Persepsi Manfaat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kalangan Siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Makassar

Gambar Ilustration AI

FORMOSA NEWS - Makassar - Program Makanan Bergizi Gratis di Makassar Dinilai Positif, tetapi Aroma dan Rasa Perlu Peningkatan. Penelitian yang dilakukan oleh Hendrayati bersama Nadimin dan Faramitha dari Poltekkes Kemenkes Makassar dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa program ini berhasil memberikan dampak nyata bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Makassar, mulai dari meningkatkan energi hingga membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.

Penelitian yang dilakukan oleh Hendrayati bersama Nadimin dan Faramitha dari Poltekkes Kemenkes Makassar menyoroti bahwa 
bahan evaluasi kebijakan nasional agar efektivitas program dapat dioptimalkan secara berkelanjutan.

Urgensi Pemenuhan Nutrisi Remaja di Sekolah
Nutrisi bagi remaja merupakan isu kesehatan masyarakat yang mendesak di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Memasuki usia SMA, siswa mengalami pertumbuhan fisik yang pesat dan tuntutan kognitif yang semakin tinggi. Sayangnya, faktor keterbatasan ekonomi, kebiasaan melewatkan sarapan, dan sulitnya akses terhadap makanan sehat sering kali membuat siswa mengalami ketidakseimbangan gizi. Ketidakseimbangan ini berisiko menurunkan konsentrasi belajar dan berdampak buruk pada kesehatan jangka panjangSebagai langkah strategis, Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk memperbaiki status gizi generasi muda langsung di lingkungan sekolah. Intervensi semacam ini diyakini mampu menekan angka kelaparan jangka pendek, meningkatkan kehadiran siswa, dan mendukung kesiapan belajar mereka. Namun, keberhasilan jangka panjang dari program ini tidak hanya diukur dari kandungan gizinya di laboratorium, melainkan dari bagaimana makanan tersebut diterima, disukai, dan dikonsumsi oleh para siswa.

Mengukur Suara Siswa Lewat Pendekatan Ilmiah
Untuk memotret kondisi riil di lapangan, penulis mengumpulkan data dari 259 siswa SMA di Makassar menggunakan kuesioner terstruktur berskala Likert. Para responden ini merupakan penerima manfaat aktif yang telah mengonsumsi menu program MBG secara rutinSelain mengisi kuesioner persepsi, para siswa juga menjalani pengukuran antropometri langsung. Peneliti mengukur berat badan dan tinggi badan untuk menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT), serta melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) khusus untuk siswa perempuan guna mendeteksi adanya risiko Kurang Energi Kronis (KEK). Kombinasi data persepsi subjektif dan kondisi fisik objektif ini memberikan gambaran evaluasi yang utuh dan akurat mengenai profil penerima manfaat program.

Temuan Utama: Dampak Positif vs Tantangan Sensorik Makanan
Berdasarkan analisis data, tim peneliti menemukan bahwa mayoritas siswa menilai dampak program MBG berada pada tingkat "moderat" atau cukup baik. Terdapat beberapa poin keunggulan utama serta aspek krusial yang harus segera diperbaiki oleh penyedia program:
  • Energi Bertambah dan Kelaparan BerkurangSebanyak 45,6% siswa menyatakan program ini "bagus" dalam menunda rasa lapar di sekolah. Kemampuan makanan dalam memberikan energi tambahan dinilai moderat oleh 45,9% siswa dan dinilai bagus oleh 38,6% siswa. Secara umum, siswa merasa tubuh mereka menjadi lebih sehat sejak mendapatkan makan siang gratis ini.
  • Membantu Konsentrasi Belajar. Dari dimensi akademis, 51% responden mengonfirmasi bahwa makan siang bergizi ini membantu mereka lebih fokus dan berkonsentrasi saat menyerap materi pelajaran di kelas. Sebanyak 53,3% siswa juga menilai program ini berdampak moderat pada peningkatan prestasi akademis mereka.
  • Mengurangi Kebiasaan Jajan Sembarangan. Salah satu keberhasilan terbesar dari program MBG adalah dampaknya terhadap perilaku makan siswa. Sebanyak 42,1% siswa mengaku mulai terbiasa mengonsumsi makanan sehat, dan 41,3% siswa menyatakan bahwa program ini berhasil mengurangi kebiasaan mereka membeli jajanan sembarangan yang kurang higienis di luar sekolah.
  • Tantangan Besar. Aroma, Rasa, dan Tekstur. Meskipun manfaat fisik dan kesehatannya diakui, aspek kepuasan sensorik makanan masih menjadi ganjalan besar. Aroma makanan menjadi indikator dengan penilaian buruk tertinggi, yaitu mencapai 31,3%. Selain itu, sebanyak 22,4% siswa menilai rasa makanan kurang enak, 28,2% mengeluhkan tekstur, dan 25,5% menganggap tampilan warna makanan kurang menarik. Beruntung, dari sisi kesegaran gizi, sebanyak 44,4% siswa menilai makanan yang disajikan selalu segar dan tidak berbau.
  • Kalah Saing dengan Jajanan KomersialAkibat kualitas sensorik yang belum optimal, menu makanan gratis ini harus bersaing ketat dengan daya pikat jajanan komersial di kantin. Ketika diminta membandingkan rasa makanan MBG dengan jajanan sekolah, sebanyak 32,8% siswa terang-terangan memberikan nilai "buruk". Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan jajan siswa belum sepenuhnya tergantikan karena menu MBG dianggap kurang memiliki daya pikat rasa.
Rekomendasi Kebijakan dan Implikasi Nyata
Peneliti menekankan bahwa persepsi kepuasan siswa adalah kunci utama keberlanjutan program ini. Sehebat apa pun kandungan gizi di dalam seporsi makanan, manfaatnya tidak akan pernah terserap jika siswa enggan menghabiskannya akibat rasa yang hambar atau aroma yang kurang menggugah seleraBagi dunia pendidikan dan pembuat kebijakan publik, hasil studi ini menjadi panduan praktis berbasis bukti (evidence-based framework). Langkah perbaikan cita rasa dan variasi menu diharapkan dapat menaikkan tingkat kepuasan siswa. Ketika siswa mengonsumsi makanan tersebut dengan sukacita, perbaikan status gizi nasional dan peningkatan prestasi akademik remaja di wilayah perkotaan seperti Makassar dapat tercapai secara maksimal.

Profil Peneliti
Hendrayati, S.Gz., M.Si. – Dosen dan peneliti senior di Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar. Memiliki kepakaran di bidang gizi masyarakat, evaluasi program intervensi gizi, dan pemantauan status gizi remaja.
Nadimin, S.Gz., M.Kes. – Anggota tim peneliti sekaligus akademisi di Poltekkes Kemenkes Makassar yang fokus pada studi perilaku konsumsi pangan dan epidemiologi gizi.
Faramitha, S.Gz., M.P.H. – Peneliti di Poltekkes Kemenkes Makassar dengan spesialisasi kebijakan kesehatan masyarakat, gizi institusi, serta program pangan sekolah.

Sumber Penelitian
Hendrayati, Nadimin, Faramitha (2026), Perceived Benefits of the Free Nutritious Meals (MBG) Program Among Senior High School Students in Makassar City, Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) 2026, Vol. 5, No. 4, Hal. 1135-1150
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.48
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar