Tinggi Badan Ibu Tidak Cukup untuk Prediksi Risiko Persalinan Sulit, Studi di Kendari Ungkap Fakta Baru
Penelitian terbaru dari Pelita Ibu Health Sciences College menemukan bahwa tinggi badan ibu tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian cephalopelvic disproportion (CPD), yaitu komplikasi persalinan akibat ketidaksesuaian ukuran kepala janin dengan panggul ibu. Studi yang dilakukan oleh Juli Purnama Hamudi, Lisnawati, dan Astri Yunita ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Contemporary Sciences.
Penelitian dilakukan menggunakan data persalinan di Bahteramas Regional General Hospital selama periode 2020–2024. Hasil penelitian menjadi penting karena selama ini tinggi badan ibu sering digunakan sebagai indikator utama untuk memperkirakan risiko persalinan sulit, khususnya pada ibu dengan tinggi di bawah 145 sentimeter.
Namun, penelitian terbaru tersebut menunjukkan bahwa risiko CPD jauh lebih kompleks dan dipengaruhi banyak faktor lain selain tinggi badan.
CPD Masih Menjadi Ancaman Serius bagi Ibu dan Bayi
Cephalopelvic disproportion atau CPD adalah kondisi ketika ukuran kepala bayi tidak sebanding dengan kapasitas panggul ibu sehingga persalinan normal menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan.
Komplikasi ini dapat menyebabkan persalinan lama, perdarahan, infeksi, ruptur uterus, hingga kematian ibu dan bayi apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Dalam banyak kasus, CPD berujung pada tindakan operasi sesar.
Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang dikutip dalam penelitian menyebutkan bahwa CPD berkontribusi terhadap sekitar 8 persen kematian ibu di dunia, atau sekitar 23 ribu kasus setiap tahun.
Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi CPD nasional mencapai 4,9 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa komplikasi persalinan masih menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan maternal.
Di RSUD Bahteramas Kendari sendiri, tercatat 114 kasus CPD selama lima tahun penelitian. Jumlah kasus tertinggi terjadi pada 2022 dengan 38 kasus atau sekitar 5,65 persen dari total persalinan pada tahun tersebut.
Analisis Rekam Medis 114 Ibu Bersalin
Peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi logistik biner. Data diambil dari rekam medis pasien di ruang Tumbudadai RSUD Bahteramas.
Seluruh ibu yang didiagnosis mengalami CPD selama periode 2020–2024 dijadikan sampel penelitian, sehingga total responden mencapai 114 orang.
Penelitian mengelompokkan responden berdasarkan:
- Tinggi badan ibu
- Jenis CPD yang dialami
- Karakteristik persalinan
Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 sentimeter dimasukkan ke kelompok risiko tinggi, sedangkan ibu dengan tinggi badan 145 sentimeter atau lebih masuk kategori normal.
Peneliti kemudian menganalisis apakah tinggi badan memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian CPD absolut maupun CPD relatif.
CPD absolut merupakan kondisi ketika ukuran panggul secara anatomis terlalu sempit sehingga persalinan normal tidak memungkinkan. Sementara CPD relatif terjadi akibat faktor lain seperti posisi janin atau mekanisme persalinan yang tidak optimal.
Tinggi Badan Hanya Berpengaruh Kecil terhadap CPD
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara tinggi badan ibu dan kejadian CPD tidak signifikan secara statistik.
Temuan utama penelitian meliputi:
- 28,07 persen responden memiliki tinggi badan di bawah 145 sentimeter
- 71,93 persen memiliki tinggi badan 145 sentimeter atau lebih
- 57,01 persen mengalami CPD absolut
- 42,99 persen mengalami CPD relatif
Analisis statistik menghasilkan nilai p sebesar 0,346, lebih tinggi dari batas signifikansi 0,05. Artinya, tinggi badan ibu tidak terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian CPD pada populasi penelitian tersebut.
Peneliti juga menemukan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,011. Angka ini menunjukkan bahwa tinggi badan hanya menjelaskan sekitar 1,1 persen variasi kejadian CPD.
Meski ibu dengan tinggi badan lebih tinggi memiliki kecenderungan risiko lebih rendah, perbedaannya dinilai terlalu kecil untuk dijadikan indikator utama dalam skrining risiko persalinan.
Risiko CPD Dipengaruhi Banyak Faktor
Tim peneliti menegaskan bahwa CPD merupakan kondisi multifaktor yang dipengaruhi berbagai faktor biologis dan obstetri.
Faktor-faktor lain yang dinilai berperan meliputi:
- Berat badan dan ukuran janin
- Bentuk serta dimensi panggul ibu
- Status gizi sejak remaja
- Obesitas
- Diabetes gestasional
- Posisi janin saat persalinan
- Faktor genetik dan etnis
Penelitian juga menyoroti pentingnya status gizi selama masa pertumbuhan remaja. Menurut peneliti, perempuan dengan tinggi badan pendek belum tentu memiliki panggul sempit apabila selama masa pubertas mendapatkan asupan nutrisi yang baik, terutama kalsium, vitamin D, protein, dan fosfor.
Selain itu, variasi bentuk panggul antar kelompok etnis di Sulawesi Tenggara juga dinilai dapat memengaruhi hubungan antara tinggi badan dan risiko CPD.
Dalam parafrase akademik berdasarkan hasil penelitian, Juli Purnama Hamudi dan tim dari Pelita Ibu Health Sciences College menekankan bahwa tinggi badan tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk memprediksi risiko persalinan sulit karena CPD dipengaruhi kombinasi banyak faktor medis dan biologis.
Implikasi bagi Layanan Kesehatan Ibu
Hasil penelitian ini memberikan masukan penting bagi tenaga kesehatan, terutama bidan dan dokter spesialis obstetri.
Peneliti merekomendasikan agar skrining risiko persalinan tidak hanya bergantung pada pengukuran tinggi badan ibu, tetapi juga melibatkan pemeriksaan yang lebih komprehensif.
Langkah yang disarankan meliputi:
- Pemeriksaan ukuran panggul secara klinis
- Pemantauan ukuran janin melalui ultrasonografi
- Evaluasi riwayat kehamilan dan persalinan
- Pemantauan perkembangan persalinan secara ketat
- Penilaian status gizi ibu
Penelitian ini juga mendukung pentingnya program perbaikan gizi remaja perempuan sebagai strategi jangka panjang untuk menurunkan risiko komplikasi persalinan di masa depan.
Menurut peneliti, intervensi gizi sejak usia remaja berpotensi memberikan dampak lebih besar dibandingkan hanya menggunakan indikator tinggi badan saat kehamilan.
Keterbatasan Penelitian dan Rekomendasi
Peneliti mengakui bahwa studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Penelitian hanya menggunakan data ibu yang sudah mengalami CPD sehingga hasilnya belum tentu menggambarkan seluruh populasi ibu bersalin.
Selain itu, penelitian hanya meneliti satu variabel utama, yaitu tinggi badan, tanpa memasukkan faktor lain seperti berat janin, indeks massa tubuh ibu, bentuk panggul, maupun mekanisme persalinan.
Penelitian lanjutan dengan cakupan variabel lebih luas dinilai penting untuk memahami penyebab CPD secara lebih menyeluruh di Indonesia.
Profil Penulis
- Juli Purnama Hamudi, S.Tr.Keb: Peneliti kebidanan di Pelita Ibu Health Sciences College dengan fokus pada kesehatan ibu dan reproduksi.
- Lisnawati, M.Keb: Dosen kebidanan di Pelita Ibu Health Sciences College dengan keahlian kesehatan maternal dan pelayanan obstetri.
- Astri Yunita, M.Psi: Peneliti psikologi dari Halu Oleo University yang fokus pada kesehatan masyarakat dan kesejahteraan ibu.

0 Komentar