Pemasaran produk ramah lingkungan kini menjadi strategi utama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pasar digital. Temuan ini dipaparkan oleh bersama tim peneliti dari , , , , dan dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di Indonesian Journal of Business Analytics. Penelitian ini menilai perubahan perilaku konsumen digital yang semakin peduli terhadap isu lingkungan dan dampaknya terhadap strategi bisnis UMKM.
Peneliti menjelaskan bahwa ekonomi hijau bukan lagi sekadar tren global, melainkan kebutuhan agar bisnis tetap kompetitif. Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga mempertimbangkan nilai keberlanjutan, transparansi produksi, hingga dampak lingkungan dari produk yang digunakan.
Dalam konteks tersebut, UMKM dinilai memiliki posisi strategis karena lebih fleksibel dalam menerapkan praktik ramah lingkungan. Mulai dari penggunaan bahan baku lokal, pengurangan limbah produksi, hingga penggunaan kemasan berkelanjutan menjadi nilai tambah yang semakin dicari pasar digital.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis strategi dengan memanfaatkan data sekunder dari jurnal, buku, dan berbagai laporan ilmiah terkait ekonomi hijau dan pemasaran digital. Pendekatan ini dipilih untuk memahami perubahan perilaku konsumen dan strategi adaptasi UMKM secara lebih mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi green marketing di pasar digital berkembang jauh melampaui sekadar label “eco-friendly”. Peneliti menemukan sedikitnya enam strategi utama yang kini diterapkan UMKM:
- Narasi berbasis nilai dan transparansi produk
- Optimalisasi green branding dan eco-label digital
- Pemanfaatan konten edukasi serta ulasan pelanggan
- Penggunaan kemasan ramah lingkungan
- Pemasaran berbasis komunitas dan micro-influencer
- Transparansi harga untuk menjelaskan biaya produk hijau
Salah satu strategi yang dianggap paling efektif adalah penggunaan media sosial seperti Instagram Reels dan TikTok untuk menunjukkan proses produksi ramah lingkungan secara langsung. Cara ini dinilai mampu membangun kedekatan emosional dengan konsumen yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Penelitian juga menyoroti pentingnya eco-label digital dalam meningkatkan daya tarik produk di marketplace. Label seperti “biodegradable”, “zero waste”, atau “cruelty-free” terbukti membantu konsumen mengenali produk yang lebih berkelanjutan di tengah persaingan pasar digital yang padat.
Selain itu, strategi pemasaran berbasis komunitas dinilai semakin efektif pada 2026. UMKM mulai menggandeng micro-influencer dengan audiens yang fokus pada gaya hidup minimalis dan isu lingkungan untuk memperkuat loyalitas konsumen. Pendekatan ini dianggap lebih autentik dibanding promosi digital konvensional.
Peneliti juga menekankan bahwa kemasan menjadi titik sentuh pertama antara konsumen dan produk di era perdagangan digital. Penggunaan kemasan berbahan singkong, kertas honeycomb, dan kardus daur ulang dipandang mampu memperkuat citra merek sekaligus mengurangi limbah plastik.
Menurut dan tim, green marketing kini bukan sekadar strategi promosi, melainkan respons bisnis terhadap perubahan sosial global. Mereka menyebut konsumen modern semakin kritis terhadap praktik greenwashing atau pencitraan hijau palsu, sehingga transparansi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pasar.
Temuan penelitian ini dinilai penting bagi pelaku UMKM, pemerintah, dan platform digital. Strategi pemasaran hijau dapat membuka peluang pasar baru sekaligus mendorong terciptanya ekosistem bisnis yang lebih berkelanjutan. Bagi konsumen, tren ini memberikan akses lebih luas terhadap produk yang mendukung gaya hidup ramah lingkungan.
Profil Penulis
- Tengku Kespandiar- Politeknik Negeri Bengkalis
- Elizabeth- University Budi Luhur
- Rino Istarno- Universitas Al-Khairiyah
- Nurlina- Politeknik LP3I Jakarta
- Ratnawita- Universitas Mitra Bangsa
Sumber Penelitian:
“Green Product Marketing Strategy for Micro, Small, and Medium Enterprises in Digital-Based Markets”, Indonesian Journal of Business Analytics, Vol. 6 No. 2, 2026.

0 Komentar