Penanganan Gigi Depan Patah pada Remaja Dinilai Penting untuk Cegah Kerusakan Permanen

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jember - Kasus patah gigi depan pada remaja akibat trauma atau kecelakaan dapat memicu kerusakan permanen jika tidak segera ditangani. Penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember menunjukkan bahwa kombinasi perawatan saluran akar, pemasangan fiber post, dan mahkota gigi porcelain fused-to-metal (PFM) mampu memulihkan fungsi sekaligus estetika gigi remaja yang mengalami patah parah.

Penelitian tersebut dilakukan oleh drg. Ratih Delio Rakhmadian, Meidi Kurnia Ariani, dan Musthika Jathiasih dari Departemen Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Studi dipublikasikan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) Volume 5 Nomor 5 tahun 2026 dengan DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.82.

Penelitian berbentuk laporan kasus ini menyoroti penanganan seorang pasien perempuan berusia 13 tahun yang mengalami patah gigi insisivus lateral kiri rahang atas akibat jatuh tiga tahun sebelumnya. Kasus tersebut menjadi penting karena trauma gigi depan pada remaja bukan hanya memengaruhi kesehatan mulut, tetapi juga berdampak pada rasa percaya diri, kualitas hidup, dan interaksi sosial anak.

Tim peneliti menjelaskan bahwa gigi depan rahang atas merupakan bagian yang paling rentan mengalami trauma karena posisinya lebih menonjol dibanding gigi lainnya. Benturan keras dapat menyebabkan retakan pada enamel dan dentin hingga kerusakan pulpa gigi. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi nekrosis pulpa dan infeksi jaringan di sekitar akar gigi.

Pada kasus ini, pasien datang dengan kondisi sebagian besar mahkota gigi telah hilang dan hanya menyisakan sepertiga bagian bawah gigi. Hasil pemeriksaan menunjukkan gigi sudah tidak vital atau mati, disertai peradangan di area ujung akar gigi tanpa gejala nyeri aktif.

Menurut peneliti, keterlambatan penanganan menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi pasien. Trauma gigi yang tidak segera ditangani dapat mengganggu aliran darah pada pulpa sehingga jaringan di dalam gigi mengalami kematian secara bertahap.

“Trauma pada gigi anterior remaja tidak hanya menyebabkan kehilangan struktur gigi, tetapi juga memengaruhi fungsi, estetika, dan kualitas hidup pasien,” tulis tim peneliti dari Universitas Jember dalam artikelnya.

Penelitian dilakukan menggunakan metode laporan kasus dengan observasi klinis mendalam terhadap proses perawatan pasien. Tahapan pemeriksaan meliputi anamnesis, tes vitalitas gigi, pemeriksaan radiografi, hingga evaluasi kondisi jaringan pendukung gigi.

Setelah diagnosis ditegakkan sebagai nekrosis pulpa disertai periodontitis apikal asimtomatik, dokter melakukan perawatan saluran akar atau root canal treatment sebagai tahap awal penanganan.

Proses perawatan dilakukan dalam beberapa kunjungan. Pada tahap pertama, saluran akar dibersihkan menggunakan teknik step-back dengan alat khusus endodontik dan cairan disinfeksi untuk menghilangkan jaringan mati serta bakteri di dalam saluran akar.

Peneliti menggunakan kombinasi larutan sodium hypochlorite (NaOCl), EDTA, dan chlorhexidine untuk memastikan saluran akar benar-benar steril sebelum ditutup permanen. Setelah proses sterilisasi selesai, saluran akar diisi menggunakan gutta-percha dengan teknik lateral condensation.

Empat bulan setelah perawatan saluran akar selesai, dokter melanjutkan tahap rehabilitasi dengan pemasangan fiber post. Fiber post dipilih karena memiliki elastisitas yang lebih mirip dengan dentin alami dibandingkan logam sehingga mampu mendistribusikan tekanan lebih merata dan mengurangi risiko patah akar gigi.

Selain lebih aman secara biomekanik, fiber post juga dinilai lebih estetik untuk gigi depan karena tidak menimbulkan bayangan gelap seperti pasak logam konvensional.

Tahap berikutnya adalah pembentukan inti gigi menggunakan resin komposit sebelum pemasangan mahkota gigi porcelain fused-to-metal (PFM). Mahkota PFM dipilih karena mampu memberikan perlindungan struktural sekaligus mempertahankan tampilan alami gigi depan pasien.

Hasil akhir menunjukkan pasien tidak lagi mengalami keluhan nyeri, jaringan pendukung gigi berada dalam kondisi normal, dan fungsi kunyah kembali baik. Dari sisi estetika, bentuk dan warna gigi juga berhasil dipulihkan sehingga meningkatkan rasa percaya diri pasien.

Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan perawatan gigi traumatik tidak hanya bergantung pada kualitas perawatan saluran akar, tetapi juga pada kualitas restorasi akhir yang mampu menjaga kekuatan struktur gigi dan mencegah kebocoran bakteri dari rongga mulut.

Tim peneliti juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai penanganan dini trauma gigi. Banyak kasus pada anak dan remaja terlambat mendapatkan perawatan karena dianggap tidak berbahaya ketika rasa nyeri sudah hilang.

Padahal, menurut peneliti, infeksi pada pulpa gigi dapat terus berkembang secara perlahan tanpa gejala jelas dan baru diketahui setelah terjadi kerusakan jaringan yang lebih luas.

Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi dunia kedokteran gigi, terutama dalam penanganan trauma gigi pada anak dan remaja. Kombinasi terapi endodontik dan restorasi modern dinilai dapat menjadi solusi efektif untuk mempertahankan gigi alami pasien dalam jangka panjang.

Selain itu, hasil penelitian juga relevan bagi praktisi kesehatan gigi, institusi pendidikan kedokteran gigi, serta masyarakat umum untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan segera setelah trauma gigi terjadi.

Ke depan, tim peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar untuk membandingkan efektivitas fiber post dan pasak logam dalam jangka panjang. Penelitian mengenai material restorasi baru dengan daya tahan dan estetika lebih baik juga dinilai penting untuk mendukung perkembangan teknologi kedokteran gigi restoratif.

Profil Penulis

Ratih Delio Rakhmadian merupakan akademisi dan peneliti dari Departemen Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Bidang keahliannya meliputi endodontik, restorasi gigi, dan rehabilitasi gigi pascatrauma. Penelitian ini juga melibatkan Meidi Kurnia Ariani dan Musthika Jathiasih dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.

Sumber Penelitian

Ratih Delio Rakhmadian, Meidi Kurnia Ariani, dan Musthika Jathiasih. “Case Report: Management of Fractures in Anterior Teeth among Adolescents.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 5, 2026, halaman 1387–1398.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.82

Posting Komentar

0 Komentar