Palangka Raya — Integrasi nilai ekologi humanistik Islam dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) dinilai mampu membentuk karakter siswa yang lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus memperkuat nilai spiritual dan moral. Temuan ini dipublikasikan oleh Norjamilah, Hamdanah, dan Normuslim dari Universitas Islam Negeri Palangka Raya dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research tahun 2026.
Penelitian tersebut menyoroti pentingnya pendidikan berbasis nilai Islam dalam menghadapi krisis lingkungan global yang semakin meningkat akibat eksploitasi alam, polusi, dan perubahan perilaku manusia terhadap lingkungan. Para peneliti menilai bahwa pendidikan agama tidak hanya berfungsi mengajarkan ibadah dan akhlak, tetapi juga dapat menjadi fondasi moral dalam menjaga kelestarian bumi.
Dalam kajiannya, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan menganalisis berbagai literatur tentang Pendidikan Agama Islam, ekologi, humanisme, dan etika lingkungan dalam perspektif Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep ekologi humanistik Islam dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum PAI melalui pembelajaran kontekstual, pembiasaan karakter, keteladanan guru, serta lingkungan sekolah yang humanis dan ramah lingkungan.
Penelitian ini menegaskan bahwa manusia dalam Islam dipandang sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Karena itu, merusak lingkungan dianggap bertentangan dengan amanah yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Norjamilah dan tim menjelaskan bahwa prinsip-prinsip utama seperti tauhid, amanah, keadilan, keseimbangan (mizan), dan ihsan menjadi landasan etika ekologis dalam Islam. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa melalui praktik sederhana seperti menghemat air, menjaga kebersihan, menanam pohon, hingga mengurangi perilaku konsumtif berlebihan.
Penelitian juga menyoroti bahwa pendidikan modern sering kali terlalu fokus pada aspek akademik dan kurang memberikan perhatian pada pembentukan kesadaran ekologis. Padahal, kerusakan lingkungan saat ini sebagian besar dipicu oleh perilaku manusia yang tidak seimbang dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan dipandang sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial. Peneliti mengutip ajaran Islam yang melarang perilaku berlebihan atau israf dalam penggunaan sumber daya alam serta mendorong manusia hidup sederhana dan seimbang.
Selain itu, penelitian ini menjelaskan bahwa pendekatan humanistik dalam pendidikan mendorong proses belajar yang lebih dialogis, partisipatif, dan menghargai potensi siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan moral dalam membangun kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan sekitar.
Implementasi nilai ekologi Islam dalam pendidikan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan praktis di sekolah. Misalnya, program penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air, hingga proyek pembelajaran berbasis lingkungan yang melibatkan siswa secara langsung. Dengan cara ini, siswa tidak hanya memahami teori agama, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam tindakan nyata.
Menurut peneliti, integrasi pendidikan agama dan kesadaran lingkungan menjadi sangat strategis di tengah tantangan perubahan iklim global. Pendidikan berbasis ekologi Islam dinilai mampu membentuk generasi yang religius, toleran, serta memiliki tanggung jawab sosial dan ekologis yang kuat.
Temuan ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan agama dapat menjadi instrumen penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Ketika siswa memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah dan ibadah, maka perilaku peduli lingkungan dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Norjamilah dari Universitas Islam Negeri Palangka Raya menegaskan bahwa penguatan nilai spiritual dan ekologis dalam pendidikan perlu dilakukan secara konsisten agar sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi.
0 Komentar