Pragmatik Kognitif dalam Interaksi Manusia-AI


Manusia yang “Menciptakan Makna”: Studi UNIMED Ungkap Cara Kita Memahami AI
Perkembangan kecerdasan buatan berbasis bahasa mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi makna dalam percakapan itu ternyata tetap dibangun oleh manusia sendiri. Itulah temuan utama penelitian terbaru yang dipimpin Muhammad Natsir dari Universitas Negeri Medan (UNIMED), bersama Nadya Anggita Lubis, Fanny Agnesya Siagian, Sry Juniar Limbong, dan Yoanne Simbolon. Studi ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Integrative Research dan menyoroti bagaimana manusia memahami, menafsirkan, serta “merasakan” interaksi dengan AI.
Penelitian ini penting karena interaksi manusia dengan AI—seperti chatbot—tidak lagi sekadar bertukar informasi. AI kini digunakan dalam pendidikan, refleksi pribadi, hingga pengambilan keputusan. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah AI benar-benar memahami manusia, atau justru manusia yang menciptakan makna dari respons AI?

Latar Belakang: Ilusi Pemahaman di Era AI

Kemajuan AI berbasis bahasa membuat percakapan terasa semakin “manusiawi”. Banyak pengguna merasa dipahami oleh AI, meskipun sistem tersebut tidak memiliki kesadaran atau niat seperti manusia. Dalam perspektif pragmatik kognitif, makna tidak hanya berasal dari kata-kata, tetapi dari proses mental manusia—seperti menafsirkan konteks, mengisi kekosongan informasi, dan mengasumsikan maksud komunikasi. Penelitian ini mencoba menjelaskan fenomena tersebut melalui pengalaman langsung pengguna AI.

Metodologi: Menggali Pengalaman Nyata Pengguna

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interpretative phenomenological analysis (IPA). Fokusnya adalah pengalaman subjektif pengguna saat berinteraksi dengan AI. Sebanyak 10–15 partisipan dewasa yang aktif menggunakan chatbot dalam konteks akademik dan profesional diwawancarai secara mendalam. Setiap wawancara berlangsung 45–60 menit dan dilengkapi dengan analisis dokumen percakapan nyata dengan AI. Data kemudian dianalisis menggunakan metode tematik untuk menemukan pola bagaimana manusia membangun makna dalam interaksi tersebut.

Temuan Utama: Tiga Pola Cara Manusia Memahami AI

Penelitian ini mengungkap tiga temuan kunci yang saling terkait:
Ilusi Pemahaman
Banyak pengguna merasa AI “mengerti” mereka. Padahal, perasaan ini muncul karena respons AI terlihat relevan dan terstruktur dengan baik.
Peneliti menemukan bahwa:
-Pengguna secara aktif mengisi kekosongan makna dalam jawaban AI
-Pemahaman sebenarnya berasal dari proses berpikir manusia
-AI hanya menyediakan stimulus linguistik, bukan makna sebenarnya
Dengan kata lain, “pemahaman” itu adalah hasil kerja kognitif manusia, bukan kemampuan AI.
Atribusi Niat dan Kesopanan
Pengguna sering menganggap AI memiliki sikap tertentu, seperti:
-“ramah”
-“netral”
-“terlalu formal”
Padahal, AI tidak memiliki niat atau emosi. Menurut penelitian ini, atribusi tersebut berfungsi sebagai strategi kognitif agar percakapan terasa masuk akal. Pengguna menerapkan norma komunikasi manusia—seperti kesopanan—untuk memahami respons AI.
Jarak Emosional dan Refleksi Etis
Meski kadang merasa terbantu secara emosional, pengguna tetap menjaga jarak dengan AI.
Beberapa temuan penting:
-Pengguna sadar AI bukan manusia
-Ada kekhawatiran tentang ketergantungan pada AI
-Interaksi dengan AI memicu refleksi etis, terutama dalam pengambilan keputusan
Menariknya, AI juga dianggap sebagai “teman diskusi aman” karena tidak menghakimi, sehingga mendorong keterbukaan dalam berpikir.

Implikasi: Literasi Digital Jadi Kunci

Penelitian ini memiliki dampak luas, terutama dalam pendidikan dan penggunaan teknologi sehari-hari.
Muhammad Natsir dari Universitas Negeri Medan menekankan bahwa makna dalam interaksi AI sepenuhnya bergantung pada pengguna. Artinya, kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting.
Beberapa implikasi utama:
Untuk pendidikan:
AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu berpikir, bukan sumber kebenaran mutlak.
Untuk masyarakat:
Pengguna perlu memahami bahwa AI tidak benar-benar “mengerti”, sehingga tidak mudah percaya secara berlebihan.
Untuk pengembang AI:
Desain sistem harus transparan dan tidak menimbulkan kesan seolah-olah AI memiliki kesadaran.

Kutipan Akademik

Muhammad Natsir dan tim dari Universitas Negeri Medan menyimpulkan bahwa makna dalam interaksi manusia–AI “tidak berasal dari kemampuan komunikasi AI, tetapi dibangun secara aktif melalui inferensi dan kesadaran pengguna.”

Profil Penulis

-Muhammad Natsir – Peneliti utama, Universitas Negeri Medan; bidang linguistik dan pragmatik kognitif
-Nadya Anggita Lubis – Peneliti, Universitas Negeri Medan; fokus pada komunikasi digital
-Fanny Agnesya Siagian – Peneliti, Universitas Negeri Medan; bidang bahasa dan interaksi manusia–teknologi
-Sry Juniar Limbong – Peneliti, Universitas Negeri Medan; kajian pendidikan dan bahasa
-Yoanne Simbolon – Peneliti, Universitas Negeri Medan; fokus komunikasi dan linguistik

Sumber Penelitian

Natsir, M., Lubis, N. A., Siagian, F. A., Limbong, S. J., & Simbolon, Y. (2026). Cognitive Pragmatics in Human–AI Interaction. International Journal of Integrative Research (IJIR), Vol. 4 No. 3, hlm. 139–152.

Posting Komentar

0 Komentar