Dukungan Organisasi Jadi Kunci Sukses Green Hospital di Indonesia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Palu - Konsep rumah sakit ramah lingkungan atau green hospital di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan teknologi hemat energi dan pengelolaan limbah. Penelitian terbaru yang ditulis oleh Eka Widya Citra dari Universitas Muslim Indonesia bersama Ade Triansyah dari Universitas Muhammadiyah Palu dan Anjar Budi Astoro dari Lembaga Akreditas Fasilitas Kesehatan Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan green hospital justru sangat ditentukan oleh dukungan organisasi di dalam rumah sakit itu sendiri.

Studi yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Healthcare Analytics tahun 2026 ini menunjukkan bahwa banyak rumah sakit di Indonesia sudah mulai menerapkan berbagai program ramah lingkungan, mulai dari penghematan energi, pengelolaan air, pengurangan limbah medis, hingga penyediaan ruang terbuka hijau. Namun implementasinya masih belum merata dan sering kali berjalan secara terpisah tanpa strategi organisasi yang kuat.

Penelitian tersebut menjadi penting karena sektor rumah sakit merupakan salah satu institusi dengan konsumsi sumber daya terbesar. Rumah sakit beroperasi selama 24 jam dengan penggunaan listrik, air, obat-obatan, bahan kimia, alat medis, hingga produksi limbah yang sangat tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, aktivitas ini dapat meningkatkan beban lingkungan dan memperburuk dampak perubahan iklim.

Menurut para penulis, green hospital seharusnya dipahami bukan sekadar bangunan hijau atau program pengurangan sampah, melainkan transformasi organisasi secara menyeluruh. Rumah sakit perlu mengubah budaya kerja, sistem manajemen, pola penggunaan sumber daya, hingga cara pengambilan keputusan agar lebih berkelanjutan.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan narrative literature review dengan menelaah berbagai jurnal ilmiah, dokumen kebijakan pemerintah, laporan organisasi kesehatan internasional, serta studi kasus implementasi green hospital di Indonesia. Tim peneliti mengumpulkan berbagai sumber yang membahas kepemimpinan rumah sakit, budaya organisasi, sistem pengelolaan lingkungan, dukungan sumber daya manusia, hingga mekanisme evaluasi dan akuntabilitas.

Hasil kajian menunjukkan ada enam faktor utama yang menentukan keberhasilan green hospital di Indonesia.

Pertama adalah kepemimpinan. Penelitian menemukan bahwa komitmen pimpinan rumah sakit menjadi faktor paling penting dalam mendorong transformasi lingkungan. Pemimpin rumah sakit dinilai harus mampu menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari strategi utama organisasi, bukan sekadar program tambahan.

Menurut penelitian tersebut, rumah sakit yang memiliki pimpinan dengan visi keberlanjutan cenderung lebih berhasil menjalankan program penghematan energi, pengurangan limbah, dan perubahan perilaku pegawai. Sebaliknya, jika isu lingkungan hanya dipandang sebagai kewajiban administratif, program green hospital mudah terhenti ketika terjadi tekanan anggaran atau pergantian manajemen.

Faktor kedua adalah tata kelola internal. Penelitian menyoroti pentingnya kebijakan tertulis, pembentukan green team, standar operasional, serta sistem koordinasi lintas unit. Banyak rumah sakit di Indonesia dinilai masih menjalankan program lingkungan secara parsial sehingga belum menjadi budaya organisasi yang permanen.

Peneliti mencontohkan bahwa pengelolaan limbah medis yang baik belum tentu menunjukkan keberhasilan green hospital apabila tidak diintegrasikan dengan kebijakan organisasi yang lebih luas. Karena itu, dibutuhkan struktur khusus yang menghubungkan unit klinis, administrasi, logistik, dan keuangan dalam satu agenda keberlanjutan bersama.

Ketiga adalah dukungan terhadap sumber daya manusia. Studi ini menemukan bahwa keterlibatan pegawai sangat memengaruhi keberhasilan green hospital. Pegawai yang merasa didukung oleh organisasi cenderung lebih aktif menerapkan perilaku hemat energi, memilah limbah, dan menjaga efisiensi penggunaan sumber daya.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kepuasan kerja memiliki hubungan kuat dengan dukungan terhadap program green hospital. Artinya, budaya kerja yang sehat dan komunikasi internal yang baik dapat memperkuat partisipasi pegawai dalam menjaga lingkungan rumah sakit.

Selain itu, pelatihan rutin dan kampanye internal dianggap penting untuk membentuk budaya hijau di lingkungan rumah sakit. Para peneliti menilai perubahan perilaku pegawai tidak bisa terjadi secara otomatis, melainkan harus dibangun melalui proses organisasi yang konsisten.

Faktor keempat adalah dukungan sumber daya, termasuk anggaran, infrastruktur, teknologi, dan sistem informasi. Banyak rumah sakit di Indonesia disebut masih menghadapi keterbatasan dana untuk menjalankan program lingkungan secara optimal.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa investasi awal dalam program green hospital dapat memberikan keuntungan jangka panjang. Penghematan listrik, pengurangan limbah, efisiensi air, dan peningkatan reputasi institusi dinilai mampu menekan biaya operasional rumah sakit dalam jangka menengah dan panjang.

Studi ini juga menyoroti pentingnya penggunaan teknologi informasi untuk memantau konsumsi listrik, air, bahan kimia, dan volume limbah secara berkala. Tanpa data yang kuat, rumah sakit akan kesulitan mengevaluasi efektivitas program lingkungan yang dijalankan.

Faktor kelima adalah dukungan eksternal berupa regulasi, jaringan kerja sama, dan kolaborasi antar lembaga. Penelitian menyebut Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah regulasi terkait kesehatan lingkungan rumah sakit, termasuk pengelolaan limbah medis dan standar kesehatan lingkungan.

Namun implementasinya masih dinilai terfragmentasi. Peneliti menemukan belum adanya model nasional green hospital yang benar-benar menjadi rujukan bersama bagi rumah sakit di Indonesia.

Karena itu, kolaborasi dengan organisasi internasional seperti Global Green and Healthy Hospitals dan World Health Organization dianggap penting untuk mempercepat transfer pengetahuan dan praktik terbaik.

Faktor keenam adalah sistem monitoring dan akuntabilitas lingkungan. Rumah sakit dinilai perlu memiliki indikator khusus untuk mengukur keberhasilan program green hospital, mulai dari pengurangan konsumsi energi hingga tingkat daur ulang limbah.

Menurut penelitian, banyak program lingkungan gagal berkembang karena manfaatnya tidak terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, manajemen rumah sakit kesulitan mempertahankan dukungan anggaran dan kebijakan dalam jangka panjang.

Penelitian ini juga mengungkap sejumlah tantangan besar dalam implementasi green hospital di Indonesia. Di antaranya adalah keterbatasan pendanaan, lemahnya integrasi antar unit, budaya organisasi yang belum mendukung, serta tingginya beban operasional rumah sakit yang membuat isu lingkungan sering dianggap sebagai pekerjaan tambahan.

Selain itu, kesenjangan kapasitas antar rumah sakit juga menjadi masalah. Rumah sakit besar di kota umumnya memiliki akses lebih baik terhadap teknologi dan sumber daya, sementara rumah sakit kecil masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar pelayanan kesehatan.

Para penulis menilai masa depan green hospital di Indonesia sangat bergantung pada kemampuan rumah sakit dan pemerintah mengubah isu keberlanjutan menjadi bagian utama tata kelola kesehatan. Jika hanya diperlakukan sebagai program tambahan, implementasi green hospital akan tetap bersifat simbolik dan mudah berhenti.

Sebaliknya, ketika keberlanjutan menjadi fondasi organisasi, rumah sakit berpotensi memperoleh manfaat ekologis, ekonomi, dan reputasi sekaligus. Rumah sakit juga dapat menjadi institusi kesehatan yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan krisis lingkungan di masa depan.

Profil Penulis

Eka Widya Citra merupakan akademisi dari Universitas Muslim Indonesia yang meneliti bidang keberlanjutan rumah sakit dan kesehatan lingkungan.

Ade Triansyah berasal dari Universitas Muhammadiyah Palu dengan fokus kajian pada manajemen kesehatan dan kebijakan rumah sakit.

Anjar Budi Astoro merupakan peneliti dari Lembaga Akreditas Fasilitas Kesehatan Indonesia yang mendalami tata kelola dan akreditasi fasilitas kesehatan.

Sumber Penelitian

Citra, E. W., Triansyah, A., & Astoro, A. (2026). Organizational Support for Green Hospital Initiatives in Indonesia: A Literature Review. Asian Journal of Healthcare Analytics, Vol. 5 No. 1, 181–200.

DOI: https://doi.org/10.55927/ajha.v5i1.16509

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajha

Posting Komentar

0 Komentar