Pelatihan Keuangan Tingkatkan Kemampuan Pelaku Wisata Desa Sukunan Yogyakarta
Pelatihan manajemen keuangan terbukti meningkatkan kemampuan pelaku usaha pariwisata di Desa Wisata Lingkungan Sukunan, Yogyakarta. Temuan ini disampaikan oleh Miswanto Miswanto bersama tim peneliti dari STIE YKPN School of Business, Politeknik Kesehatan TNI AU Adisutjipto, dan Universitas Ciputra Surabaya dalam studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Asian Business and Management (IJABM). Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa pelatihan singkat berbasis praktik mampu memperkuat fondasi bisnis masyarakat di sektor pariwisata berbasis komunitas.
Desa Wisata Sukunan di Kabupaten Sleman dikenal sebagai salah satu pelopor wisata berbasis lingkungan di Indonesia. Sejak dikembangkan secara resmi pada 2009, desa ini menggabungkan kegiatan pariwisata dengan edukasi lingkungan, terutama pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Berbagai aktivitas ekonomi tumbuh dari model ini, mulai dari homestay, paket wisata edukasi, hingga produk kerajinan berbahan limbah.
Namun, di balik perkembangan tersebut, banyak pelaku usaha lokal masih menghadapi kendala dalam mengelola keuangan. Praktik pencatatan yang belum terstruktur, pencampuran keuangan pribadi dan usaha, serta lemahnya perencanaan keuangan menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kinerja dan keberlanjutan usaha.
Tantangan Keuangan di Balik Pertumbuhan Wisata
Pertumbuhan desa wisata tidak selalu diikuti dengan peningkatan kapasitas manajerial. Banyak pelaku usaha di Sukunan masih mengandalkan cara-cara sederhana dalam mengelola keuangan, sehingga sulit mengontrol biaya, merencanakan modal kerja, dan mengambil keputusan investasi secara tepat.
Kondisi ini mencerminkan masalah umum dalam sektor pariwisata berbasis komunitas, di mana pendapatan cenderung fluktuatif dan bergantung pada musim kunjungan wisatawan. Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, potensi ekonomi desa tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Metode: Pelatihan Satu Hari Berbasis Praktik
Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 29 Juni 2025 dengan melibatkan 60 peserta yang terdiri dari pelaku usaha dan pengelola wisata di Desa Sukunan. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah (FGD).
Pelatihan dirancang secara intensif dalam satu hari dengan fokus pada praktik langsung. Materi yang diberikan meliputi:
- Perencanaan keuangan sederhana
- Pengelolaan arus kas
- Penggunaan modal kerja
- Pengendalian biaya
- Dasar pengambilan keputusan pembiayaan dan investasi
Metode pembelajaran mengadopsi prinsip andragogi (pendidikan orang dewasa) dan experiential learning atau belajar dari pengalaman. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mempraktikkan melalui studi kasus yang sesuai dengan kondisi usaha mereka.
Hasil Utama: Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
Penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan.
Sebelum pelatihan:
- 50 dari 60 peserta belum memiliki pencatatan keuangan yang memadai
- Sebagian besar mencampur keuangan pribadi dan usaha
- Pemahaman tentang arus kas dan perencanaan keuangan masih rendah
Setelah pelatihan:
- Peserta mulai membuat pencatatan keuangan sederhana dan lebih terstruktur
- Terjadi pemisahan antara keuangan usaha dan pribadi
- Pemahaman arus kas meningkat, termasuk pemasukan dan pengeluaran
- Kemampuan mengendalikan biaya usaha menjadi lebih baik
- Muncul kesadaran untuk merencanakan modal kerja dan kebutuhan pembiayaan
Salah satu pelaku usaha kerajinan mengungkapkan bahwa sebelumnya ia kesulitan menghitung keuntungan karena tidak memiliki catatan keuangan yang jelas. Setelah pelatihan, ia mulai memahami pentingnya pencatatan untuk mengetahui kondisi usaha secara nyata.
Perubahan Perilaku: Lebih Terstruktur dan Percaya Diri
Selain peningkatan teknis, pelatihan juga mendorong perubahan perilaku. Peserta menjadi lebih percaya diri dalam mengelola usaha dan lebih aktif dalam merencanakan strategi keuangan.
Pengelola homestay, misalnya, mulai menyadari pentingnya mencatat biaya perawatan kamar dan menyisihkan dana cadangan untuk menghadapi periode sepi wisatawan.
Miswanto dari STIE YKPN menyatakan bahwa pendekatan berbasis praktik membuat konsep keuangan lebih mudah dipahami dan langsung diterapkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Dampak dan Implikasi
Hasil penelitian ini memberikan dampak nyata bagi berbagai pihak:
Bagi masyarakat:
Pelatihan keuangan membantu pelaku usaha meningkatkan stabilitas pendapatan dan mengurangi risiko kerugian akibat pengelolaan yang tidak terencana.
Bagi pemerintah:
Program pengembangan desa wisata perlu memasukkan pelatihan manajemen keuangan sebagai bagian penting dari strategi pemberdayaan ekonomi lokal.
Bagi dunia pendidikan dan pelatihan:
Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha mikro dan kecil.
Bagi sektor pariwisata:
Penguatan manajemen keuangan di tingkat lokal berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem pariwisata secara keseluruhan.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa pelatihan jangka pendek memberikan hasil awal yang positif, tetapi perlu dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan agar perubahan perilaku dapat bertahan dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Miswanto Miswanto, S.E., M.M. adalah akademisi di STIE YKPN School of Business dengan keahlian di bidang manajemen keuangan dan pemberdayaan masyarakat.
Ika Puspita Kristianti, S.E., M.M., Vani Oktafiani, S.E., Gunawan Purwanto, Shita Lusi Wardhani, Rudy Badrudin, Bianka Andriyani, Noormalita Primandaru, Bambang Setia Wibowo, dan Hastuti Naibaho merupakan tim peneliti dari STIE YKPN, Politeknik Kesehatan TNI AU Adisutjipto, dan Universitas Ciputra Surabaya yang memiliki keahlian di bidang bisnis, pendidikan, dan pengembangan masyarakat.
Sumber
DOI : https://doi.org/10.55927/ijabm.v5i2.11
URL : https://journalijabm.my.id/index.php/ijabm/index
0 Komentar