Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan kerja menjadi perhatian besar di berbagai perusahaan. Banyak pekerja kantor menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan komputer dengan posisi tubuh yang tidak ideal. Kondisi ini memicu berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri punggung, sakit leher, kelelahan mata, hingga gangguan muskuloskeletal atau musculoskeletal disorders (MSDs). Penelitian Gempur Santoso menunjukkan bahwa desain ruang kerja yang buruk dapat meningkatkan risiko cedera kerja dan menurunkan performa karyawan.
Penelitian tersebut disusun menggunakan metode studi literatur atau literature review. Penulis mengumpulkan berbagai data dari jurnal ilmiah, buku akademik, hasil penelitian sebelumnya, hingga pendapat para ahli ergonomi. Semua data kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memahami hubungan antara desain ruang kerja ergonomis dengan kesehatan dan produktivitas pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ergonomi di kantor memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan fisik maupun mental pekerja. Salah satu temuan penting berasal dari laporan Washington State Department of Labor and Industry yang dikutip dalam penelitian ini. Setelah meninjau 250 studi kasus ergonomi, ditemukan adanya penurunan gangguan muskuloskeletal hingga 59 persen setelah perbaikan ergonomis diterapkan di tempat kerja.
Selain mengurangi cedera kerja, desain ruang kerja ergonomis juga mampu meningkatkan efisiensi kerja. Penelitian lain yang dirujuk dalam artikel tersebut menyebutkan bahwa penerapan ergonomi secara efektif dapat meningkatkan efisiensi kerja hingga 30 persen, mengurangi keluhan muskuloskeletal sebesar 40 persen, dan menurunkan tingkat absensi karyawan hingga 30 persen.
Menurut Gempur Santoso, ada beberapa unsur utama dalam menciptakan ruang kerja ergonomis. Pertama adalah menjaga postur tubuh saat bekerja. Posisi duduk yang benar harus membuat punggung tetap tegak, bahu sejajar, serta lutut membentuk sudut sekitar 90 derajat agar sirkulasi darah tetap lancar. Kedua, penggunaan meja dan kursi ergonomis yang dapat disesuaikan dengan tinggi tubuh pengguna. Kursi dengan penyangga lumbar dinilai penting untuk menjaga posisi alami tulang belakang dan mengurangi tekanan pada punggung.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah pencahayaan ruangan. Penelitian ini menegaskan bahwa pencahayaan yang buruk dapat menyebabkan kelelahan mata dan menurunkan konsentrasi kerja. Ruang kerja ideal sebaiknya memiliki pencahayaan alami yang cukup atau lampu dengan intensitas cahaya yang menyerupai sinar matahari. Penggunaan lampu meja dengan fitur pengatur cahaya juga dianjurkan untuk mengurangi silau layar komputer dan mencegah Computer Vision Syndrome (CVS).
Pada tabel yang ditampilkan di halaman tujuh artikel, penulis juga menampilkan standar pencahayaan ruangan untuk berbagai area kerja dan hunian. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa ruang kerja membutuhkan tingkat pencahayaan sekitar 120–250 lux agar aktivitas visual tetap nyaman dan aman bagi mata.
Selain faktor fisik, penelitian ini menyoroti pentingnya aktivitas istirahat singkat selama bekerja. Karyawan dianjurkan berdiri, berjalan ringan, atau melakukan peregangan setiap 25 hingga 30 menit kerja. Penulis mengaitkan kebiasaan ini dengan teknik Pomodoro yang dinilai efektif menjaga fokus sekaligus mengurangi ketegangan pada mata dan tulang belakang.
Penelitian juga menjelaskan bahwa ruang kerja ergonomis bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kondisi psikologis pekerja. Lingkungan kerja yang nyaman dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kepuasan kerja. Ketika pekerja merasa nyaman dan aman, motivasi serta kualitas kerja cenderung meningkat.
Dalam pembahasannya, Gempur Santoso menegaskan bahwa perusahaan perlu mulai memandang ergonomi sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pengeluaran tambahan. Menurutnya, penyediaan kursi ergonomis, meja kerja yang sesuai, pencahayaan yang baik, serta edukasi mengenai postur kerja dapat membantu perusahaan menekan angka cedera kerja dan meningkatkan performa organisasi secara keseluruhan.
Meski demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Studi hanya menggunakan pendekatan kajian pustaka tanpa observasi lapangan atau pengumpulan data empiris secara langsung. Penelitian juga lebih berfokus pada lingkungan kantor dan belum membahas sektor lain seperti manufaktur, kesehatan, atau pendidikan. Karena itu, penulis merekomendasikan penelitian lanjutan berbasis survei lapangan dan analisis kuantitatif agar dampak ergonomi terhadap produktivitas dapat diukur lebih rinci.
Profil Penulis
Gempur Santoso merupakan akademisi dari Universitas Maarif Hasyim Latif Sidoarjo yang memiliki perhatian pada bidang ergonomi kerja, kesehatan lingkungan kerja, dan produktivitas organisasi. Dalam penelitiannya, ia menekankan pentingnya desain ruang kerja sehat untuk mendukung kesejahteraan pekerja sekaligus meningkatkan kualitas kinerja perusahaan.
Sumber Penelitian
Santoso, Gempur. An Ergonomic Work Space to Boost Productivity. Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Vol. 5 No. 2, 2026, halaman 417–426. DOI: 10.55927/ajabm.v5i2.40, URL: https://journalajabm.my.id/index.php/ajabm
0 Komentar