Padi Huma dan Pohon MPTS Dinilai Jadi Kunci Kesejahteraan Perhutanan Sosial di Indonesia
Program Perhutanan Sosial di Indonesia dinilai belum cukup hanya memberikan akses lahan kepada masyarakat sekitar hutan. Penelitian terbaru karya Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta menegaskan bahwa keberhasilan program juga sangat ditentukan oleh strategi pangan dan ekonomi yang mampu menopang kehidupan petani hutan sejak awal pengelolaan lahan.
Dalam artikel ilmiah berjudul Cultivating Resilience: The Synergy of Upland Rice (Padi Huma) and Multi-Purpose Tree Species (MPTS) in Indonesia’s Social Forestry Schemes for Community Welfare, yang diterbitkan di Multitech Journal of Science and Technology (MJST) tahun 2026, Loso Judijanto mengulas bagaimana integrasi padi huma dan tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS) mampu meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian hutan.
Penelitian ini menjadi penting karena ribuan desa di Indonesia masih berada di dalam atau sekitar kawasan hutan negara. Banyak masyarakat bergantung pada praktik pertanian tradisional seperti padi huma untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Di sisi lain, kebijakan kehutanan mewajibkan tutupan pohon permanen demi mendukung konservasi dan target iklim nasional.
Situasi tersebut menciptakan dilema antara kebutuhan pangan masyarakat dan kewajiban menjaga tutupan hutan. Menurut penelitian ini, agroforestri menjadi jalan tengah yang paling realistis.
Padi Huma Jadi “Penyelamat” di Awal Perhutanan Sosial
Penelitian menemukan bahwa padi huma memiliki fungsi penting sebagai penyangga pangan selama masa awal penanaman pohon MPTS. Dalam tiga hingga lima tahun pertama, pohon seperti durian, alpukat, kopi, atau petai belum menghasilkan pendapatan.
Pada fase inilah padi huma menjadi sumber pangan utama keluarga petani.
Kajian terhadap puluhan penelitian di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi menunjukkan bahwa keluarga yang menanam padi huma di sela-sela tanaman pohon mampu mengurangi pengeluaran pembelian beras hingga 40–60 persen.
Padi huma juga membantu petani menghindari utang kepada tengkulak pada musim paceklik. Dengan kebutuhan pangan pokok yang terpenuhi, petani tidak terpaksa menjual hasil kebun dengan harga murah hanya untuk membeli beras.
Penelitian menyebut kondisi ini sebagai “daily plate”, sementara pohon MPTS diposisikan sebagai “saving account” jangka panjang.
Pohon MPTS Jadi Sumber Pendapatan Jangka Panjang
Setelah pohon MPTS mulai produktif, manfaat ekonominya meningkat signifikan. Sistem agroforestri berbasis durian, kopi, alpukat, dan tanaman buah lainnya disebut memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding pertanian monokultur maupun sistem ladang berpindah tradisional.
Beberapa kelompok usaha perhutanan sosial di Lampung dilaporkan mengalami kenaikan pendapatan hingga 300 persen setelah pohon MPTS memasuki masa panen optimal.
Selain menghasilkan buah atau produk non-kayu, MPTS juga memberi perlindungan ekonomi saat harga salah satu komoditas turun. Sistem campuran dinilai lebih tahan terhadap gejolak pasar dibanding pertanian satu jenis tanaman.
Penelitian juga mencatat bahwa pola multi-strata — kombinasi pohon tinggi, tanaman bawah, dan tanaman pangan — menciptakan aliran pendapatan sepanjang tahun.
Contohnya:
- kopi dipanen pertengahan tahun,
- durian dipanen akhir tahun,
- padi huma dipanen awal tahun.
Pola ini membuat arus pendapatan rumah tangga lebih stabil dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman.
Menjaga Hutan Sekaligus Menjaga Tanah
Dari sisi lingkungan, kombinasi padi huma dan MPTS terbukti membantu konservasi tanah dan menjaga kesuburan lahan.
Akar pohon MPTS yang dalam mampu mengambil unsur hara dari lapisan tanah bawah, lalu mengembalikannya ke permukaan melalui guguran daun. Sistem ini membantu memperbaiki kandungan karbon organik tanah dan mengurangi kebutuhan pupuk kimia.
Pada lahan miring, deretan pohon juga berfungsi sebagai penahan erosi. Penelitian mencatat erosi tanah dapat berkurang hingga 50 persen dibanding lahan terbuka tanpa pohon.
Selain itu, agroforestri dinilai lebih tahan menghadapi perubahan iklim. Saat curah hujan ekstrem atau musim kering panjang terjadi, keberagaman tanaman membuat petani tidak kehilangan seluruh sumber penghasilan sekaligus.
Tantangan Besar: Padi Huma Tidak Tahan Naungan
Meski menjanjikan, penelitian ini juga menemukan kendala utama dalam integrasi padi huma dan MPTS.
Padi huma membutuhkan sinar matahari tinggi. Ketika tajuk pohon mulai rapat, produktivitas padi turun drastis.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa saat tingkat naungan melebihi 25–30 persen, hasil panen padi huma dapat turun 40–70 persen. Akibatnya, banyak petani berhenti menanam padi setelah tahun keempat atau kelima.
Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian merekomendasikan pola “wide-alley cropping”, yaitu jarak antarbaris pohon dibuat lebih lebar, sekitar 8–12 meter. Metode ini memungkinkan cahaya matahari tetap masuk sehingga padi huma masih bisa ditanam hingga delapan atau sepuluh tahun.
Namun pendekatan tersebut masih menghadapi kendala regulasi karena standar kehutanan selama ini lebih menekankan jumlah pohon per hektare.
Penelitian juga mendorong pengembangan varietas padi huma toleran naungan agar sistem agroforestri lebih berkelanjutan.
Konflik Antar-Kementerian Hambat Petani Hutan
Selain persoalan teknis, penelitian menyoroti lemahnya koordinasi antar-instansi pemerintah.
Petani perhutanan sosial berada di kawasan hutan, sehingga sering tidak mendapatkan akses bantuan pertanian seperti pupuk subsidi, benih unggul, hingga penyuluhan pertanian.
Di sisi lain, sektor kehutanan lebih fokus pada tutupan pohon dibanding kebutuhan pangan petani.
Kondisi ini membuat banyak kelompok usaha perhutanan sosial kesulitan berkembang.
Penelitian juga menemukan bahwa akses pembiayaan masih menjadi masalah serius. Banyak bank menganggap usaha agroforestri di kawasan hutan terlalu berisiko sehingga sulit memperoleh kredit usaha rakyat (KUR).
Akibatnya, banyak petani tetap bergantung pada tengkulak dan menjual hasil panen dengan harga rendah.
Budaya Lokal dan Perhutanan Sosial
Penelitian menegaskan bahwa padi huma bukan sekadar tanaman pangan, tetapi bagian penting dari identitas budaya masyarakat adat di Indonesia.
Di banyak komunitas Dayak, Baduy, dan masyarakat adat lainnya, padi huma terkait erat dengan ritual adat, pengetahuan lokal, dan hubungan spiritual dengan alam.
Karena itu, program perhutanan sosial yang melarang penanaman padi sering dianggap bertentangan dengan tradisi masyarakat.
Sebaliknya, ketika pemerintah mengizinkan integrasi padi huma dalam sistem agroforestri, tingkat partisipasi masyarakat meningkat signifikan dan konflik sosial menurun.
Penelitian juga mencatat bahwa keterlibatan generasi muda lebih tinggi pada sistem agroforestri dibanding hutan tanaman monokultur karena aktivitas pertanian menjadi lebih beragam dan menarik.
Rekomendasi Penelitian
Penelitian ini memberikan tiga rekomendasi utama:
- memperkuat kerja sama Kementerian Kehutanan dan Kementerian Pertanian,
- menerapkan standar agroforestri dengan jarak tanam pohon lebih lebar,
- memperkuat kapasitas Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) menjadi pelaku agribisnis modern berbasis digital.
Peneliti menilai keberhasilan perhutanan sosial tidak cukup diukur dari jumlah izin yang diterbitkan, tetapi dari kemampuan program meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak hutan.
Profil Penulis
Loso Judijanto merupakan peneliti dari IPOSS Jakarta yang menaruh perhatian pada isu perhutanan sosial, agroforestri, ketahanan pangan, dan pembangunan masyarakat berbasis lingkungan. Penelitiannya banyak membahas hubungan antara kesejahteraan masyarakat pedesaan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Sumber Penelitian
Judijanto, L. (2026). Cultivating Resilience: The Synergy of Upland Rice (Padi Huma) and Multi-Purpose Tree Species (MPTS) in Indonesia’s Social Forestry Schemes for Community Welfare. Multitech Journal of Science and Technology (MJST), Vol. 3 No. 4, hlm. 423–446.
0 Komentar