Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Model THIKA: Solusi Baru Atasi Depresi dan Tingkatkan Kebahagiaan Lansia Berbasis Komunitas. Penelitian ini diungkapkan dalam riset Thika Marliana, Budi Anna Keliat, Novy H.C Daulima, dan Tri Budi W Rahardjo, yang berasal dari Universitas Respati Indonesia dan Universitas Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 5 Tahun 2026 menyoroti bahwa solusi praktis dan terukur untuk mentransformasi sistem perawatan kesehatan mental primer di tengah tantangan global penuaan populasi.

Krisis Kesehatan Mental Lansia di Era Transisi Demografi
Fenomena penuaan populasi global membawa tantangan yang sangat signifikan bagi sistem pelayanan kesehatan, khususnya pada sektor kesehatan jiwa. Indonesia saat ini tengah berada dalam fase transisi demografi yang pesat, di mana proporsi penduduk lanjut usia (lansia) diproyeksikan melonjak drastis hingga menyentuh angka 23% dari total populasi pada tahun 2050 mendatang. Seiring dengan pergeseran struktur usia ini, beban kasus gangguan mental pada kelompok lansia terus merangkak naik. Secara global, depresi dialami oleh sekitar 5,7% lansia, namun di Indonesia, angka prevalensinya tercatat lebih tinggi, yakni mencapai 7,7%. Depresi pada masa tua sering kali diperparah oleh penyakit fisik kronis (komorbiditas), penurunan fungsi tubuh, serta berbagai stresor psikososial yang kompleks. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini merusak kualitas hidup dan meningkatkan risiko bunuh diri secara signifikan. Sayangnya, layanan kesehatan mental primer yang ada saat ini masih sangat terfragmentasi dan kaku. Program kesehatan di tingkat komunitas, seperti Posyandu Lansia maupun program pemberdayaan keluarga, cenderung hanya berfokus pada pemeriksaan fisik, sementara kebutuhan emosional dan psikososial lansia terabaikan.

Merancang Kerangka Kerja Holistik Melalui Model THIKA
Guna menjembatani kesenjangan layanan tersebut, para peneliti merancang Model THIKA menggunakan metode campuran sekuensial (sequential explanatory mixed-method design). Di tahap awal, tim memetakan faktor risiko dengan menyurvei 452 lansia yang memiliki gejala depresi di lingkungan masyarakat dan puskesmas. Selanjutnya, mereka melakukan diskusi kelompok terarah (FGD) dan wawancara mendalam bersama 27 pemangku kepentingan termasuk lansia dengan depresi, anggota keluarga atau pengasuh (caregiver), tenaga kesehatan, hingga pembuat kebijakan untuk menggali kebutuhan psikososial secara mendalam. Data lapangan mengonfirmasi bahwa depresi pada lansia tidak bisa disembuhkan secara parsial hanya lewat terapi klinis tunggal. Rasa kesepian, penarikan diri dari lingkungan, sindrom sarang kosong (empty nest syndrome), dan penyesalan hidup masa lalu bertindak sebagai pemicu utama yang memperparah depresi. Sebaliknya, rasa bahagia yang bersumber dari hubungan yang bermakna dan penerimaan diri terbukti menjadi benteng pelindung (protective factor) yang membangun resiliensi psikologis lansia.
Berdasarkan fondasi empiris tersebut, Model THIKA mengintegrasikan pendekatan biologis, psikologis, sosial, dan budaya ke dalam lima komponen intervensi inti yang diterapkan secara terstruktur selama 15 minggu:
  • Latihan Pengungkapan Diri (Self-Disclosure): Mengondisikan lansia agar berani mengekspresikan beban pikiran, emosi terpendam, dan pengalaman hidupnya untuk mengurangi rasa kesepian.
  • Manajemen Aktivitas Fisik: Intervensi biologis dan perilaku berupa olahraga ringan teratur untuk menjaga kebugaran serta mengatasi gejala kelesuan atau kelelahan persisten.
  • Pelatihan Keterampilan Sosial: Bimbingan komunikasi dan pelibatan dalam aktivitas kelompok kecil guna membangun kembali rasa percaya diri dan jejaring sosial lansia.
  • Kultivasi Perilaku Positif: Aktivitas terstruktur untuk melatih pola pikir positif, praktik bersyukur, serta menemukan kembali makna hidup di usia senja.
  • Penguatan Resiliensi Mental: Pelatihan regulasi emosi dan fleksibilitas kognitif agar lansia lebih adaptif dalam menghadapi masa transisi serta ketidakpastian akibat penyakit.
Hasil Nyata: Transformasi Klinis dan Perilaku Lansia
Implementasi Model THIKA selama 15 minggu memberikan dampak transformatif yang terukur nyata bagi kesehatan lansia. Keberhasilan model ini dirangkum ke dalam lima domain hasil utama, yaitu Truthfulness, Hearty-healthy, Involvement, Kindness, dan Agility. Kunci efektivitas dari Model THIKA terletak pada ekosistem kolaboratif yang dibangunnya. Intervensi ini tidak membebankan perawatan hanya pada fasilitas rumah sakit besar, melainkan mendistribusikan peran secara seimbang kepada tenaga kesehatan puskesmas, pengasuh di rumah, dan kader kesehatan mental institusi lokal. Tenaga kesehatan bertanggung jawab menjaga standar penanganan klinis, kader posyandu melakukan pemantauan berkala di lapangan, sedangkan pihak keluarga menciptakan lingkungan rumah yang mendukung perubahan perilaku positif lansia.

Implikasi Luas bagi Kebijakan Layanan Kesehatan Primer
Riset yang dipimpin oleh Universitas Respati Indonesia dan Universitas Indonesia ini membawa implikasi strategis bagi reformasi kebijakan publik dan pendidikan keperawatan gerontik. Model THIKA membuktikan bahwa pergeseran dari layanan yang berpusat pada penyakit (disease-centered) menjadi layanan yang berpusat pada manusia (person-centered) mampu menurunkan beban depresi nasional secara berkelanjutan. Bagi pemerintah dan sektor publik, model ini menawarkan cetak biru (blueprint) program ramah lansia yang efisien dan murah, karena memaksimalkan potensi kader komunitas yang sudah ada. Ke depan, integrasi model ini dengan platform kesehatan digital dapat semakin memperluas jangkauan dan keberlanjutan perawatan lansia di berbagai daerah.

Profil Peneliti
Thika Marliana, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.J. – Peneliti utama dan pakar keperawatan jiwa dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Respati Indonesia. Berfokus pada pengembangan model intervensi kesehatan mental berbasis komunitas dan gerontologi.
Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc. – Guru Besar dan pakar keperawatan jiwa senior dari Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Dikenal luas atas kontribusinya dalam pengembangan asuhan keperawatan jiwa komunitas di Indonesia.
Dr. Novy H.C Daulima, S.Kp., M.Sc. – Dosen dan peneliti senior di Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, dengan keahlian khusus pada manajemen pelayanan keperawatan mental dan dukungan psikososial.
Prof. Dr. Tri Budi W. Rahardjo, drg., MS – Profesor di bidang gerontologi dari Universitas Respati Indonesia, berpengalaman luas dalam riset kesejahteraan lansia, status fungsional, dan kebijakan penuaan aktif.

Sumber Penelitian
Thika Marliana, Budi Anna Keliat, Novy H.C Daulima, Tri Budi W Rahardjo (2026).Transforming Primary Mental Health Care for Ageing Populations: The THIKA Model for Community-Based Integrative Intervention. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5, No. 5 2026: 1211-1226
DOIhttps://doi.org/10.55927/fjas.v5i5.57
URLhttps://journalfjas.my.id/index.php/fjas