![]() |
| Illustration by Ai |
Partisipasi Warga Jadi Kunci Mitigasi Banjir di Rasana’e Barat Kota Bima
Kesadaran dan keterlibatan masyarakat terbukti menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi banjir di Kecamatan Rasana’e Barat, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Temuan itu diungkap dalam penelitian yang dilakukan Jufrin, Firdaus, dan Nini Apriani Rumata dari Universitas Muhammadiyah Makassar pada 2026. Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) tersebut menunjukkan bahwa warga Rasana’e Barat memiliki tingkat partisipasi dan kesadaran yang tinggi dalam menghadapi ancaman banjir, meski keterlibatan itu masih bersifat situasional dan belum menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Penelitian ini penting karena Kota Bima termasuk salah satu wilayah di Indonesia yang rutin mengalami banjir setiap musim hujan. Kawasan Rasana’e Barat menjadi daerah dengan risiko tinggi karena memiliki topografi rendah, berada dekat Teluk Bima, serta memiliki sistem drainase yang belum optimal.
Banjir di wilayah ini tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, kesehatan warga, hingga pendidikan anak-anak. Karena itu, penanganan banjir dinilai tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat setempat.
Firdaus dan tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Makassar menjelaskan bahwa perubahan tata guna lahan, kepadatan permukiman, serta kebiasaan membuang sampah ke saluran air menjadi faktor yang memperparah banjir di Rasana’e Barat.
“Mitigasi bencana banjir membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pihak yang paling dekat dengan sumber risiko,” tulis peneliti dalam laporan studinya.
Penelitian dilakukan terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir di Kecamatan Rasana’e Barat. Sebanyak 101 responden dipilih menggunakan metode purposive sampling, yaitu memilih warga yang dianggap memiliki pengalaman atau keterlibatan langsung dalam kegiatan mitigasi banjir.
Mayoritas responden merupakan warga usia produktif dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi. Sebagian besar telah tinggal cukup lama di kawasan Rasana’e Barat sehingga memahami kondisi lingkungan dan sejarah banjir di wilayah tersebut.
Peneliti menggunakan kuesioner berbasis skala Likert untuk mengukur tingkat partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam empat aspek utama mitigasi banjir, yakni perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan lingkungan, dan respons pascabencana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat secara umum berada pada kategori tinggi. Seluruh indikator memiliki skor di atas angka 3 dalam skala penilaian.
Pada aspek perencanaan mitigasi banjir, skor rata-rata mencapai 3,29. Angka ini menunjukkan warga cukup aktif mengikuti rapat lingkungan, memberikan masukan, serta terlibat dalam penyusunan program pencegahan banjir.
Meski demikian, peneliti mencatat masih ada sebagian warga yang baru terlibat ketika diminta oleh aparat kelurahan atau tokoh masyarakat. Artinya, kesadaran partisipatif belum sepenuhnya muncul secara mandiri.
Pada aspek pelaksanaan, skor partisipasi masyarakat mencapai 3,42 dan masuk kategori tinggi. Warga diketahui aktif mengikuti kegiatan gotong royong membersihkan saluran air, menanam pohon, hingga membantu program mitigasi yang dilakukan pemerintah atau lembaga terkait.
Kegiatan kerja bakti membersihkan drainase menjadi salah satu bentuk partisipasi yang paling sering dilakukan masyarakat. Peneliti menilai aktivitas ini cukup efektif mengurangi potensi genangan air saat hujan deras.
Sementara itu, indikator pemeliharaan lingkungan memperoleh skor rata-rata 3,39. Warga dinilai cukup konsisten menjaga kebersihan lingkungan, mengawasi fasilitas pengendali banjir, serta mengingatkan masyarakat lain agar tidak membuang sampah ke sungai atau drainase.
Namun penelitian menunjukkan kegiatan pemeliharaan masih membutuhkan pengawasan dari aparat setempat agar berlangsung rutin dan berkelanjutan.
Partisipasi tertinggi terlihat pada tahap respons dan mitigasi pascabencana dengan skor 3,43. Masyarakat di Rasana’e Barat dinilai memiliki solidaritas sosial yang kuat ketika banjir terjadi.
Warga aktif membantu korban banjir, membersihkan lingkungan, memperbaiki drainase, hingga memberikan bantuan tenaga dan logistik kepada warga terdampak.
Penelitian ini juga memetakan kondisi geografis Rasana’e Barat yang membuat kawasan tersebut sangat rentan terhadap banjir. Wilayah ini memiliki banyak area datar dengan ketinggian rata-rata sekitar tiga meter di atas permukaan laut.
Selain itu, kepadatan penduduk mencapai lebih dari 3.000 jiwa per kilometer persegi, menjadikan kawasan ini salah satu daerah terpadat di Kota Bima. Tingginya kepadatan bangunan menyebabkan area resapan air semakin berkurang sehingga limpasan air hujan lebih cepat masuk ke saluran drainase dan sungai.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bima menunjukkan banjir besar pernah melanda enam kelurahan di Rasana’e Barat pada 2016 dan menyebabkan lebih dari 33 ribu warga terdampak serta puluhan ribu lainnya mengungsi.
Banjir kembali terjadi pada 2021, 2023, dan 2024 dengan dampak yang cukup besar terhadap permukiman warga. Intensitas hujan tinggi dan buruknya sistem drainase menjadi penyebab utama banjir berulang di wilayah tersebut.
Menurut Firdaus dan tim peneliti, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas masyarakat menjadi langkah penting dalam pengurangan risiko bencana banjir.
Peneliti merekomendasikan pemerintah daerah untuk meningkatkan pelatihan kebencanaan, sosialisasi rutin, serta pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan agar partisipasi warga tidak hanya muncul saat bencana terjadi.
Selain itu, edukasi tentang pentingnya menjaga saluran air dan kawasan resapan dinilai perlu dilakukan secara terus-menerus agar budaya mitigasi dapat menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa mitigasi bencana berbasis komunitas dapat menjadi strategi efektif bagi daerah rawan banjir di Indonesia. Ketika masyarakat memiliki kesadaran dan keterlibatan tinggi, risiko kerusakan dan korban akibat banjir dapat ditekan lebih baik.
Profil Singkat Penulis
Jufrin, Firdaus, dan Nini Apriani Rumata merupakan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Makassar yang memiliki fokus penelitian pada mitigasi bencana, partisipasi masyarakat, dan pembangunan berbasis lingkungan. Penelitian mereka banyak membahas penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana alam di Indonesia.

0 Komentar