![]() |
| Illustration by Ai |
FOMO dan Kedekatan Emosional Lebih Mempengaruhi Minat Belanja Gen Z di TikTok
Strategi promosi melalui influencer di TikTok ternyata tidak selalu bergantung pada daya tarik fisik maupun tingkat kredibilitas kreator. Penelitian yang dilakukan oleh Edi Komara dan Dwi Putri Aprilia Zulfiati dari STIE Indonesia Banking School menunjukkan bahwa faktor yang paling kuat mendorong minat beli Generasi Z justru adalah Fear of Missing Out (FOMO) dan kedekatan emosional dengan influencer. Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) Volume 6 Nomor 5 Tahun 2026 ini mengkaji efektivitas strategi endorsement yang dilakukan kreator TikTok Reizuka Ari terhadap niat pembelian pengikutnya.
Temuan ini penting karena TikTok kini menjadi salah satu platform pemasaran digital terbesar yang digunakan berbagai merek untuk menjangkau konsumen muda. Dengan algoritma yang mampu menyebarkan konten secara cepat dan luas, TikTok telah mengubah cara perusahaan mempromosikan produk dan membangun hubungan dengan calon pelanggan. Di tengah persaingan tersebut, influencer menjadi ujung tombak pemasaran digital karena dianggap mampu memengaruhi keputusan konsumen secara lebih personal dibandingkan iklan konvensional.
Namun penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa keberhasilan endorsement tidak selalu ditentukan oleh faktor yang selama ini dianggap penting, seperti penampilan menarik atau tingkat kepercayaan terhadap influencer. Sebaliknya, faktor psikologis dan sosial justru memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap keputusan pembelian Generasi Z.
Meneliti Pengaruh Endorsement Reizuka Ari
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada pengguna TikTok Generasi Z yang mengikuti dan pernah melihat konten promosi dari Reizuka Ari.
Sebanyak 130 responden terlibat dalam penelitian ini. Mayoritas responden berusia 20–22 tahun atau sekitar 86,2 persen dari total sampel. Dari sisi gender, responden didominasi perempuan sebanyak 83,8 persen, sedangkan laki-laki berjumlah 16,2 persen.
Tim peneliti mengukur empat faktor utama yang diduga memengaruhi minat beli konsumen, yaitu:
- Trustworthiness (tingkat kepercayaan terhadap influencer)
- Attractiveness (daya tarik influencer)
- Parasocial Interaction (kedekatan emosional antara pengikut dan influencer)
- Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren
Keempat faktor tersebut kemudian dianalisis untuk melihat pengaruhnya terhadap purchase intention atau niat membeli produk yang dipromosikan oleh Reizuka Ari.
FOMO Menjadi Faktor Paling Dominan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa FOMO menjadi faktor yang paling kuat memengaruhi minat beli Generasi Z.
Analisis statistik menemukan bahwa FOMO memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai koefisien tertinggi dibandingkan variabel lainnya. Artinya, semakin besar rasa takut seseorang tertinggal tren, semakin tinggi pula keinginannya untuk membeli produk yang direkomendasikan influencer.
Menurut peneliti, fenomena ini sangat relevan dengan karakteristik TikTok yang bergerak cepat dan dipenuhi tren viral yang berubah hampir setiap hari.
Ketika pengguna melihat suatu produk menjadi perbincangan luas atau banyak digunakan kreator favorit mereka, muncul dorongan psikologis untuk ikut memiliki produk tersebut agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.
Dalam konteks pemasaran digital, kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai "tekanan sosial digital" yang mendorong konsumen mengambil keputusan pembelian lebih cepat.
Kedekatan Emosional Juga Berpengaruh Besar
Selain FOMO, penelitian juga menemukan bahwa parasocial interaction atau hubungan emosional semu antara pengikut dan influencer memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli.
Parasocial interaction menggambarkan kondisi ketika pengikut merasa memiliki hubungan yang dekat dengan seorang kreator meskipun tidak pernah berinteraksi secara langsung.
Konten yang bersifat personal, cerita kehidupan sehari-hari, gaya komunikasi santai, serta interaksi yang konsisten membuat pengikut merasa mengenal influencer secara lebih dekat.
Dalam kasus Reizuka Ari, kedekatan emosional tersebut terbukti meningkatkan kemungkinan pengikut menerima rekomendasi produk yang diberikan.
Menurut Edi Komara dan Dwi Putri Aprilia Zulfiati, semakin kuat ikatan emosional yang terbentuk melalui konten TikTok, semakin besar pula peluang konsumen mengikuti saran pembelian yang disampaikan influencer.
Temuan ini memperlihatkan bahwa hubungan psikologis antara kreator dan audiens kini menjadi aset pemasaran yang sangat berharga.
Daya Tarik dan Kredibilitas Tidak Signifikan
Salah satu hasil yang cukup mengejutkan dalam penelitian ini adalah tidak ditemukannya pengaruh signifikan dari faktor daya tarik maupun kredibilitas influencer terhadap minat beli.
Variabel attractiveness memiliki nilai signifikansi sebesar 0,060, sementara trustworthiness memiliki nilai 0,068, keduanya berada di atas batas signifikansi statistik yang digunakan dalam penelitian.
Artinya, meskipun pengikut menilai Reizuka Ari sebagai sosok yang menarik dan dapat dipercaya, kedua faktor tersebut tidak menjadi alasan utama yang mendorong keputusan pembelian.
Peneliti menilai Generasi Z memiliki pola konsumsi digital yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Jika dahulu konsumen cenderung membeli produk karena figur publik dianggap menarik atau kredibel, kini keputusan pembelian lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman sosial dan keterlibatan emosional yang dirasakan di media sosial.
Model Penelitian Mampu Menjelaskan 78 Persen Minat Beli
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kombinasi empat variabel yang dianalisis mampu menjelaskan sekitar 78 persen variasi minat beli konsumen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa faktor psikologis dan sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk perilaku pembelian Generasi Z di platform digital.
Meski demikian, masih terdapat sekitar 22 persen faktor lain yang belum tercakup dalam penelitian, seperti harga produk, kualitas produk, promosi penjualan, atau karakteristik platform digital itu sendiri.
Implikasi bagi Dunia Bisnis dan Pemasaran
Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi perusahaan yang memanfaatkan influencer marketing di TikTok.
Peneliti menyarankan agar strategi promosi tidak hanya berfokus pada memilih influencer yang memiliki penampilan menarik atau citra yang baik. Yang lebih penting adalah bagaimana influencer mampu menciptakan rasa kedekatan dengan audiens serta membangun suasana yang memicu rasa urgensi dan keterlibatan sosial.
Beberapa strategi yang direkomendasikan meliputi:
- Membuat promosi dengan batas waktu tertentu.
- Mengangkat tren yang sedang viral.
- Menawarkan informasi eksklusif kepada pengikut.
- Mendorong influencer membangun komunikasi yang lebih personal.
- Menampilkan konten autentik yang mencerminkan kehidupan sehari-hari.
Menurut Edi Komara dan Dwi Putri Aprilia Zulfiati dari STIE Indonesia Banking School, pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan efektivitas kampanye pemasaran digital, terutama untuk menjangkau konsumen Generasi Z yang mendominasi ekosistem TikTok saat ini.

0 Komentar