Penelitian tersebut menyoroti pentingnya stimulasi sejak usia dini untuk membantu perkembangan motorik kasar, motorik halus, kemampuan bahasa, serta sosialisasi anak stunting. Hasil studi menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan stimulasi memadai dari orang tua memiliki kemungkinan 4,593 kali lebih besar mengalami perkembangan sesuai usia dibandingkan anak yang kurang mendapatkan stimulasi.
Penelitian dilakukan di Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, dengan melibatkan balita stunting usia 0–72 bulan. Temuan ini menjadi penting karena stunting selama ini tidak hanya dikaitkan dengan tinggi badan pendek, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan belajar anak di masa depan.
Mamik Ratnawati menjelaskan bahwa masa awal kehidupan merupakan periode emas perkembangan otak. Nutrisi yang buruk sejak dalam kandungan hingga tahun pertama kehidupan dapat memengaruhi pembentukan koneksi saraf dan perkembangan mental anak.
“Perkembangan otak berlangsung sangat cepat sejak bayi lahir. Anak membutuhkan dukungan lingkungan, termasuk stimulasi dari orang tua, agar fungsi motorik, bahasa, dan sosialnya berkembang optimal,” tulis tim peneliti dalam artikelnya.
Stunting sendiri masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional memang turun dari 24,4 persen pada 2021 menjadi 21,6 persen pada 2022. Namun angka tersebut masih berada di atas standar yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Di Kabupaten Jombang, angka stunting pada 2022 tercatat mencapai 22,1 persen. Kondisi ini mendorong perlunya intervensi tidak hanya dari sisi gizi, tetapi juga stimulasi perkembangan anak.
Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan pendekatan observasional analitik dengan metode cross-sectional. Seluruh balita stunting di Desa Puton dijadikan sampel penelitian. Penilaian perkembangan anak dilakukan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), sementara hubungan antara stimulasi dan perkembangan dianalisis menggunakan uji statistik Spearman Rank.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu balita, sekitar 60 persen, telah memberikan stimulasi kepada anak mereka. Bentuk stimulasi yang dimaksud meliputi aktivitas bermain, mengajak anak berbicara, melatih gerakan motorik, hingga membangun interaksi sosial sehari-hari.
Sementara itu, sekitar 40 persen anak dalam penelitian diketahui berkembang sesuai dengan tahapan usianya. Peneliti menemukan adanya hubungan signifikan antara stimulasi perkembangan dengan kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian anak.
Nilai signifikansi penelitian tercatat sebesar 0,044 atau lebih kecil dari 0,05. Angka ini menunjukkan hubungan antara stimulasi dan perkembangan anak terjadi secara nyata secara statistik.
Penelitian juga menemukan bahwa latar belakang ibu memengaruhi kualitas stimulasi yang diberikan kepada anak. Mayoritas responden merupakan ibu dengan pendidikan menengah, dan sebagian besar tidak bekerja di luar rumah.
Menurut peneliti, tingkat pendidikan ibu berperan penting dalam pemahaman tentang tumbuh kembang anak. Banyak ibu memperoleh informasi stimulasi dari Posyandu, Puskesmas, maupun penyuluhan kesehatan yang dilakukan kader kesehatan desa.
Anak stunting diketahui lebih rentan mengalami hambatan perkembangan kognitif, motorik, dan bahasa. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan belajar, produktivitas kerja, bahkan kesehatan reproduksi ketika dewasa.
Karena itu, peneliti menilai stimulasi perkembangan tidak boleh dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian penting dari upaya pencegahan dampak jangka panjang stunting.
“Anak dapat berkembang melalui berbagai aktivitas sederhana dengan pendampingan orang tua,” tulis tim peneliti.
Aktivitas stimulasi tidak selalu membutuhkan biaya besar. Orang tua dapat mengajak anak berbicara, bernyanyi, bermain balok, melatih menggambar, atau sekadar mengajak anak berinteraksi aktif setiap hari. Aktivitas sederhana tersebut membantu membangun koneksi saraf otak anak pada masa pertumbuhan.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya peran Posyandu dalam memantau perkembangan anak stunting secara berkala. Melalui pemeriksaan rutin, keterlambatan perkembangan dapat dideteksi lebih awal sehingga intervensi dapat segera dilakukan.
Selain itu, peneliti mendorong kolaborasi lebih erat antara tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, dan keluarga dalam memberikan edukasi mengenai stimulasi tumbuh kembang anak.
Upaya tersebut dinilai penting terutama di wilayah dengan angka stunting yang masih tinggi. Pendekatan berbasis keluarga dianggap lebih efektif karena orang tua merupakan pihak yang paling dekat dengan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya melalui perbaikan gizi. Perhatian terhadap perkembangan psikososial dan stimulasi anak juga menjadi faktor penting untuk memastikan anak tumbuh sehat dan mampu mencapai potensi optimalnya.
Profil Penulis
Mamik Ratnawati, S.Kep., Ns. merupakan akademisi dari Program Studi Profesi Ners STIKES Pemkab Jombang yang memiliki fokus pada bidang keperawatan anak dan tumbuh kembang balita.
Penelitian ini juga melibatkan:
- Ririn Probowati, Program Studi Diploma III Keperawatan STIKES Pemkab Jombang
- Monika Sawitri, Program Studi Sarjana Keperawatan STIKES Pemkab Jombang
Sumber Penelitian
Judul artikel: Developmental Stimulation of Gross Motor Skills, Fine Motor Skills, Socialization, and Language in Stunted Children
Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics, Vol. 5 No. 1 Tahun 2026
Penulis: Mamik Ratnawati, Ririn Probowati, Monika Sawitri
0 Komentar