Penelitian yang terbit dalam Asian Journal of Healthcare Analytics tahun 2026 itu menyoroti kondisi psikologis remaja Indonesia di tengah tekanan akademik, sosial, dan lemahnya implementasi layanan kesehatan mental di sekolah. Studi dilakukan terhadap 311 siswa SMA di Jakarta Utara yang terdiri dari 167 perempuan dan 144 laki-laki dari sekolah negeri maupun swasta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa depresi menjadi faktor paling kuat yang merusak rasa percaya diri remaja. Selain itu, remaja perempuan terbukti memiliki tingkat kepercayaan diri lebih rendah dibanding laki-laki, meski tingkat kecemasan dan depresi keduanya relatif sama.
Penelitian ini dinilai penting karena Indonesia memiliki lebih dari 45 juta remaja, sementara akses layanan kesehatan mental masih terbatas dan sering kali terhambat stigma sosial. Tim peneliti menilai sekolah harus menjadi garda terdepan dalam mendeteksi masalah psikologis sejak dini.
Menurut Rosnalisa Zein dan tim, banyak kebijakan kesehatan mental di Indonesia sebenarnya sudah tersedia, termasuk melalui Undang-Undang Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014 dan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014. Namun, implementasinya di sekolah masih belum merata.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga lingkungan utama pembentukan kesehatan psikologis remaja,” tulis para peneliti dalam laporannya.
Penelitian menggunakan pendekatan survei kuantitatif dengan tiga instrumen psikologis internasional, yaitu Beck Anxiety Inventory (BAI) untuk mengukur kecemasan, Beck Depression Inventory (BDI) untuk mengukur depresi, dan Self-Confidence Inventory (SCI) untuk menilai tingkat kepercayaan diri siswa.
Survei dilakukan langsung di sekolah dengan pendampingan peneliti dan persetujuan orang tua. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan metode statistik factorial ANOVA dan regresi linear untuk melihat hubungan antara jenis sekolah, gender, kecemasan, depresi, dan rasa percaya diri.
Hasilnya menunjukkan beberapa temuan penting:
- Siswa sekolah swasta memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi dibanding siswa sekolah negeri.
- Siswa sekolah negeri menunjukkan tingkat kepercayaan diri lebih baik.
- Remaja perempuan memiliki rasa percaya diri lebih rendah dibanding laki-laki.
- Depresi menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi rendahnya kepercayaan diri.
- Kecemasan dan depresi terbukti saling berkaitan erat.
Dalam penelitian tersebut, rata-rata skor kecemasan dan depresi siswa masuk kategori sedang. Namun, kelompok siswa sekolah swasta menunjukkan tekanan psikologis lebih besar. Peneliti menduga hal ini dipengaruhi budaya kompetisi akademik, tuntutan prestasi tinggi, tekanan biaya pendidikan, serta ekspektasi keluarga yang lebih besar.
Sebaliknya, sekolah negeri dinilai memiliki lingkungan sosial yang lebih beragam sehingga membantu siswa membangun rasa percaya diri yang lebih stabil.
Penelitian ini juga menyoroti persoalan gender dalam kesehatan mental remaja Indonesia. Perempuan dinilai menghadapi tekanan sosial lebih besar terkait penampilan, penerimaan sosial, dan tuntutan perilaku. Faktor-faktor tersebut membuat rasa percaya diri remaja perempuan lebih mudah terganggu.
Menariknya, perbedaan gender tidak terlalu terlihat pada tingkat kecemasan maupun depresi. Peneliti menilai hal itu kemungkinan karena tekanan akademik dan sosial di kawasan perkotaan sudah dirasakan hampir semua remaja tanpa memandang jenis kelamin.
Analisis statistik dalam studi ini memperlihatkan bahwa depresi memiliki hubungan paling kuat terhadap rendahnya kepercayaan diri remaja. Semakin tinggi tingkat depresi siswa, semakin rendah rasa percaya diri mereka.
Temuan ini memperkuat teori psikologi kognitif yang menyebut depresi dapat membentuk pandangan negatif terhadap diri sendiri, masa depan, dan lingkungan sekitar. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi prestasi akademik, hubungan sosial, hingga risiko gangguan mental saat dewasa.
Peneliti menilai intervensi kesehatan mental di sekolah tidak bisa lagi dilakukan secara umum dan seragam. Setiap kelompok siswa membutuhkan pendekatan berbeda.
Untuk sekolah swasta, program yang direkomendasikan adalah pelatihan manajemen kecemasan, pengurangan budaya kompetisi berlebihan, serta penguatan dukungan sosial antar siswa.
Sementara itu, sekolah negeri tetap perlu memperkuat edukasi tentang depresi dan deteksi dini gejala psikologis seperti menarik diri dari lingkungan sosial atau perubahan perilaku belajar.
Tim peneliti juga merekomendasikan program khusus bagi remaja perempuan, seperti pelatihan kepercayaan diri, kelompok dukungan psikologis, dan pendidikan tentang tekanan sosial serta citra tubuh.
Bagi siswa laki-laki, sekolah dianjurkan membuka ruang diskusi emosional agar mereka lebih nyaman membicarakan kecemasan dan tekanan mental tanpa stigma.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa masalah kesehatan mental remaja Indonesia tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dipengaruhi lingkungan sekolah dan budaya sosial yang membentuk kehidupan sehari-hari siswa.
Rosnalisa Zein dan tim menilai pendekatan kesehatan mental di sekolah harus lebih presisi, berbasis data, dan disesuaikan dengan kebutuhan tiap kelompok siswa agar intervensi benar-benar efektif.
Profil Penulis
Rosnalisa Zein merupakan peneliti dari Trust Psikologi Indonesia dan Biro Psikologi Sudindik JU II Kota. Penelitian ini juga melibatkan Iwan Kusnawirawan, Dwi Ratna Sari Handayani, Hernayati, Muhammad Arsyad Subu, dan Imam Waluyo.
Tim penulis berasal dari berbagai institusi, termasuk Trust Psikologi Indonesia, Binawan University, High School of Law Litigation, serta Indonesian Manual Manipulative Association, dengan fokus riset pada kesehatan mental, pendidikan, hukum kesehatan, dan psikologi remaja.
0 Komentar