Riset Universitas Kadiri: Literasi Digital Jadi Kunci Kemajuan Agribisnis Jagung di Bima

Gambar Illustrasi AI
FORMOSA NEWS - Kediri - Transformasi digital di sektor pertanian ternyata belum cukup hanya mengandalkan teknologi. Penelitian terbaru dari Universitas Kadiri menunjukkan bahwa kemampuan petani memahami teknologi digital justru menjadi faktor paling menentukan dalam meningkatkan kinerja agribisnis jagung di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Penelitian ini dilakukan oleh Arissaryadin bersama Agustia Dwi Pamujiati dan Reksa Nanda Prayoga dari Fakultas Pertanian Universitas Kadiri. Studi dipublikasikan pada 2026 dalam jurnal ilmiah International Journal of Sustainability in Research dengan fokus pada integrasi mixed methods dan big data analytics dalam sistem digital farming untuk agribisnis jagung di Bima.

Hasil penelitian menjadi penting karena Kabupaten Bima merupakan salah satu sentra produksi jagung terbesar di Indonesia timur. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi jagung Bima mencapai sekitar 724 ribu ton pada 2023. Namun tingginya produksi belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

Peneliti menemukan persoalan utama bukan lagi pada kemampuan produksi, melainkan lemahnya sistem distribusi, akses pasar, dan kesiapan digital petani. Saat panen raya, harga jagung sering anjlok akibat ketergantungan pada tengkulak dan minimnya akses informasi pasar secara real time.

Dalam penelitian tersebut, tim Universitas Kadiri melibatkan 140 petani jagung dari 18 kecamatan di Kabupaten Bima selama periode Desember 2025 hingga April 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kombinasi kuantitatif dan kualitatif melalui survei, wawancara mendalam, serta focus group discussion (FGD).

Para peneliti menganalisis tiga faktor utama yang memengaruhi performa agribisnis jagung, yaitu:

  • adopsi teknologi digital,
  • literasi digital petani,
  • akses pasar.

Kinerja agribisnis kemudian diukur dari produktivitas, efisiensi usaha, hingga peningkatan pendapatan petani.

Hasil analisis statistik menunjukkan seluruh faktor tersebut berpengaruh positif terhadap kinerja agribisnis jagung. Namun, literasi digital menjadi faktor paling dominan.

Dalam model regresi penelitian, literasi digital memiliki nilai pengaruh tertinggi dengan koefisien 0,428. Sementara adopsi teknologi berada pada angka 0,312 dan akses pasar sebesar 0,267. Model penelitian mampu menjelaskan 68 persen variasi performa agribisnis petani jagung di Bima.

Penelitian juga menggunakan pendekatan machine learning dengan algoritma random forest untuk membaca pola data lebih mendalam. Hasilnya konsisten: literasi digital kembali muncul sebagai faktor paling berpengaruh dengan kontribusi 34 persen terhadap peningkatan performa agribisnis.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keberadaan aplikasi pertanian, drone, Internet of Things (IoT), atau big data tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani apabila kemampuan pengguna masih terbatas.

Mayoritas responden penelitian memang berada pada usia produktif 31–50 tahun. Namun, sekitar 85 persen petani hanya memiliki pendidikan dasar hingga menengah. Selain itu, 84 persen responden tercatat memiliki tingkat literasi digital rendah hingga sedang.

Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan antara pengalaman bertani dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital.

“Efektivitas digital farming tidak terutama ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi oleh kapasitas petani dalam memahami dan menggunakan teknologi tersebut,” tulis Arissaryadin dan tim peneliti dari Universitas Kadiri dalam laporannya.

Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar petani masih bergantung pada sistem pemasaran tradisional. Petani menjual hasil panen melalui perantara karena belum memiliki akses kuat ke pasar digital maupun informasi harga secara langsung.

Akibatnya, posisi tawar petani tetap lemah, terutama saat produksi melimpah. Banyak petani kesulitan menentukan waktu penjualan terbaik karena keterbatasan informasi pasar.

Dalam diskusi kelompok terarah, petani mengaku sudah mengetahui pentingnya teknologi digital, tetapi menghadapi berbagai hambatan seperti:

  • kurangnya pelatihan teknis,
  • minimnya pendampingan,
  • keterbatasan jaringan internet,
  • lemahnya dukungan kelembagaan.

Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa transformasi digital pertanian harus dipahami sebagai sistem yang terintegrasi. Teknologi tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sumber daya manusia, infrastruktur, dan sistem pasar yang sehat.

Menurut tim peneliti, penguatan literasi digital harus menjadi prioritas utama pemerintah dan lembaga pertanian jika ingin mempercepat transformasi agribisnis berbasis teknologi.

Selain itu, mereka mendorong pembangunan sistem pemasaran digital terintegrasi agar petani dapat memperoleh akses harga yang lebih transparan dan saluran distribusi yang lebih luas.

Pengembangan ekosistem digital yang inklusif juga dinilai penting, terutama melalui:

  • pembangunan infrastruktur internet pedesaan,
  • pelatihan digital bagi petani,
  • penguatan peran penyuluh pertanian,
  • dukungan kelembagaan agribisnis berbasis data.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa masa depan pertanian modern bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan manusia yang menggunakannya.

Jika literasi digital petani meningkat, teknologi digital berpotensi memperkuat produktivitas, efisiensi distribusi, hingga stabilitas harga hasil panen. Sebaliknya, tanpa kemampuan digital yang memadai, inovasi pertanian berisiko hanya menjadi teknologi mahal yang sulit dimanfaatkan secara optimal.

Profil Penulis

Arissaryadin merupakan akademisi yang meneliti bidang agribisnis, penyuluhan pertanian, dan transformasi digital sektor pertanian. Penelitian ini juga melibatkan Agustia Dwi Pamujiati dan Reksa Nanda Prayoga dari Fakultas Pertanian Universitas Kadiri, Kediri, Jawa Timur.

Sumber Penelitian

Judul penelitian: Integrating Mixed Methods and Big Data Analytics in Digital Farming to Improve Corn Agribusiness Performance in Bima Regency, Indonesia

Jurnal: International Journal of Sustainability in Research (IJSR) Vol. 4 No. 3 Tahun 2026

Posting Komentar

0 Komentar