Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatera Barat Dinilai Efektif Tekan Risiko Banjir Bandang

Ilustrasi by AI

Sumatera Barat-Banjir bandang yang melanda Sumatera Barat pada akhir 2025 mendorong pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berskala besar untuk mengurangi risiko bencana susulan. Penelitian terbaru yang ditulis oleh Dimas Andrianto bersama tim dari Indonesian Defense University menunjukkan bahwa operasi tersebut berhasil mengalihkan curah hujan ekstrem dari wilayah pegunungan ke kawasan laut dan pesisir yang lebih aman.

Riset berjudul Analysis of Weather Modification Operations as Mitigation for Hydrometeorological Disasters in West Sumatra: A Case Study of the December 2025 Emergency Response itu dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Sustainable Applied Sciences Volume 4 Nomor 4 tahun 2026. Penelitian dilakukan selama masa tanggap darurat pada 10–22 Desember 2025, setelah banjir bandang besar terjadi di Sumatera Barat pada 28 November 2025.

Tim peneliti menjelaskan bahwa wilayah Sumatera Barat memiliki tantangan geografis yang sangat kompleks. Pegunungan Bukit Barisan membuat aliran air dari hulu menuju hilir berlangsung sangat cepat ketika hujan ekstrem terjadi. Kondisi ini menyebabkan banjir bandang lebih sulit dikendalikan dibandingkan di wilayah dataran rendah.

Menurut peneliti, metode mitigasi konvensional seperti tanggul dan bendungan tidak selalu cukup menghadapi lonjakan debit air secara tiba-tiba. Karena itu, pemerintah bersama tim modifikasi cuaca menggunakan pendekatan nonstruktural melalui penyemaian awan untuk mengurangi intensitas hujan di daerah rawan bencana.

Penelitian ini menjadi penting karena sebagian besar studi modifikasi cuaca sebelumnya dilakukan di daerah datar seperti Jakarta atau kawasan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Operasi di Sumatera Barat jauh lebih rumit karena pesawat harus bermanuver di antara lembah sempit dan pegunungan tinggi sambil tetap menjaga keselamatan penerbangan.

Dalam operasinya, tim menggunakan pesawat Cessna Caravan PK-AKR yang berbasis di Bandara Internasional Minangkabau, Padang Pariaman. Pesawat tersebut mampu membawa hingga 1.000 kilogram bahan semai dalam satu penerbangan.

Selama 13 hari operasi, tercatat sebanyak 69 sorti penerbangan dengan total waktu terbang mencapai 128 jam. Tim menggunakan total 68 ton bahan semai, terdiri dari 51 ton Sodium Chloride (NaCl) dan 17 ton Calcium Oxide (CaO).

NaCl digunakan untuk mempercepat pembentukan hujan lebih awal, sedangkan CaO dipakai untuk memecah pertumbuhan awan badai besar. Kombinasi kedua bahan ini dinilai efektif mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah hulu.

Peneliti menjelaskan bahwa CaO bekerja melalui reaksi kimia yang menghasilkan panas sehingga mampu mengganggu stabilitas awan cumulonimbus yang berpotensi memicu hujan lebat dan badai. Strategi ini disebut mampu “memecah” konsentrasi awan konvektif sebelum berkembang menjadi ancaman besar.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan strategi “sectoral interception” atau pencegatan sektoral. Artinya, pesawat melakukan penyemaian awan di wilayah barat dan barat laut Sumatera Barat, terutama di atas laut dan kawasan pesisir, sebelum massa awan bergerak menuju pegunungan Bukit Barisan.

Hasil radar cuaca menunjukkan hujan berhasil dipaksa turun lebih awal di wilayah laut dan pesisir seperti Padang Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat. Dengan begitu, jumlah uap air yang masuk ke wilayah pegunungan berkurang secara signifikan.

Tim peneliti menemukan bahwa strategi ini efektif mengurangi beban hidrologi di daerah hulu yang sebelumnya sangat rentan terhadap banjir bandang dan banjir lahar dingin.

Meski demikian, operasi menghadapi tantangan besar. Topografi pegunungan membuat pilot harus mematuhi batas Minimum Safe Altitude (MSA) agar tidak bertabrakan dengan tebing gunung. Selain itu, pertumbuhan awan di Sumatera Barat berlangsung sangat cepat akibat fenomena orografis, yaitu udara lembap yang dipaksa naik ketika bertemu pegunungan.

Kondisi tersebut membuat waktu efektif operasi sangat terbatas, hanya sekitar pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Di luar jam tersebut, kabut pegunungan dan awan konvektif sering menghambat jarak pandang penerbangan.

Penelitian juga memperlihatkan bahwa pada hari-hari tertentu, seperti 15 dan 19 Desember 2025, penggunaan CaO meningkat tajam karena radar mendeteksi pertumbuhan awan badai besar sejak pagi hari. Tim operasi kemudian menerapkan strategi pemecahan awan yang lebih agresif.

Evaluasi radar cuaca memperlihatkan bahwa awan konvektif yang awalnya tumbuh di Samudra Hindia berhasil diintervensi sebelum mencapai kawasan pegunungan. Pada fase berikutnya, awan mengalami pelemahan dan peluruhan lebih cepat sehingga hujan ekstrem di wilayah hulu dapat ditekan.

Menurut tim peneliti, keberhasilan ini menunjukkan bahwa operasi modifikasi cuaca dapat menjadi instrumen penting mitigasi bencana hidrometeorologi di daerah pegunungan Indonesia.

Penelitian tersebut juga merekomendasikan perlunya protokol khusus operasi modifikasi cuaca untuk wilayah bertopografi ekstrem. Beberapa rekomendasi utama meliputi penyesuaian batas aman penerbangan di daerah pegunungan, penggunaan radar cuaca real-time di pesawat, serta peningkatan intensitas sorti pagi sebelum awan berkembang menjadi badai besar.

Selain itu, peneliti mendorong pengembangan teknologi baru seperti penggunaan drone atau sistem penyemaian otomatis untuk meningkatkan presisi operasi di wilayah lembah sempit yang sulit dijangkau pesawat.

Penelitian lanjutan juga dinilai penting untuk menghitung secara kuantitatif seberapa besar penurunan curah hujan yang benar-benar dihasilkan oleh operasi modifikasi cuaca dibandingkan proses alami atmosfer.

Dimas Andrianto merupakan peneliti dari Indonesian Defense University yang berfokus pada mitigasi bencana dan operasi modifikasi cuaca. Penelitian ini juga melibatkan Sukendra Martha, Aris Poniman, Asep Adang Supriyadi, dan Dangan Waluyo.

Sumber Penelitian:
“Analysis of Weather Modification Operations as Mitigation for Hydrometeorological Disasters in West Sumatra: A Case Study of the December 2025 Emergency Response”, International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4 No. 4 Tahun 2026.
DOI:  https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i4.435
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar