Gaya Hidup dan Qris Mengubah Cara Warga Kuningan Mengelola Keuangan di Era Digital

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Kuningan -  Era digitalisasi yang masif telah mengubah lanskap transaksi masyarakat hingga ke tingkat daerah. Sebuah riset terbaru yang dipublikasikan pada Mei 2026 mengungkapkan bahwa kebiasaan gaya hidup, tingkat literasi keuangan, dan intensitas penggunaan alat pembayaran digital seperti QRIS dan dompet elektronik (e-wallet) memegang kendali penuh atas pola perilaku keuangan masyarakat di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Penelitian komprehensif ini dilakukan oleh dua akademisi dari Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, Jawa Barat, yaitu Pemilia Mega Yuliani dan Ario Purdianto. Hasil studi mereka memberikan gambaran krusial mengenai bagaimana kemudahan teknologi bergesekan dengan kebiasaan pengeluaran sehari-hari masyarakat di daerah dalam mengelola pendapatan mereka. Studi ilmiah ini menjadi sangat penting karena menunjukkan realitas di lapangan: kemudahan transaksi non-tunai di satu sisi mempercepat perputaran ekonomi, namun di sisi lain menyimpan risiko finansial yang besar jika masyarakat tidak mengimbanginya dengan kontrol diri yang bijak.

Gaya Hidup Jadi Penentu Utama, Mengalahkan Faktor Edukasi

Hal yang paling mengejutkan dari temuan Pemilia dan Ario adalah bahwa gaya hidup (lifestyle) ternyata menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi perilaku keuangan masyarakat Kabupaten Kuningan. Dalam pemodelan statistik riset ini, gaya hidup mencatat koefisien pengaruh sebesar 0,374—angka tertinggi jika dibandingkan dengan tingkat pemahaman keuangan maupun aspek teknis penggunaan teknologi pembayaran.

Pola aktivitas, minat, serta opini masyarakat lokal, terutama tren nongkrong dan kepemilikan barang bermerek (branded), sangat menentukan ke mana arah aliran uang mereka mengalir. Gempuran tren media sosial yang mendorong konsumerisme sering kali memaksa individu mengubah alokasi dana mereka. Dana yang semula dialokasikan untuk tabungan atau investasi masa depan justru bergeser menjadi pengeluaran gaya hidup jangka pendek. Fenomena ini bahkan kerap menjadi pemicu utama munculnya perilaku utang atau ketergantungan pada fasilitas kredit di kalangan usia produktif.

Literasi Keuangan: Benteng Penjaga Stabilitas Dompet

Meskipun gaya hidup mendominasi, riset ini membuktikan bahwa literasi atau pemahaman keuangan bertindak sebagai benteng pertahanan internal yang esensial. Pengaruh tingkat literasi terhadap pengelolaan keuangan tercatat positif dan signifikan dengan nilai koefisien 0,320.

Warga Kuningan yang memiliki penguasaan konsep keuangan yang baik terbukti jauh lebih disiplin dalam mencatat pengeluaran harian, mengalokasikan dana darurat, serta memahami pentingnya asuransi dan investasi. Kemampuan membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan konsumtif ini membuat keputusan finansial mereka menjadi lebih rasional. Dengan demikian, kondisi keuangan personal atau keluarga tetap stabil di tengah gempuran promosi digital.

QRIS dan E-Wallet: Kemudahan Instan yang Menjebak

Faktor ketiga yang disorot dalam penelitian ini adalah penggunaan instrumen pembayaran digital (QRIS, mobile banking, dan e-wallet) yang mencatatkan koefisien pengaruh sebesar 0,264. Kehadiran teknologi pembayaran nirkontak ini ibarat pisau bermata dua bagi masyarakat Kuningan.

Di satu sisi, digitalisasi pembayaran mempercepat dan mempermudah transaksi sehari-hari, serta membuat pencatatan riwayat pengeluaran di aplikasi menjadi otomatis. Namun di sisi lain, kemudahan ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai "efek ilusi kekayaan" (illusion of wealth). Kehilangan fisik uang tunai saat bertransaksi membuat seseorang merasa lebih mudah mengeluarkan uang secara impulsif. Hal tersebut dapat memicu frekuensi belanja atau impulsive shopping yang melonjak tanpa disadari.

Secara simultan, kombinasi dari gaya hidup, literasi keuangan, dan adaptasi pembayaran digital ini mampu menjelaskan hingga 84,8 persen variasi perubahan perilaku keuangan masyarakat di Kabupaten Kuningan. Sisa 15,2 persen lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar pemodelan riset ini.

Implikasi Kebijakan dan Manfaat Edukasi Masyarakat

Temuan dari Universitas Swadaya Gunung Jati ini membawa pesan penting bagi pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan masyarakat luas. Diperlukan sinergi yang kuat untuk terus menggalakkan edukasi literasi keuangan yang menyasar komunitas lokal dan generasi muda di daerah. Kemudahan akses transaksi digital yang disediakan industri finansial harus diimbangi secara agresif dengan edukasi pengelolaan risiko keuangan. Langkah ini krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang merugikan stabilitas ekonomi rumah tangga mereka.

Profil Penulis & Peneliti

Pemilia Mega Yuliani adalah peneliti utama dan akademisi dari Swadaya Gunung Jati University (UGJ), Cirebon, West Java. Ia memiliki fokus keahlian pada manajemen keuangan perilaku, literasi keuangan masyarakat, dan adopsi teknologi finansial di tingkat regional.

Ario Purdianto adalah dosen dan peneliti di Swadaya Gunung Jati University (UGJ), Cirebon, West Java. Bidang kepakarannya meliputi manajemen pemasaran, perilaku konsumen, serta analisis statistik pemodelan bisnis dan ekonomi regional.

Sumber Referensi Ilmiah

Judul Artikel Jurnal: The Influence of Financial Literacy, Lifestyle, and Digital Payments on the Financial Behavior of People in Kuningan Regency

Penulis: Pemilia Mega Yuliani & Ario Purdianto
Nama Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 5, Tahun 2026 (Halaman 715-726)
DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i5.16570
https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar