![]() |
| Illustration by Ai |
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP Indonesia Menurun, Kurikulum Merdeka Dinilai Belum Optimal
Kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa SMP di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Temuan ini diungkap oleh Abriadi Muhara bersama tim peneliti dari Universitas Negeri Makassar dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA). Penelitian tersebut menyoroti masih dominannya metode belajar berpusat pada guru, lemahnya kemampuan siswa mengatur proses belajar sendiri, serta belum optimalnya penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah.
Kajian ini menjadi penting karena kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar merupakan dua kompetensi utama abad ke-21 yang sangat dibutuhkan di dunia pendidikan dan dunia kerja modern. Peneliti menilai penurunan dua kemampuan tersebut dapat berdampak langsung pada kualitas generasi muda Indonesia dalam menghadapi tantangan teknologi, informasi, dan perubahan sosial yang semakin cepat.
Dalam artikel berjudul Decline in Critical Thinking Skills and Learning Independence of Junior High School Students in Indonesia, tim peneliti melakukan telaah naratif terhadap berbagai publikasi ilmiah nasional yang terbit sepanjang 2017–2026. Literatur dikumpulkan dari portal SINTA dan Google Scholar menggunakan kata kunci terkait kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa SMP di Indonesia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMP masih mengalami kesulitan dalam menganalisis informasi, menyusun argumen, mengevaluasi masalah, hingga mengambil keputusan secara mandiri. Situasi tersebut dipengaruhi pola pembelajaran yang masih menempatkan guru sebagai pusat utama pembelajaran.
Peneliti menemukan bahwa banyak sekolah masih menerapkan metode hafalan dan ceramah yang berulang. Akibatnya, siswa tidak terbiasa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan masalah secara mandiri.
Selain itu, kemampuan belajar mandiri siswa juga dinilai melemah setelah pandemi COVID-19. Selama pembelajaran jarak jauh, banyak siswa mengalami kesulitan mengatur waktu belajar, menjaga motivasi, dan memahami materi tanpa pendampingan langsung dari guru.
“Ketergantungan siswa terhadap instruksi guru masih sangat tinggi,” tulis Abriadi Muhara dan tim peneliti dalam kajiannya. Kondisi ini membuat siswa kurang terlatih mengambil inisiatif dalam proses belajar.
Penelitian juga mengungkap bahwa perkembangan teknologi digital belum sepenuhnya membantu peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Banyak siswa menggunakan teknologi hanya untuk hiburan atau mencari jawaban instan tanpa proses analisis mendalam.
Di sisi lain, budaya pendidikan di Indonesia juga disebut memengaruhi kondisi tersebut. Peneliti menilai sebagian lingkungan pendidikan masih terlalu menekankan kepatuhan, nilai ujian, dan ketergantungan pada guru. Akibatnya, siswa kurang terdorong untuk bertanya, berdebat, atau mengevaluasi informasi secara kritis.
Kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah juga memperparah situasi. Sekolah di perkotaan umumnya memiliki akses lebih baik terhadap teknologi, pelatihan guru, dan sumber belajar dibandingkan sekolah di daerah terpencil. Perbedaan fasilitas tersebut menyebabkan perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa menjadi tidak merata.
Meski demikian, penelitian ini menemukan beberapa model pembelajaran inovatif yang terbukti mampu meningkatkan kemampuan siswa. Model seperti Problem-Based Learning, Project-Based Learning, dan Resource-Based Learning dinilai efektif membantu siswa menjadi lebih aktif, mandiri, dan analitis.
Dalam model pembelajaran tersebut, siswa didorong untuk memecahkan masalah nyata, berdiskusi, mencari informasi sendiri, dan menyusun solusi berdasarkan hasil analisis. Pendekatan ini dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran modern dibanding metode hafalan tradisional.
Namun, implementasi model pembelajaran inovatif itu belum merata di seluruh sekolah. Banyak guru masih mengalami kendala dalam menerapkan strategi pembelajaran aktif karena keterbatasan pelatihan, fasilitas sekolah, maupun kesiapan kurikulum.
Penelitian ini juga menyoroti tantangan implementasi Kurikulum Merdeka. Meskipun kurikulum tersebut dirancang untuk memperkuat pembelajaran mandiri dan kemampuan berpikir tingkat tinggi, penerapannya di lapangan belum berjalan optimal.
Sebagian guru disebut masih membutuhkan pelatihan lebih mendalam terkait pembelajaran berbasis proyek dan strategi pengembangan kemampuan berpikir kritis. Di sejumlah sekolah, keterbatasan sarana belajar juga menjadi hambatan utama.
Menurut peneliti, perubahan kurikulum tidak akan efektif tanpa peningkatan kapasitas guru dan dukungan lingkungan sekolah yang memadai. Karena itu, penguatan kompetensi guru menjadi salah satu rekomendasi utama dalam penelitian ini.
Tim peneliti merekomendasikan agar pemerintah dan sekolah memperkuat pelatihan guru dalam menerapkan pembelajaran aktif, penilaian formatif, dan strategi pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sekolah juga didorong membangun budaya belajar yang lebih terbuka terhadap diskusi, eksplorasi, dan pemecahan masalah.
Selain itu, penelitian lanjutan dinilai penting untuk memantau perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa secara jangka panjang, terutama setelah implementasi Kurikulum Merdeka berjalan lebih luas di Indonesia.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa penurunan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar bukan sekadar masalah individu siswa, melainkan berkaitan erat dengan sistem pendidikan, budaya belajar, kesiapan guru, hingga kesenjangan fasilitas pendidikan.
Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas belajar siswa tidak cukup hanya melalui perubahan kurikulum. Transformasi metode pembelajaran, penguatan kompetensi guru, dan lingkungan belajar yang mendukung juga menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan abad ke-21.
Profil Penulis
Abriadi Muhara merupakan akademisi dari Universitas Negeri Makassar yang meneliti bidang pendidikan, pembelajaran inovatif, dan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini juga melibatkan Hasmawaty, Fadhilah Afifah, Faradilla Rusliana, dan Azizah Amal dari universitas yang sama.
Sumber Penelitian

0 Komentar