Anak-anak dibiasakan menjalankan aktivitas religius seperti doa harian, praktik salat, hafalan doa pendek, pengenalan rukun Islam dan rukun iman, hingga mendengarkan kisah-kisah Islami. Menurut penelitian tersebut, pendekatan pembiasaan ini lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian materi secara verbal. Rahimah menemukan bahwa pendekatan holistik berbasis tauhid membantu perkembangan berbagai aspek anak secara bersamaan, mulai dari kemampuan kognitif, bahasa, sosial-emosional, hingga keterampilan motorik. Selain itu, pendidikan berbasis spiritual juga memperkuat karakter penting seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, empati, kerja sama, dan sopan santun. Pembelajaran di sekolah dirancang melalui metode bermain sambil belajar. Anak-anak diajak belajar melalui permainan edukatif, aktivitas seni, eksplorasi lingkungan, hingga kegiatan motorik halus dan kasar. Pendekatan tematik seperti ini dinilai membuat anak lebih aktif, mudah berinteraksi, dan mampu mengelola emosi dengan lebih baik. Penelitian juga menemukan bahwa dukungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan perkembangan anak. Anak-anak yang mendapat perhatian emosional dan dukungan positif dari orang tua cenderung lebih percaya diri, lebih aktif di kelas, dan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, anak yang mengalami kesulitan regulasi emosi atau kurang mendapat dukungan keluarga lebih mudah kehilangan fokus saat belajar dan mengalami hambatan dalam interaksi sosial. Temuan ini memperlihatkan bahwa kesiapan emosional sama pentingnya dengan kemampuan akademik dalam pendidikan anak usia dini. Selain memotret keberhasilan, penelitian ini juga mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan anak usia dini berbasis nilai spiritual. Salah satunya adalah keterbatasan dukungan bagi anak berkebutuhan khusus.
Guru berupaya memberikan pendampingan individual, stimulasi sensorik, dan bantuan intensif bagi anak yang mengalami keterlambatan perkembangan. Namun, keterbatasan akses layanan profesional, kondisi ekonomi keluarga, dan hambatan administratif membuat proses pendampingan belum optimal. Tantangan lain muncul dari ekspektasi sebagian orang tua yang masih mengukur keberhasilan pendidikan anak dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sejak dini. Kondisi ini sering kali bertentangan dengan prinsip pendidikan anak usia dini yang menekankan perkembangan menyeluruh dan kesiapan emosional anak. “Pendidikan usia dini seharusnya tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter dan perkembangan sosial emosional anak,” tulis Rahimah dalam penelitiannya. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kesejahteraan guru dalam menjaga kualitas pendidikan anak usia dini. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi pendamping emosional dan teladan moral bagi anak-anak. Beban kerja yang tinggi tanpa dukungan kesejahteraan yang memadai dapat memengaruhi kualitas pembelajaran dan keberlanjutan profesi guru PAUD. Secara keseluruhan, penelitian Rahimah menegaskan bahwa pendidikan holistik berbasis nilai tauhid dapat menjadi model efektif dalam membentuk karakter anak usia dini. Namun, keberhasilan model ini memerlukan dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Penelitian tersebut merekomendasikan agar lembaga pendidikan anak usia dini memperkuat integrasi nilai spiritual dalam aktivitas harian anak melalui pembiasaan positif, pembelajaran berbasis permainan, dan interaksi yang hangat antara guru dan siswa. Selain itu, orang tua juga didorong untuk lebih aktif mendukung perkembangan emosional dan moral anak di rumah, bukan hanya fokus pada kemampuan akademik. Pemerintah pun dinilai perlu meningkatkan dukungan terhadap pendidikan anak usia dini, terutama dalam penyediaan layanan inklusif, pelatihan guru, dan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik. Temuan ini menjadi relevan di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan karakter di era modern. Pendidikan berbasis spiritual dan nilai kemanusiaan dinilai dapat membantu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, disiplin, dan tanggung jawab sosial yang kuat.
Profil Penulis
Rahimah merupakan akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Serang, Banten. Ia meneliti bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan karakter, dan integrasi nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran.
Sumber Penelitian

0 Komentar