboratorium

Dalam riset ini, tim peneliti melibatkan 35 sukarelawan dengan usia rata-rata 43 tahun, yang terdiri dari 27 perempuan dan 8 laki-laki. Untuk mendapatkan hasil yang akurat tanpa bias medis, peneliti menerapkan kriteria seleksi yang sangat ketat. Sukarelawan yang memiliki riwayat obesitas ekstrem, diabetes melitus, kolesterol tinggi (dislipidemia), gangguan tiroid, dan kelainan metabolisme tembaga dikeluarkan dari daftar subjek penelitian.

Proses pengujian dilakukan dengan mengambil sampel darah tepi dari para sukarelawan. Selanjutnya, materi genetik atau DNA diekstraksi dari sel darah putih menggunakan metode laboratorium standar (salting-out).

Untuk melihat variasi genetik LOX-1 secara spesifik pada kode 3'UTR188C/T, peneliti menggunakan teknik penggandaan DNA yang dikombinasikan dengan pemotongan enzim khusus, atau dikenal dengan metode PCR-RFLP. Hasil potongan DNA tersebut kemudian divisualisasikan menggunakan pewarnaan fluorescent di bawah sinar ultraviolet (UV) untuk menentukan jenis alel (variasi gen) yang dimiliki setiap individu. Penelitian ini juga telah mendapatkan persetujuan etik resmi dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Mayoritas Responden Memiliki Genotipe Heterozigot CT

Berdasarkan analisis genetik yang telah dilakukan, para peneliti menemukan distribusi variasi gen (genotipe) LOX-1 yang menarik pada masyarakat Medan yang menjadi sampel:

  • Genotipe CT (Heterozigot): Ditemukan pada 15 partisipan atau sekitar 43% dari total sampel.
  • Genotipe CC (Homozigot): Ditemukan pada 17 partisipan atau sekitar 49% dari total sampel.
  • Genotipe TT (Homozigot): Hanya ditemukan pada 3 partisipan atau sekitar 8% dari total sampel.

Secara keseluruhan, frekuensi kemunculan Alel C (varian utama) sangat mendominasi dengan persentase mencapai 67% (ditemukan pada 47 indikator biologis), sementara Alel T (varian minor) hanya sebesar 33% (ditemukan pada 23 indikator biologis). Hal ini menunjukkan bahwa variasi campuran atau heterozigot CT merupakan varian yang paling sering dijumpai dalam kelompok studi ini.

Manfaat bagi Kebijakan Kesehatan dan Dunia Medis

Shahrul Rahman dan Harun Al Rasyid menjelaskan dalam laporannya bahwa gen LOX-1 secara tidak langsung dapat memperburuk cedera sel hati pada pasien NASH. Gen ini mengontrol keseimbangan hormon adipokin (seperti resistin dan adiponectin) yang berfungsi sebagai pengatur peradangan alami tubuh. Ketika seseorang mengonsumsi makanan tinggi lemak, variasi genetik tertentu dapat memicu lonjakan zat pro-peradangan dan menurunkan zat pelindung hati.

Penemuan ini memiliki implikasi besar bagi masa depan dunia kedokteran dan kebijakan publik di Indonesia:

  1. Pengobatan Personal (Personalized Medicine): Dokter dapat memetakan profil genetik pasien terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa rentan mereka terhadap kerusakan hati akibat pola makan tinggi lemak.
  2. Pencegahan Dini Penyakit Jantung: Karena variasi gen LOX-1 juga berkaitan dengan retensi lemak jahat di dinding pembuluh darah, hasil ini membantu mendeteksi risiko penyumbatan kardiovaskular sejak dini.
  3. Edukasi Publik Berbasis Data: Pemerintah dan institusi pendidikan dapat memanfaatkan data genetik lokal ini untuk merancang kampanye intervensi nutrisi yang lebih efektif dan tepat sasaran bagi masyarakat urban.

Profil Peneliti

Shahrul Rahman, S.Ked., M.Sc. – Dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Memiliki keahlian di bidang biokimia medis, genetika manusia, dan analisis analitik kesehatan.

Dr. dr. Harun Al Rasyid, Sp.JP(K) – Staf pengajar dan akademisi di Universitas Sumatera Utara (USU). Spesialis dalam bidang kardiologi, kedokteran vaskular, dan studi biomolekular penyakit kronis.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: Overview of LOX-1 Gen 3'UTR188C/T Polymorphism in Medan, Indonesia

Nama Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA)
Tahun Publikasi: 2026
Tautan Resmi (DOI): https://doi.org/10.55927/ajha.v5i1.16437

Posting Komentar

0 Komentar