Penelitian yang dipublikasikan di Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) itu menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur tahan cuaca dan sistem drainase terpadu di Jayawijaya. Studi ini dinilai penting karena wilayah pegunungan Papua menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan akses, kondisi geografis ekstrem, dan perubahan iklim yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Artikel ilmiah berjudul Spatial Transformation of 3T Regions: A Case Study of Urban Revitalization in Jayawijaya Regency from a Perspective Regional Planning tersebut diterbitkan pada Vol. 5 No. 5 tahun 2026 dengan DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.83.
Jayawijaya memiliki posisi strategis sebagai pusat aktivitas di Provinsi Papua Pegunungan. Namun, sebagai kawasan 3T, daerah ini masih menghadapi persoalan infrastruktur dasar dan aksesibilitas ekonomi. Kondisi tersebut mendorong perlunya revitalisasi kawasan perkotaan agar pembangunan tidak hanya berfokus pada fisik kota, tetapi juga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Tim peneliti menjelaskan bahwa pembangunan di wilayah pegunungan sering kali terkendala topografi dan cuaca ekstrem. Akibatnya, banyak infrastruktur tidak bertahan lama dan membutuhkan biaya pemeliharaan tinggi. Masalah drainase menjadi salah satu isu paling mendesak karena sering menyebabkan gangguan aktivitas masyarakat, terutama di kawasan pasar dan pusat ekonomi.
Untuk mengkaji persoalan tersebut, peneliti melakukan observasi tata ruang berdasarkan dokumen RPJMD Provinsi Papua Pegunungan serta survei terhadap 100 responden masyarakat lokal pada Maret 2026. Penelitian difokuskan pada dua kawasan utama, yakni kawasan pasar sebagai pusat ekonomi dan kawasan wisata sebagai pusat layanan lingkungan.
Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan analisis SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman dalam pengembangan kawasan perkotaan Jayawijaya.
Hasil penelitian menunjukkan dukungan masyarakat terhadap revitalisasi perkotaan tergolong sangat tinggi. Skor rata-rata dukungan publik mencapai 6,5. Masyarakat menilai revitalisasi kota bukan sekadar mempercantik kawasan, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperkuat ekonomi lokal.
Selain itu, penelitian menemukan persoalan serius pada sistem drainase. Responden memberikan skor 6,75 terhadap kebutuhan perluasan dan peningkatan efektivitas drainase. Temuan ini menunjukkan bahwa infrastruktur di Jayawijaya masih rentan terhadap curah hujan tinggi dan perubahan cuaca ekstrem.
“Transformasi spasial di Jayawijaya harus didukung infrastruktur yang tahan terhadap kondisi cuaca dan melibatkan partisipasi masyarakat,” tulis Hardiyanti YM dan tim peneliti dalam laporannya.
Dalam analisis kawasan, peneliti menemukan bahwa area pasar memiliki tingkat aktivitas ekonomi yang sangat tinggi, tetapi tata ruangnya masih padat dan tumpang tindih. Kondisi tersebut menyebabkan kemacetan ruang dan menghambat kelancaran distribusi barang. Revitalisasi di kawasan pasar diarahkan pada penataan jalur pejalan kaki dan pengaturan area bongkar muat.
Sementara itu, kawasan wisata memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat layanan lingkungan dan ekowisata. Namun, akses infrastruktur menuju kawasan wisata dinilai masih terbatas dan belum mendukung pengembangan ekonomi secara optimal.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan pemerintah daerah dan kebutuhan masyarakat lokal. Menurut tim peneliti, pembangunan wilayah 3T tidak dapat dilakukan dengan pendekatan satu arah dari pemerintah, melainkan harus melibatkan masyarakat sebagai bagian utama proses perencanaan.
Melalui analisis SWOT, penelitian mengidentifikasi sejumlah kekuatan Jayawijaya, antara lain dukungan masyarakat yang tinggi, keberadaan mandat pembangunan dalam RPJMD, dan posisi strategis sebagai pusat logistik Papua Pegunungan. Di sisi lain, kelemahan terbesar terletak pada sistem drainase yang belum terintegrasi, kerentanan infrastruktur terhadap cuaca, dan keterbatasan akses wilayah.
Berdasarkan hasil tersebut, peneliti merekomendasikan strategi pembangunan berbasis ketahanan fisik atau growth-oriented strategy. Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya disarankan memprioritaskan pembangunan infrastruktur tahan cuaca, penguatan sistem drainase terpadu, dan peningkatan aksesibilitas kawasan strategis.
Penelitian ini dinilai relevan bagi pemerintah daerah, perencana wilayah, akademisi, hingga sektor pembangunan di Indonesia timur. Model revitalisasi berbasis partisipasi masyarakat dan ketahanan lingkungan dapat menjadi acuan bagi pembangunan wilayah 3T lainnya di Indonesia.
Selain itu, penelitian membuka peluang pengembangan studi lanjutan terkait dampak ekonomi jangka panjang revitalisasi kawasan perkotaan di Papua. Penggunaan teknologi GIS, pengembangan konsep smart city di wilayah terpencil, hingga studi komparatif antarwilayah 3T disebut penting untuk memperkuat strategi pembangunan berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.
Profil Penulis
Hardiyanti YM merupakan akademisi dari Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena, Papua Pegunungan, yang berfokus pada kajian tata ruang, pembangunan wilayah 3T, dan revitalisasi perkotaan berkelanjutan. Penelitian ini juga melibatkan Sabriani, Yusman, Notiben Wenda, dan Neben Weya dari Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena, serta Megawati Bohari dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Sumatera Barat.
Sumber Penelitian
Hardiyanti YM, Sabriani, Yusman, Megawati Bohari, Notiben Wenda, dan Neben Weya. “Spatial Transformation of 3T Regions: A Case Study of Urban Revitalization in Jayawijaya Regency from a Perspective Regional Planning.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 5, 2026, halaman 1423–1432.
0 Komentar