Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu di Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis

Gambar Ilustrasi AI

Layanan Kesehatan Ibu di Negara Berkembang Masih Timpang Meski Pemeriksaan Kehamilan Meningkat

Penelitian internasional yang dipimpin Ririt Yuliarti Taha dari STIKES Pelita Ibu mengungkap bahwa jutaan perempuan di negara berpenghasilan rendah dan menengah masih belum memperoleh layanan kesehatan ibu secara lengkap, meski akses pemeriksaan kehamilan awal terus meningkat. Studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) ini menganalisis 145 penelitian dari 89 negara dengan melibatkan lebih dari 2,8 juta perempuan.

Temuan tersebut menjadi penting karena kematian ibu melahirkan masih menjadi salah satu krisis kesehatan global terbesar. Penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan sudah memulai pemeriksaan kehamilan, tetapi tidak melanjutkan layanan kesehatan hingga persalinan dan masa pascamelahirkan. Akibatnya, risiko kematian ibu dan bayi baru lahir tetap tinggi, terutama di wilayah miskin dan pedesaan.

Kematian Ibu Masih Tinggi di Negara Berkembang

Penelitian mencatat sekitar 287.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat komplikasi kehamilan dan persalinan di seluruh dunia. Sebanyak 95 persen kasus terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Wilayah Afrika Sub-Sahara menjadi kawasan dengan angka kematian ibu tertinggi dan menyumbang hampir dua pertiga kematian maternal global. Kondisi ini menunjukkan bahwa target Sustainable Development Goals (SDGs) untuk menurunkan angka kematian ibu hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030 masih sulit tercapai secara merata.

Penelitian menegaskan bahwa kesehatan ibu bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan kemiskinan, pendidikan, akses transportasi, kualitas fasilitas kesehatan, hingga kesenjangan sosial.

Penelitian Analisis Data dari 89 Negara

Penelitian menggunakan metode systematic review dan meta-analysis berdasarkan standar internasional PRISMA 2020.

Tim peneliti menelaah berbagai publikasi ilmiah dari basis data kesehatan global seperti PubMed, Scopus, Web of Science, CINAHL, dan Cochrane Library yang terbit sepanjang 2015–2024.

Kajian tersebut mencakup:

  • 145 penelitian internasional
  • 89 negara berkembang
  • Lebih dari 2,8 juta perempuan
  • Data dari Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Amerika Latin

Sebagian besar penelitian menggunakan data survei kesehatan nasional seperti Demographic and Health Surveys (DHS) dan Multiple Indicator Cluster Surveys (MICS).

Peneliti kemudian mengevaluasi berbagai indikator layanan kesehatan ibu, mulai dari pemeriksaan kehamilan, persalinan dengan tenaga kesehatan profesional, persalinan di fasilitas kesehatan, hingga layanan pascamelahirkan.

Banyak Ibu Hanya Memulai Pemeriksaan Kehamilan

Salah satu temuan utama penelitian adalah terjadinya penurunan besar dalam keberlanjutan layanan kesehatan ibu selama masa kehamilan hingga pascapersalinan.

Hasil meta-analisis menunjukkan:

  • 85 persen ibu hamil melakukan minimal satu kali pemeriksaan kehamilan
  • Hanya 50,8 persen menyelesaikan empat kali pemeriksaan kehamilan
  • Hanya 18,3 persen mencapai standar WHO delapan kali kunjungan antenatal
  • Persalinan dengan tenaga kesehatan profesional mencapai 65,6 persen
  • Persalinan di fasilitas kesehatan mencapai 66,9 persen
  • Layanan pascamelahirkan hanya mencapai 48,9 persen

Penelitian menyebut kondisi ini sebagai kegagalan “continuity of care” atau kesinambungan layanan kesehatan ibu.

Artinya, banyak perempuan berhasil masuk ke sistem layanan kesehatan saat awal kehamilan, tetapi tidak mendapatkan pendampingan medis yang berkelanjutan hingga setelah melahirkan.

Padahal, penelitian menegaskan bahwa sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir justru terjadi dalam 48 jam pertama setelah persalinan.

Perempuan Miskin dan Pedesaan Paling Rentan

Penelitian menemukan adanya kesenjangan besar berdasarkan pendidikan, ekonomi, dan lokasi tempat tinggal.

Perempuan dengan pendidikan menengah atau lebih tinggi memiliki peluang:

  • 3,42 kali lebih besar menyelesaikan empat kali pemeriksaan kehamilan
  • 4,18 kali lebih besar memperoleh bantuan persalinan tenaga kesehatan profesional
  • 4,31 kali lebih besar melahirkan di fasilitas kesehatan

Sementara itu, perempuan dari keluarga kaya memiliki peluang hingga enam kali lebih besar mengakses layanan kesehatan ibu dibanding perempuan dari keluarga miskin.

Kesenjangan wilayah juga sangat terlihat.

Perempuan di daerah perkotaan memiliki:

  • Peluang 2,87 kali lebih besar menyelesaikan empat kali pemeriksaan kehamilan
  • Peluang 3,54 kali lebih besar melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding perempuan pedesaan

Selain itu, jarak fasilitas kesehatan menjadi hambatan besar. Perempuan yang tinggal lebih dari lima kilometer dari pusat layanan kesehatan memiliki kemungkinan 59 persen lebih rendah melahirkan di fasilitas medis.

Asuransi dan Kualitas Layanan Sangat Berpengaruh

Penelitian menemukan bahwa kepemilikan asuransi kesehatan secara signifikan meningkatkan akses layanan kesehatan ibu.

Asuransi hampir melipatgandakan peluang persalinan di fasilitas kesehatan, sementara persepsi positif terhadap kualitas layanan meningkatkan penggunaan layanan kesehatan ibu hingga tiga sampai empat kali lebih tinggi.

Selain itu, tenaga kesehatan komunitas atau community health workers memiliki peran penting dalam membantu ibu hamil menyelesaikan pemeriksaan kehamilan sesuai rekomendasi.

Ibu hamil yang memperoleh pendampingan tenaga kesehatan komunitas memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk menyelesaikan kunjungan antenatal secara lengkap.

Menurut Ririt Yuliarti Taha, bantuan finansial saja tidak cukup untuk menurunkan angka kematian ibu. Perempuan juga membutuhkan layanan kesehatan yang berkualitas, mudah dijangkau, dan memberikan pengalaman persalinan yang aman serta bermartabat.

Layanan Pascamelahirkan Masih Terabaikan

Meski beberapa indikator menunjukkan peningkatan tahunan, penelitian menilai layanan pascamelahirkan masih menjadi bagian paling lemah dalam sistem kesehatan ibu.

Pemeriksaan kehamilan empat kali meningkat sekitar 1,8 persen per tahun, persalinan dengan tenaga kesehatan meningkat 2,1 persen per tahun, dan persalinan di fasilitas kesehatan naik sekitar 2,3 persen per tahun.

Namun, peningkatan layanan pascapersalinan dinilai sangat lambat.

Penelitian menyebut banyak sistem kesehatan masih terlalu fokus pada proses persalinan, sementara fase pemulihan ibu setelah melahirkan belum mendapat perhatian yang memadai.

Penting bagi Kebijakan Kesehatan Global

Penelitian ini memiliki implikasi besar bagi pemerintah, rumah sakit, organisasi kesehatan internasional, dan pembuat kebijakan publik.

Peneliti merekomendasikan:

  • Perluasan cakupan jaminan kesehatan universal
  • Dukungan transportasi bagi ibu hamil di pedesaan
  • Penguatan tenaga kesehatan komunitas
  • Peningkatan kualitas layanan persalinan
  • Pengembangan klinik kesehatan bergerak
  • Penguatan layanan pascamelahirkan

Penelitian menegaskan bahwa penurunan angka kematian ibu membutuhkan pendekatan yang lebih adil dan menyeluruh, bukan sekadar meningkatkan jumlah fasilitas kesehatan.

Profil Penulis

Ririt Yuliarti Taha merupakan peneliti kesehatan dari STIKES Pelita Ibu. Bidang keahliannya meliputi kesehatan ibu dan anak, sistem kesehatan masyarakat, kesenjangan akses layanan kesehatan, pencegahan kematian maternal, dan kebijakan kesehatan di negara berkembang.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Maternal Healthcare Service Utilization in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prevalence and Determinants
Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar