Penelitian ini dilakukan oleh Baiq Chika Mutia Darmadja bersama Emi Salmah dan Baiq Saripta Wijimulawiani dari Universitas Mataram. Hasil riset mereka dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Sustainable Applied Sciences Volume 4 Nomor 4 tahun 2026.
Kajian tersebut menyoroti fenomena pembangunan perumahan yang semakin masif di Kecamatan Gerung. Wilayah yang sebelumnya didominasi sawah dan lahan pertanian kini mulai berubah menjadi kawasan hunian akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan wilayah.
Data yang dikutip peneliti menunjukkan luas panen di Lombok Barat sempat mencapai 26.863 hektare pada 2022 dengan produksi padi 135.065 ton. Namun pada 2024, luas panen turun menjadi 24.860 hektare dengan produksi hanya 122.867 ton. Penurunan ini menjadi salah satu indikator meningkatnya konversi lahan pertanian ke sektor nonpertanian, terutama perumahan.
Penelitian difokuskan di Desa Beleke dan Dusun Giri Menang, dua wilayah di Kecamatan Gerung yang mengalami perkembangan perumahan cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir. Kedua wilayah dipilih karena mayoritas masyarakatnya masih bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghasilan utama.
Para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kelompok tani, petani pemilik lahan, serta pemerintah kecamatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka mengelola hasil penjualan tanah. Petani yang mampu membeli lahan baru atau menginvestasikan uang penjualan tanah secara produktif cenderung mengalami peningkatan ekonomi.
Sebaliknya, petani yang menjual tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa strategi ekonomi jangka panjang justru menghadapi kondisi pendapatan yang tidak stabil. Mereka kehilangan sumber penghasilan utama karena lahan pertanian yang sebelumnya digarap telah berubah menjadi kawasan perumahan.
Salah satu informan penelitian, H. Sukron Hamdani, menjelaskan bahwa petani pemilik lahan relatif lebih diuntungkan dibanding buruh tani atau petani penggarap. Pemilik lahan masih memiliki aset yang dapat dijual atau dialihkan ke investasi lain, sementara petani penggarap kehilangan akses terhadap lahan kerja mereka.
Penelitian juga menemukan adanya perubahan struktur pekerjaan masyarakat desa. Sejumlah petani mulai mencari pekerjaan tambahan di luar sektor pertanian, seperti berdagang, menjadi buruh bangunan, atau bekerja di sektor informal lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa konversi lahan tidak hanya mengubah bentang wilayah, tetapi juga mengubah pola mata pencaharian masyarakat pedesaan.
Menurut para peneliti dari Universitas Mataram, persepsi petani terhadap alih fungsi lahan juga berbeda-beda. Petani yang berhasil memanfaatkan hasil penjualan tanah untuk membeli lahan baru cenderung melihat konversi lahan sebagai peluang ekonomi. Namun petani yang kehilangan sumber penghasilan tetap memandang perubahan tersebut sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup keluarga mereka.
Kepala Kecamatan Gerung, Fitriati Wahyuni, yang turut menjadi informan penelitian, menyebut berkurangnya lahan pertanian memaksa sebagian masyarakat mencari pekerjaan di luar sektor pertanian demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa pembangunan perumahan di wilayah agraris memerlukan kebijakan yang lebih seimbang. Di satu sisi, kebutuhan hunian terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Namun di sisi lain, pengurangan lahan pertanian dapat berdampak langsung pada ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Peneliti menilai pemerintah daerah perlu memperkuat regulasi pengendalian alih fungsi lahan agar pembangunan tidak sepenuhnya mengorbankan sektor pertanian. Selain itu, petani juga membutuhkan program pendampingan agar hasil penjualan lahan dapat digunakan untuk usaha produktif dan berkelanjutan.
Kajian ini sekaligus mempertegas bahwa dampak alih fungsi lahan tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan. Faktor utama yang menentukan kondisi ekonomi petani setelah menjual lahan adalah kemampuan adaptasi, strategi pengelolaan keuangan, serta akses terhadap sumber penghasilan baru.
Fenomena serupa diperkirakan akan terus terjadi di berbagai daerah Indonesia yang mengalami urbanisasi cepat. Karena itu, hasil penelitian dari Lombok Barat ini dinilai penting sebagai bahan evaluasi kebijakan pembangunan kawasan permukiman di wilayah pertanian.
Profil Penulis Penelitian
- Baiq Chika Mutia Darmadja — peneliti bidang sosial ekonomi pertanian dari University of Mataram.
- Emi Salmah — akademisi Universitas Mataram yang meneliti isu pembangunan wilayah dan masyarakat pedesaan.
- Baiq Saripta Wijimulawiani — peneliti Universitas Mataram dengan fokus kajian sosial ekonomi masyarakat.
Sumber Penelitian
Darmadja, Baiq Chika Mutia, Emi Salmah, dan Baiq Saripta Wijimulawiani. “The Impact of Agricultural Land Conversion into Residential Areas on Farmers’ Income in Gerung District, West Lombok Regency.” International Journal of Sustainable Applied Sciences, Vol. 4, No. 4, 2026, hlm. 271–282.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i4.420.
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar