Relokasi pedagang kaki lima (PKL) ke pusat kuliner terpadu sering kali menimbulkan tantangan baru bagi kelangsungan usaha para pelaku bisnis kecil. Rona Netanya Tifani, Sutarno, dan Hudi Kurniawanto dari Universitas Slamet Riyadi melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi pedagang di Shelter Manahan, Surakarta, pada pertengahan 2026. Penelitian ini mengupas bagaimana penerapan bauran pemasaran (marketing mix) menjadi faktor penentu keberhasilan pedagang pasca-relokasi, memberikan wawasan strategis bagi pengelola pusat kuliner dan pemerintah kota.
Tantangan Bisnis di Lokasi Baru
Relokasi bertujuan untuk menata ruang kota agar lebih rapi dan bersih. Namun, perpindahan lokasi usaha sering kali mengganggu basis pelanggan setia dan mengubah dinamika pasar bagi para pedagang. Di Shelter Manahan, para pedagang menghadapi situasi di mana mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang menuntut strategi pemasaran lebih profesional dibandingkan saat mereka masih berjualan secara mandiri di pinggir jalan. Tanpa pemahaman yang tepat mengenai manajemen pemasaran, risiko penurunan pendapatan pasca-relokasi menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan bisnis mereka.
Pendekatan Evaluasi Kualitatif
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk memotret realitas bisnis para pedagang. Data dikumpulkan sepanjang tahun 2026 melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan para pedagang, pengunjung, serta pihak pemerintah terkait, dan didukung oleh studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman—mulai dari reduksi data hingga penyimpulan—untuk mengidentifikasi efektivitas penerapan elemen marketing mix (produk, harga, tempat, dan promosi) di lokasi baru.
Temuan Utama: Peran Strategis Bauran Pemasaran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang yang mampu mempertahankan atau meningkatkan omzet pasca-relokasi adalah mereka yang secara proaktif menerapkan elemen-elemen pemasaran berikut:
- Pengembangan Produk: Kualitas rasa dan kebersihan makanan tetap menjadi daya tarik utama bagi pelanggan lama maupun baru.
- Penetapan Harga: Pedagang cenderung menjaga harga yang kompetitif agar tetap terjangkau di lingkungan shelter yang baru.
- Strategi Penempatan (Place): Meskipun shelter Manahan adalah lokasi yang ditetapkan pemerintah, pedagang tetap perlu mengatur tata letak lapak mereka agar lebih menarik dan mudah dijangkau pengunjung.
- Peningkatan Promosi: Penggunaan media sosial dan promosi dari mulut ke mulut terbukti sangat membantu pedagang dalam menginformasikan keberadaan mereka di shelter kepada pelanggan setia.
Dampak bagi Kebijakan dan Dunia Usaha
Penelitian dari Universitas Slamet Riyadi ini menekankan bahwa relokasi fisik harus dibarengi dengan pemberdayaan kemampuan manajemen pemasaran bagi para pedagang. Pemerintah dan pengelola shelter perlu lebih dari sekadar menyediakan tempat; mereka harus memfasilitasi pelatihan keterampilan bisnis bagi pelaku usaha kecil. Bagi para pedagang, temuan ini menjadi pengingat bahwa di lokasi yang baru, kemampuan untuk mengelola bauran pemasaran secara adaptif adalah kunci untuk bertahan dan tumbuh dalam persaingan industri makanan dan minuman yang semakin ketat.
Profil Penulis:
- Rona Netanya Tifani – Peneliti, Universitas Slamet Riyadi; bidang keahlian: Manajemen Pemasaran dan Ekonomi Kreatif.
- Sutarno – Peneliti, Universitas Slamet Riyadi; bidang keahlian: Manajemen Bisnis.
- Hudi Kurniawanto – Peneliti, Universitas Slamet Riyadi; bidang keahlian: Manajemen Strategik.
Sumber Penelitian:
Tifani, R. N., Sutarno, S., & Kurniawanto, H. (2026). "Post-Relocation Evaluation of Food Vendors at the Manahan Shelter in Surakarta From a Marketing Management Perspective". International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), 4(5), 669-676. DOI:
0 Komentar