Program pendampingan berbasis komunitas di Kelurahan Sukoharjo berhasil meningkatkan keterampilan berbicara dan karakter komunikasi sosial remaja di era digital. Kegiatan ini dilakukan oleh Muhlis Fajar Wicaksana bersama tim peneliti dari Universitas Veteran Bangun Nusantara dan dipublikasikan pada 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB). Program ini dirancang untuk mengurangi miskomunikasi dan konflik sosial di lingkungan remaja akibat rendahnya etika komunikasi dan literasi digital.
Penelitian menyoroti bahwa tingginya penggunaan perangkat digital di kalangan remaja tidak selalu diikuti kemampuan komunikasi yang baik. Di Kelurahan Sukoharjo, lebih dari 85 persen remaja telah menggunakan teknologi digital, tetapi banyak yang masih mengalami kesulitan berbicara di depan umum, menyusun argumen secara logis, dan berkomunikasi secara etis di media sosial. Kondisi ini memicu berbagai masalah sosial kecil, seperti miskomunikasi dan penggunaan bahasa yang kurang santun di ruang digital.
Tim peneliti menemukan bahwa pembinaan remaja sebelumnya lebih banyak berfokus pada kegiatan fisik dan keagamaan, sementara penguatan keterampilan komunikasi dan literasi digital belum dilakukan secara terstruktur. Padahal, fasilitas seperti aula kelurahan dan perangkat multimedia sudah tersedia dan dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran komunikasi sosial bagi generasi muda.
Program pendampingan ini melibatkan sekitar 15 hingga 20 anggota Karang Taruna Bermuda 3 berusia 12–22 tahun. Kegiatan dipusatkan di Aula Kelurahan Sukoharjo dan ruang multimedia dengan pendekatan partisipatif yang dibagi ke dalam lima tahap utama:
- Ceramah interaktif tentang etika komunikasi digital
- Demonstrasi model komunikasi efektif
- Latihan praktik public speaking dan pembuatan konten kreatif
- Coaching dan mentoring personal
- Refleksi serta tindak lanjut program
Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan dalam rasa percaya diri dan kemampuan berbicara peserta. Remaja yang sebelumnya cenderung pasif mulai berani menyampaikan pendapat di depan umum dan lebih mampu menyusun komunikasi secara terstruktur. Pendekatan multimedia dan praktik langsung dinilai efektif membantu peserta memahami teknik vokal, bahasa tubuh, hingga cara menyampaikan gagasan secara persuasif.
Penelitian juga menemukan perubahan pola pikir remaja terkait penggunaan media sosial. Sebanyak 85 persen peserta awalnya belum memahami dampak jangka panjang rekam jejak digital dan penggunaan bahasa yang tidak santun di internet. Setelah mengikuti pendampingan, para peserta mulai mengubah pola komunikasi mereka dari sekadar “ekspresi bebas” menjadi “ekspresi yang bertanggung jawab”.
Menurut Muhlis Fajar Wicaksana dan tim dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, salah satu dampak penting dari program ini adalah meningkatnya kemampuan remaja dalam memfilter informasi palsu atau hoaks sebelum membagikannya di grup WhatsApp dan media sosial lainnya. Kemampuan ini dinilai sangat penting di tengah cepatnya penyebaran informasi digital di kalangan Generasi Z.
Selama proses mentoring, peneliti juga menemukan bahwa ketakutan terhadap penilaian negatif di media sosial menjadi tantangan terbesar bagi remaja. Melalui program ini, peserta mendapatkan ruang aman untuk belajar berbicara, menyampaikan pendapat, dan membangun rasa percaya diri tanpa takut dihakimi.
Salah satu hasil nyata dari kegiatan ini adalah munculnya inisiatif mandiri dari Karang Taruna Bermuda 3 berupa program “Pojok Literasi Digital”. Program tersebut dirancang sebagai ruang edukasi berkelanjutan untuk memperkuat komunikasi sosial yang positif dan meningkatkan kesadaran literasi digital di lingkungan masyarakat.
Peneliti menilai penggunaan media pembelajaran interaktif seperti video, simulasi, dan permainan edukatif sangat efektif dalam meningkatkan motivasi belajar remaja. Pendekatan ini mampu mengurangi hambatan psikologis peserta saat berbicara di depan umum sekaligus membangun karakter komunikasi yang lebih santun dan reflektif.
Program ini juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan dan motivasi Generasi Z dalam menghadapi disrupsi informasi digital. Remaja tidak hanya diajak menjadi pengguna media sosial, tetapi juga didorong menjadi pembuat konten yang positif, etis, dan bertanggung jawab bagi lingkungan sekitarnya.
Penelitian menyimpulkan bahwa pendampingan berbasis komunitas mampu membentuk karakter komunikasi sosial yang lebih baik pada remaja. Integrasi literasi digital, etika komunikasi, dan public speaking dinilai menjadi strategi efektif untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan komunikasi di era digital.
Profil Penulis
- Muhlis Fajar Wicaksana – Universitas Veteran Bangun Nusantara; bidang keahlian literasi digital, komunikasi sosial, dan pendidikan bahasa.
- Pardyatmoko – Universitas Veteran Bangun Nusantara.
- Sri Muryati – Universitas Veteran Bangun Nusantara.
- Suparmin – Universitas Veteran Bangun Nusantara.
- Sukarno – Universitas Veteran Bangun Nusantara.
- Citra Trihandayani – Universitas Veteran Bangun Nusantara.
- Wahyu Setiawati – Universitas Veteran Bangun Nusantara.
Sumber Penelitian
Wicaksana, M. F., Pardyatmoko, Muryati, S., Suparmin, Sukarno, Trihandayani, C., Setiawati, W., Saputri, S. A., & Kusumaningrum, F. S. (2026). Pendampingan Berbasis Komunitas dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara Remaja dan Karakter Komunikasi Sosial di Era Digital. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 4, April 2026, hlm. 315–322.

0 Komentar