Perubahan dan Pemeliharaan Bahasa dalam Keluarga Bilingual: Tinjauan Literatur Sistematis tentang Tren Terkini dan Faktor-faktor yang Mendasarinya

Gambar Ilustrasi AI

Bahasa Daerah dalam Keluarga Bilingual Terancam Hilang di Era Digital

Penelitian terbaru dari Yosefina Helenora Jem di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng mengungkap bahwa semakin banyak keluarga bilingual di dunia mulai meninggalkan bahasa warisan atau bahasa daerah mereka dan beralih ke bahasa mayoritas. Studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) ini menunjukkan bahwa pendidikan formal, media digital, dan tekanan sosial menjadi faktor utama yang mempercepat pergeseran bahasa dalam keluarga modern.

Temuan tersebut dinilai penting karena hilangnya bahasa daerah kini tidak lagi sekadar persoalan budaya, tetapi juga berkaitan dengan identitas, keberagaman linguistik, pendidikan, hingga keberlanjutan warisan budaya antargenerasi.

Keluarga Modern Semakin Sulit Mempertahankan Bahasa Warisan

Penelitian menjelaskan bahwa bilingualisme kini menjadi fenomena umum, terutama pada keluarga migran, keluarga urban, dan komunitas multibahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga seperti ini harus menyeimbangkan penggunaan bahasa ibu atau bahasa warisan dengan bahasa mayoritas yang digunakan di sekolah, tempat kerja, dan ruang digital.

Namun, perkembangan teknologi digital membuat situasi menjadi semakin kompleks. Anak-anak saat ini terus terpapar bahasa dominan melalui media sosial, video daring, permainan digital, layanan streaming, hingga lingkungan pendidikan.

Akibatnya, bahasa daerah atau bahasa warisan perlahan semakin jarang digunakan dalam komunikasi keluarga.

Menurut penelitian tersebut, pergeseran bahasa sering terjadi secara halus dan tanpa disadari. Anak-anak cenderung memilih bahasa mayoritas karena dianggap lebih modern, lebih berguna untuk pendidikan, dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Bahasa Mayoritas Kini Mendominasi Kehidupan Anak

Yosefina Helenora Jem menjelaskan bahwa dominasi bahasa mayoritas tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga masuk ke ruang keluarga melalui teknologi digital.

Penelitian menyebutkan bahwa keluarga tidak lagi menjadi “ruang aman” untuk mempertahankan bahasa warisan. Tekanan dari lingkungan sosial, institusi pendidikan, dan media digital membuat bahasa mayoritas semakin dominan dalam percakapan sehari-hari.

Dalam banyak kasus, orang tua juga secara sadar mulai memprioritaskan bahasa mayoritas karena percaya bahasa tersebut dapat meningkatkan peluang pendidikan dan masa depan ekonomi anak.

Fenomena ini menyebabkan banyak anak menjadi bilingual pasif, bahkan sepenuhnya meninggalkan bahasa daerah keluarganya.

Penelitian Menelaah Studi dari Berbagai Negara

Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA untuk menganalisis berbagai studi empiris mengenai keluarga bilingual yang dipublikasikan antara 2014 hingga 2024.

Kajian tersebut mengambil data dari basis akademik internasional seperti Scopus, Web of Science, dan Google Scholar.

Studi yang dianalisis mencakup:

  • Keluarga migran di negara berbahasa Inggris
  • Komunitas diaspora transnasional
  • Keluarga urban multibahasa di Asia Tenggara
  • Keluarga bilingual di negara berkembang

Penelitian juga menelaah pola komunikasi keluarga, kebijakan bahasa di rumah, pengaruh sekolah, serta dampak media digital terhadap penggunaan bahasa.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pergeseran bahasa dipengaruhi kombinasi faktor sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi.

Empat Faktor Utama Penyebab Pergeseran Bahasa

Penelitian menemukan empat faktor dominan yang memengaruhi perubahan penggunaan bahasa dalam keluarga bilingual.

1. Pandangan Orang Tua Sangat Menentukan

Faktor paling berpengaruh adalah ideologi bahasa orang tua, yaitu keyakinan mengenai penting atau tidaknya suatu bahasa.

Orang tua yang menganggap bahasa daerah sebagai bagian identitas budaya cenderung lebih aktif mempertahankannya. Sebaliknya, orang tua yang fokus pada peluang pendidikan dan ekonomi lebih sering mendorong penggunaan bahasa mayoritas.

Penelitian menemukan bahwa sebagian keluarga mulai menerapkan Family Language Planning (FLP), seperti:

  • Menggunakan bahasa tertentu di rumah
  • Membagi bahasa berdasarkan peran orang tua
  • Menyediakan buku dan media multibahasa
  • Mengikutsertakan anak dalam komunitas bahasa

Selain itu, praktik komunikasi campuran atau translanguaging kini semakin umum digunakan dalam keluarga modern.

2. Sekolah dan Lingkungan Sosial Mendorong Bahasa Mayoritas

Penelitian menunjukkan bahwa sistem pendidikan formal secara tidak langsung mempercepat pergeseran bahasa.

Ketika anak memasuki sekolah, mereka terpapar lingkungan yang hampir sepenuhnya menggunakan bahasa mayoritas. Situasi ini membuat bahasa warisan semakin terpinggirkan.

Bahasa mayoritas juga sering diasosiasikan dengan kecerdasan, profesionalisme, modernitas, dan status sosial lebih tinggi.

Akibatnya, banyak keluarga mulai mengurangi penggunaan bahasa daerah demi mendukung prestasi akademik anak.

3. Anak dan Saudara Kandung Memiliki Pengaruh Besar

Penelitian modern menunjukkan bahwa anak bukan sekadar penerima pasif kebijakan bahasa keluarga.

Anak-anak sering memilih bahasa mayoritas agar lebih mudah diterima lingkungan sosialnya. Bahasa daerah dianggap kurang relevan jika tidak digunakan di luar rumah.

Hubungan antar saudara kandung juga berpengaruh besar. Kakak yang sudah bersekolah sering membawa bahasa mayoritas ke dalam rumah, lalu ditiru oleh adik-adiknya.

Karena interaksi antarsaudara lebih sering terjadi dibanding komunikasi dengan orang tua, bahasa mayoritas akhirnya semakin dominan.

4. Media Digital Menjadi “Pedang Bermata Dua”

Salah satu temuan terpenting penelitian adalah peran ganda media digital.

Di satu sisi, media digital mempercepat pergeseran bahasa karena sebagian besar konten daring menggunakan bahasa global seperti Inggris atau bahasa nasional.

Namun di sisi lain, teknologi juga dapat membantu mempertahankan bahasa warisan.

Video call dengan keluarga di daerah asal, konten multibahasa, komunitas budaya daring, hingga media pembelajaran digital dapat menjadi sarana mempertahankan bahasa daerah.

Penelitian menyebut media digital sebagai “pedang bermata dua” yang bisa mempercepat hilangnya bahasa atau justru memperkuat bilingualisme, tergantung cara keluarga memanfaatkannya.

Penting bagi Pendidikan dan Kebijakan Publik

Penelitian ini memiliki implikasi besar bagi dunia pendidikan, kebijakan bahasa, dan pelestarian budaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mempertahankan bahasa daerah tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga. Dukungan sekolah, kebijakan pendidikan multibahasa, dan akses terhadap media digital berbahasa daerah juga sangat penting.

Penelitian juga menegaskan bahwa bilingualisme memberikan manfaat kognitif dan sosial bagi anak, termasuk kemampuan komunikasi lintas budaya dan penguatan identitas budaya.

Menurut Yosefina Helenora Jem, pelestarian bahasa warisan masih sangat mungkin dilakukan jika keluarga menerapkan strategi komunikasi yang konsisten dan adaptif.

Penelitian mendorong kolaborasi lebih erat antara keluarga, pendidik, dan pembuat kebijakan untuk menjaga keberagaman bahasa di era digital.

Bahasa Daerah Butuh Strategi Bertahan Baru

Penelitian menyimpulkan bahwa pergeseran bahasa bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan hasil interaksi kompleks antara keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, dan teknologi digital.

Keluarga bilingual modern kini mulai bergerak dari pola komunikasi pasif menuju pengelolaan bahasa yang lebih sadar dan terencana demi menjaga identitas budaya lintas generasi.

Studi ini juga menegaskan bahwa keberlangsungan bahasa daerah berkaitan langsung dengan keberagaman budaya dan inklusi sosial dalam masyarakat multikultural.

Profil Penulis

Yosefina Helenora Jem merupakan akademisi dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Bidang keahliannya meliputi sosiolinguistik, bilingualisme, kebijakan bahasa keluarga, pelestarian bahasa, dan komunikasi multibahasa dalam masyarakat modern.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Language Shift and Maintenance in Bilingual Families: A Systematic Literature Review on Current Trends and Underlying Factors
Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences
Tahun Publikasi: 2026


Posting Komentar

0 Komentar