Aktivitas Fisik Mahasiswa USK Tetap Moderat Saat Pandemi COVID-19

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Aceh - Aktivitas fisik mahasiswa selama pandemi Covid-19 tetap menjadi perhatian penting di tengah pembatasan sosial dan perubahan pola hidup. Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilatur Raihan, Yusni, dan Husnah dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa penghuni asrama Universitas Syiah Kuala tetap menjalani aktivitas fisik pada tingkat moderat selama pandemi. Temuan ini dipublikasikan pada 2026 dalam Asian Journal of Healthcare Analytics dan memberi gambaran penting tentang pola kesehatan mahasiswa di masa krisis kesehatan global.

Pandemi Covid-19 yang mulai merebak pada akhir 2019 memaksa berbagai negara, termasuk Indonesia, menerapkan pembatasan aktivitas masyarakat. Kebijakan seperti social distancing, pembelajaran dari rumah, dan pembatasan sosial berskala besar membuat ruang gerak masyarakat menyempit. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa aktivitas fisik akan menurun drastis dan berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak awal pandemi menyoroti bahwa kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor risiko utama terhadap berbagai penyakit tidak menular. Sebelum pandemi pun, data Riset Kesehatan Dasar Indonesia menunjukkan tingkat aktivitas fisik masyarakat masih tergolong rendah. Kondisi pandemi diperkirakan memperburuk situasi karena banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Di tengah kondisi itu, tim peneliti Universitas Syiah Kuala mencoba melihat bagaimana sebenarnya pola aktivitas fisik mahasiswa baru yang tinggal di asrama kampus. Penelitian dilakukan pada November 2021 dan dianalisis hingga 2022 dengan melibatkan 247 mahasiswa sebagai responden.

Penelitian menggunakan pendekatan observasional dengan desain potong lintang atau cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) yang diisi secara daring melalui Google Form. Seluruh mahasiswa aktif penghuni asrama yang memenuhi syarat dilibatkan dalam penelitian sehingga hasilnya menggambarkan kondisi populasi asrama secara langsung.

Hasil penelitian menunjukkan aktivitas fisik tingkat sedang atau moderat mendominasi.

Temuan utama penelitian meliputi:

  • 83 persen mahasiswa memiliki aktivitas fisik tingkat sedang atau moderat
  • 11,7 persen berada pada aktivitas fisik berat
  • 5,3 persen memiliki aktivitas fisik ringan
  • 77,7 persen responden merupakan perempuan
  • 60,7 persen memiliki indeks massa tubuh normal
  • Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi kelompok responden terbesar dengan 20,2 persen

Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar responden berusia sekitar 18 tahun. Rata-rata berat badan mahasiswa laki-laki mencapai 54,18 kilogram dan perempuan 51,15 kilogram. Sementara tinggi badan rata-rata laki-laki sekitar 1,6 meter dan perempuan 1,5 meter.

Yang menarik, penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat aktivitas fisik. Nilai statistik menunjukkan perbedaan aktivitas antara mahasiswa laki-laki dan perempuan tidak cukup kuat untuk dianggap berpengaruh secara ilmiah. Temuan serupa juga terjadi pada indeks massa tubuh atau BMI.

Artinya, mahasiswa dengan berat badan normal, kurus, overweight, maupun obesitas tidak menunjukkan hubungan yang berarti dengan tingkat aktivitas fisik selama pandemi.

Menurut Husnah dan tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh variasi aktivitas harian mahasiswa yang berasal dari latar belakang program studi berbeda. Aktivitas akademik daring, penggunaan gawai, serta pola hidup selama masa pembatasan sosial ikut membentuk perilaku fisik mahasiswa.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa aktivitas fisik tetap memiliki peran penting bagi kesehatan. Aktivitas fisik rutin dengan intensitas sedang diketahui membantu menjaga daya tahan tubuh, meningkatkan kesehatan mental, dan menurunkan risiko depresi yang meningkat selama pandemi.

Temuan ini memiliki arti penting bagi dunia pendidikan tinggi dan kebijakan kesehatan kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pembelajaran dilakukan dari rumah atau dengan pembatasan tertentu, mahasiswa masih dapat mempertahankan aktivitas fisik yang cukup baik apabila tersedia kesadaran dan dukungan lingkungan.

Bagi perguruan tinggi, hasil ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mahasiswa tidak hanya bergantung pada prestasi akademik, tetapi juga pada kebiasaan hidup aktif. Program olahraga kampus, edukasi gaya hidup sehat, dan fasilitas pendukung aktivitas fisik tetap relevan bahkan setelah pandemi mereda.

Profil Penulis:

Fadhilatur Raihan merupakan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala yang menaruh perhatian pada kesehatan masyarakat dan perilaku kesehatan mahasiswa.

Yusni merupakan akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dengan bidang keahlian di bidang kesehatan dan penelitian medis.

Husnah merupakan dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala yang aktif meneliti isu kesehatan masyarakat, perilaku hidup sehat, serta kesehatan mahasiswa.

Sumber Penelitian:
Raihan, F., Yusni, & Husnah. “Analysis the Level of Physical Activity During Covid-19 Pandemic Among Syiah Kuala University Students.” Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA), Vol. 5 No. 5, 2026. DOI: 10.55927/ajha.v5i1.14982.

Posting Komentar

0 Komentar