Penelitian ini menjadi penting karena konflik Iran-Amerika Serikat-Israel pada 2026 dianggap sebagai salah satu eskalasi keamanan terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Konflik tersebut tidak hanya memengaruhi stabilitas kawasan, tetapi juga berdampak pada ekonomi global, jalur perdagangan energi internasional, dan hubungan diplomatik berbagai negara.
Para peneliti menyoroti bahwa operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada Februari 2026 memunculkan pertanyaan mendasar mengenai tujuan politik yang ingin dicapai. Dalam teori Clausewitz, setiap perang seharusnya memiliki sasaran politik yang jelas sehingga strategi militer dapat diarahkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Konflik yang Mengubah Dinamika Timur Tengah
Selama lebih dari satu dekade, hubungan Iran, Amerika Serikat, dan Israel didominasi konflik tidak langsung seperti perang proksi, operasi siber, sabotase fasilitas strategis, serta persaingan pengaruh di negara-negara seperti Suriah, Lebanon, dan Irak.
Situasi berubah ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan sejumlah instalasi strategis Iran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan terhadap beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Menurut penelitian ini, eskalasi tersebut menandai perubahan besar dari pola konflik tidak langsung menjadi konfrontasi militer yang lebih terbuka. Kondisi itu meningkatkan risiko ketidakstabilan regional sekaligus memperbesar kemungkinan dampak ekonomi global.
Menggunakan Teori Clausewitz untuk Membaca Konflik Modern
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis strategis. Tim peneliti mengumpulkan data dari buku, jurnal ilmiah, laporan media, serta berbagai dokumen terkait konflik Iran-Amerika Serikat-Israel.
Kerangka utama penelitian mengacu pada buku On War karya Carl von Clausewitz. Dalam teori tersebut, perang tidak berdiri sendiri sebagai tindakan militer, melainkan alat untuk mencapai tujuan politik negara.
Peneliti juga menggunakan konsep Center of Gravity atau pusat gravitasi strategis. Dalam teori Clausewitz, pusat gravitasi merupakan sumber utama kekuatan lawan yang jika berhasil dilemahkan dapat memengaruhi keseluruhan kemampuan bertahan dan beroperasi.
Temuan Utama Penelitian
Penelitian menemukan beberapa poin penting terkait konflik Iran-Amerika Serikat-Israel pada 2026.
1. Tujuan Politik Dinilai Tidak Jelas
Peneliti menilai Amerika Serikat tidak memiliki tujuan politik yang konsisten selama konflik berlangsung.
Pada awal konflik, tujuan yang dikemukakan berkaitan dengan program nuklir Iran. Namun dalam perkembangannya, narasi tersebut bergeser menjadi upaya perubahan rezim dan pelemahan kekuatan militer Iran.
Perubahan sasaran ini dinilai menciptakan ketidakjelasan mengenai definisi kemenangan yang ingin dicapai.
2. Konflik Cenderung Menjadi "War of Choice"
Menurut analisis penelitian, perang tersebut lebih menyerupai war of choice atau perang yang dipilih secara sadar untuk mencapai kepentingan tertentu, bukan perang yang tidak dapat dihindari.
Para peneliti mencatat bahwa alasan strategis yang disampaikan pemerintah Amerika Serikat terus berubah sehingga sulit menentukan tujuan akhir operasi militer yang dijalankan.
3. Kesalahan Membaca Sumber Kekuatan Iran
Penelitian menemukan adanya kemungkinan kesalahan dalam mengidentifikasi sumber utama kekuatan Iran.
Amerika Serikat dianggap terlalu berfokus pada kepemimpinan politik dan fasilitas nuklir sebagai pusat gravitasi Iran. Padahal, menurut peneliti, kekuatan Iran juga terletak pada kohesi sosial, ideologi nasional, serta kemampuan memanfaatkan faktor ekonomi dan geopolitik.
Akibatnya, berbagai tekanan militer yang diberikan belum mampu menghasilkan perubahan strategis yang signifikan.
4. Selat Hormuz Menjadi Faktor Kunci
Salah satu temuan paling penting adalah pergeseran pusat gravitasi konflik ke Selat Hormuz.
Jalur laut ini merupakan salah satu rute energi terpenting dunia yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Penelitian menunjukkan bahwa Iran mampu memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Gangguan terhadap jalur tersebut berdampak langsung pada harga energi global, biaya logistik, dan stabilitas ekonomi internasional.
5. Ketidakpastian Memperpanjang Konflik
Penelitian juga menyoroti konsep fog of war atau kabut perang yang diperkenalkan Clausewitz.
Kurangnya informasi yang akurat, kesalahan persepsi, serta ketidakjelasan tujuan politik menyebabkan kedua pihak terus melakukan eskalasi. Situasi ini memperbesar kemungkinan konflik berkepanjangan tanpa penyelesaian politik yang jelas.
Dampak bagi Dunia dan Kebijakan Internasional
Temuan penelitian ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan operasi militer tidak hanya ditentukan oleh kekuatan persenjataan, tetapi juga oleh kejelasan tujuan politik yang ingin dicapai.
Menurut para peneliti, konflik Iran-Amerika Serikat-Israel menunjukkan bagaimana ketidaksesuaian antara strategi militer dan tujuan politik dapat menyebabkan perang berlangsung lebih lama, lebih mahal, dan lebih sulit diakhiri.
Dari sisi ekonomi, konflik juga menunjukkan betapa rentannya sistem energi global terhadap gangguan di kawasan Timur Tengah. Ketidakstabilan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, inflasi, dan aktivitas perdagangan internasional.
Penelitian ini juga menjadi pengingat bagi para pembuat kebijakan bahwa diplomasi dan perencanaan strategis tetap memiliki peran penting dalam mencegah konflik berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Fajar Nugraha dan tim peneliti menegaskan bahwa tanpa tujuan politik yang jelas, operasi militer berisiko kehilangan arah strategis dan gagal menghasilkan solusi jangka panjang.
Profil Penulis
Fajar Nugraha merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) yang menaruh perhatian pada studi pertahanan, strategi militer, dan hubungan internasional.
Helda Risman adalah akademisi Universitas Pertahanan Republik Indonesia yang memiliki fokus kajian pada keamanan internasional dan dinamika geopolitik.
Fauzia G. Cempaka Timur merupakan peneliti dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia yang menekuni bidang strategi pertahanan, keamanan regional, dan studi konflik.
Sumber Penelitian
Nugraha, F., Risman, H., & Timur, F. G. C. (2026). War and Political Goals: An Analysis of the Iran-United States Conflict 2026. Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 6, 1619–1628.
0 Komentar