Analisis Etnomatematika dari Aktivitas Menggelek Tobu: Pemodelan Matematis Rotasi Silinder dalam Praktik Budaya Kuok Melayu

Gambar Ilustrasi AI

Tradisi Menggelek Tobu di Riau Ternyata Menyimpan Konsep Fisika dan Matematika Modern

Tradisi Menggelek Tobu yang diwariskan masyarakat Melayu Kuok di Kabupaten Kampar, Riau, ternyata menyimpan konsep matematika, fisika, dan rekayasa mekanik yang selama ini dipelajari di ruang kelas modern. Temuan tersebut diungkap oleh Hanifatul Rahmi, Faizah, Mahdum, Hermandra, dan Elmustian dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences (IJCS). Penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga sumber ilmu pengetahuan yang relevan untuk pendidikan masa depan.

Temuan ini menjadi penting karena banyak tradisi lokal mulai tergerus oleh modernisasi. Di sisi lain, dunia pendidikan sedang mencari cara agar pembelajaran sains tidak lagi terasa abstrak dan terputus dari kehidupan sehari-hari. Tradisi Menggelek Tobu menawarkan solusi dengan memperlihatkan bahwa konsep-konsep ilmiah sebenarnya telah lama dipraktikkan oleh masyarakat tradisional.

Tradisi Menggelek Tobu Bukan Sekadar Aktivitas Budaya

Menggelek Tobu merupakan tradisi pengolahan tebu yang masih dijaga oleh masyarakat Melayu Kuok di Desa Pulau Belimbing, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Masyarakat menggunakan alat berbentuk silinder dari kayu yang disebut golekan untuk memindahkan dan mengolah tebu secara gotong royong.

Sekilas, aktivitas tersebut tampak sederhana. Namun, para peneliti menemukan adanya sistem pengetahuan yang kompleks di balik praktik budaya tersebut.

Masyarakat ternyata secara intuitif telah menerapkan berbagai prinsip ilmiah yang selama ini diajarkan dalam matematika dan fisika modern.

Konsep yang ditemukan meliputi:

  • Geometri bangun ruang berbentuk tabung
  • Gerak rotasi
  • Gerak translasi
  • Analisis gaya
  • Efisiensi energi
  • Optimalisasi kerja mekanik

Temuan ini memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional memiliki kemampuan adaptasi dan penalaran ilmiah yang berkembang melalui pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan.

Budaya Lokal Menyimpan Pengetahuan Ilmiah yang Terstruktur

Penelitian dilakukan melalui observasi langsung terhadap pelaksanaan tradisi Menggelek Tobu di Pulau Belimbing.

Tim peneliti juga melakukan wawancara dengan pelaku budaya, dokumentasi lapangan, serta pengukuran terhadap alat yang digunakan.

Data tersebut kemudian dianalisis dengan membandingkannya terhadap konsep matematika dan fisika modern.

Untuk memastikan hasil penelitian akurat, para peneliti menggunakan proses validasi melalui triangulasi data dan konfirmasi kepada masyarakat setempat.

Pendekatan ini membantu peneliti memahami bagaimana masyarakat membangun pengetahuan ilmiah tanpa pendidikan formal berbasis laboratorium.

Masyarakat Melayu Kuok Ternyata Memahami Prinsip Rekayasa Mekanik

Salah satu temuan paling menarik terletak pada desain alat penggulung kayu yang digunakan.

Peneliti mendokumentasikan beberapa ukuran utama:

  • Panjang alat sekitar 2,5 meter
  • Diameter sekitar 12 sentimeter
  • Jari-jari sekitar 6 sentimeter
  • Berat sekitar 5 kilogram

Dimensi tersebut memungkinkan alat bergerak secara efisien di permukaan tanah.

Penelitian menemukan bahwa satu kali putaran penuh menghasilkan perpindahan sekitar 0,377 meter.

Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memahami hubungan antara ukuran benda, pergerakan, dan efisiensi kerja jauh sebelum konsep tersebut dipelajari secara formal di sekolah.

Menggelindingkan Tebu Jauh Lebih Efisien Dibanding Menyeretnya

Temuan paling menonjol dalam penelitian ini berkaitan dengan efisiensi energi.

Peneliti membandingkan dua cara memindahkan benda berat, yaitu menggelindingkan dan menyeret.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa hambatan saat benda digelindingkan hanya sekitar 0,98 Newton.

Sebaliknya, jika benda yang sama diseret di atas permukaan tanah, hambatannya dapat mencapai sekitar 14,7 Newton.

Artinya, metode menggelindingkan benda hampir 15 kali lebih efisien dibandingkan menyeretnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa pilihan masyarakat menggunakan teknik Menggelek Tobu bukanlah kebiasaan yang muncul secara kebetulan, melainkan hasil dari pengalaman empiris yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Sains Tidak Selalu Lahir di Laboratorium

Penelitian ini memperluas pemahaman tentang etnomatematika dan etnofisika.

Selama ini, banyak penelitian hanya mengidentifikasi bentuk geometri pada budaya lokal.

Namun, penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa budaya tradisional juga mengandung sistem mekanika yang dinamis.

Tradisi Menggelek Tobu memperlihatkan bahwa masyarakat telah lama mengembangkan kemampuan:

  • Memecahkan masalah
  • Merancang alat kerja
  • Mengoptimalkan energi
  • Membuat model matematika
  • Bekerja secara kolektif

Temuan ini sekaligus membantah anggapan bahwa ilmu pengetahuan hanya dihasilkan oleh institusi modern.

Sebaliknya, sains juga dapat berkembang melalui pengalaman hidup masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Peluang Baru bagi Dunia Pendidikan Indonesia

Penelitian ini membuka peluang besar bagi dunia pendidikan.

Selama ini, matematika dan fisika sering diajarkan secara terpisah dan cenderung abstrak.

Tradisi Menggelek Tobu menawarkan pendekatan yang lebih kontekstual karena menggabungkan berbagai konsep dalam satu aktivitas budaya yang nyata.

Para peneliti memberikan beberapa rekomendasi.

Pertama, sekolah dapat mengembangkan modul pembelajaran matematika dan fisika berbasis budaya lokal.

Kedua, guru perlu mendapatkan pelatihan untuk mengidentifikasi unsur sains yang terkandung dalam tradisi masyarakat.

Ketiga, sistem penilaian pembelajaran perlu mendorong siswa untuk menghubungkan konsep ilmiah dengan kehidupan nyata.

Kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, lembaga budaya, dan masyarakat juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Peneliti Menegaskan Bahwa Budaya dan Sains Tidak Dapat Dipisahkan

Parafrase akademik dari hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat tradisional memiliki sistem pengetahuan ilmiah yang berkembang melalui pengalaman empiris dan adaptasi terhadap lingkungan.

Hanifatul Rahmi, Faizah, Mahdum, Hermandra, dan Elmustian menyimpulkan bahwa tradisi Menggelek Tobu merupakan perpaduan harmonis antara matematika, fisika, dan nilai sosial budaya yang dapat memperkaya pendidikan modern sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga identitas masyarakat, tetapi juga melestarikan pengetahuan ilmiah yang berharga bagi generasi mendatang.

Profil Penulis

  1. Hanifatul Rahmi: Peneliti bidang etnomatematika, pendidikan berbasis budaya, dan integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran sains.
  2. Faizah: Akademisi yang berfokus pada pengembangan pendidikan kontekstual dan pelestarian pengetahuan lokal.
  3. Mahdum: Peneliti bidang pengembangan pendidikan dan inovasi pembelajaran berbasis lingkungan sosial budaya.
  4. Hermandra: Akademisi yang meneliti budaya Melayu, sastra, dan transmisi pengetahuan antargenerasi.
  5. Elmustian: Peneliti dan akademisi yang berfokus pada kebudayaan Melayu, kearifan lokal, dan pendidikan berbasis budaya.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar