Perencanaan SDM dan Kepemimpinan Jadi Kunci Revitalisasi Karyawan di PT SGP Medan

Ilustrasi by AI

Medan-Persaingan industri air minum dalam kemasan semakin ketat di Indonesia. Di tengah tekanan tersebut, tiga peneliti dari Universitas Methodist Indonesia menemukan bahwa perencanaan sumber daya manusia, kepemimpinan, dan budaya organisasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan revitalisasi karyawan di lingkungan perusahaan.

Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Sustainable Applied Sciences edisi 2026 melalui penelitian berjudul The Influence of Human Resource (HR) Planning, Leadership, and Organizational Culture on HR Revitalization at PT. SGP, Tbk Plant Medan. Penelitian dilakukan oleh Pandoyo Situmorang, Thomas Sumarsan Goh, dan Jeudi Agustina TP Sianturi.

Penelitian ini menjadi penting karena industri air minum dalam kemasan menghadapi perubahan cepat, mulai dari persaingan produk, perkembangan teknologi, hingga perubahan karakter tenaga kerja generasi muda. Perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan karyawan dalam jumlah besar, tetapi juga sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi perubahan industri.

PT SGP Tbk Plant Medan, produsen air minum merek Cleo, menjadi objek penelitian karena dinilai menghadapi dinamika kompetisi yang tinggi di sektor tersebut. Para peneliti melihat bahwa revitalisasi sumber daya manusia menjadi strategi penting agar perusahaan tetap kompetitif melalui peningkatan efisiensi, inovasi, dan pelayanan pelanggan.

Dalam artikel ilmiahnya, para peneliti menjelaskan bahwa perusahaan yang gagal mengelola kekuatan internal, terutama kualitas sumber daya manusia, akan lebih sulit bertahan di tengah perubahan pasar. Karena itu, perencanaan tenaga kerja yang tepat, kepemimpinan yang kuat, dan budaya kerja yang sehat menjadi fondasi utama keberhasilan organisasi.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 71 karyawan PT SGP Tbk Plant Medan. Responden dipilih secara acak dari total 234 karyawan yang telah bekerja minimal tiga tahun di perusahaan tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak statistik SPSS versi 25.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga faktor yang diteliti memiliki pengaruh signifikan terhadap revitalisasi sumber daya manusia.

Perencanaan SDM menjadi faktor paling dominan. Nilai pengaruhnya tercatat sebesar t = 6,865 dengan tingkat signifikansi 0,000. Artinya, semakin baik perusahaan merancang kebutuhan tenaga kerja dan pengembangan kompetensi, semakin tinggi pula kemampuan organisasi dalam memperbarui kualitas sumber daya manusianya.

Kepemimpinan juga terbukti berpengaruh positif terhadap revitalisasi karyawan dengan nilai t = 3,015 dan signifikansi 0,004. Peneliti menilai pemimpin yang mampu memberi arahan jelas, membangun motivasi, dan mendorong inovasi dapat meningkatkan kesiapan karyawan menghadapi perubahan industri.

Sementara itu, budaya organisasi menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai t = 3,861 dan signifikansi 0,000. Budaya kerja yang mendukung kolaborasi, pembelajaran, dan keterbukaan terhadap perubahan dinilai mampu meningkatkan keterlibatan serta produktivitas karyawan.

Secara simultan, ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh kuat terhadap revitalisasi sumber daya manusia dengan nilai F sebesar 26,557. Penelitian ini juga menemukan bahwa 52,3 persen perubahan kualitas revitalisasi SDM dapat dijelaskan oleh faktor perencanaan SDM, kepemimpinan, dan budaya organisasi. Sisanya dipengaruhi faktor lain di luar penelitian.

Menurut Pandoyo Situmorang dan tim, perusahaan modern harus mulai memandang sumber daya manusia sebagai aset strategis, bukan sekadar tenaga kerja operasional. Pendekatan tersebut dinilai semakin penting setelah perubahan besar dunia kerja pascapandemi dan masuknya generasi milenial serta Gen Z ke dalam pasar tenaga kerja.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kepemimpinan transformasional dalam dunia industri modern. Pemimpin yang inspiratif dinilai mampu membangun semangat kerja sekaligus membantu karyawan mengembangkan keterampilan baru sesuai kebutuhan perusahaan.

Selain itu, budaya organisasi yang inklusif dianggap dapat menciptakan rasa memiliki di kalangan karyawan. Ketika pekerja merasa dihargai dan didukung, mereka cenderung lebih loyal, produktif, dan terbuka terhadap inovasi.

Temuan tersebut relevan tidak hanya bagi industri air minum dalam kemasan, tetapi juga bagi berbagai sektor bisnis lain yang sedang menghadapi transformasi digital dan perubahan pola kerja. Perusahaan yang ingin bertahan di tengah persaingan global dinilai perlu memperkuat strategi pengelolaan SDM secara menyeluruh.

Di bidang pendidikan dan pengembangan manajemen, penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi kampus maupun praktisi sumber daya manusia dalam merancang sistem kerja yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Bagi dunia usaha, hasil penelitian memberi pesan bahwa investasi pada kualitas kepemimpinan dan budaya organisasi tidak kalah penting dibanding investasi teknologi atau infrastruktur. Perusahaan dengan sistem SDM yang kuat memiliki peluang lebih besar untuk menjaga produktivitas dan loyalitas tenaga kerja.

Profil Singkat Penulis

  • Pandoyo Situmorang — akademisi dan peneliti di bidang manajemen sumber daya manusia dari Universitas Methodist Indonesia.
  • Thomas Sumarsan Goh — akademisi dan peneliti yang fokus pada manajemen organisasi dan kepemimpinan.
  • Jeudi Agustina TP Sianturi — akademisi yang meneliti budaya organisasi dan pengembangan sumber daya manusia.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Human Resource (HR) Planning, Leadership, and Organizational Culture on HR Revitalization at PT. SGP, Tbk Plant Medan
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences, Vol. 4 No. 5 Tahun 2026
Penulis: Pandoyo Situmorang, Thomas Sumarsan Goh, dan Jeudi Agustina TP Sianturi
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i5.444
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar