Nilai Perusahaan terhadap Kualitas Audit sebagai Moderasi: Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Profitabilitas, dan Pengungkitan

Illustration by Ai


FORMOSA NEWS- Jambi

CSR, Profitabilitas, dan Utang Pengaruhi Nilai Perusahaan Energi di Bursa Efek Indonesia

Perusahaan sektor energi di Indonesia dinilai semakin bergantung pada citra sosial, kemampuan menghasilkan laba, dan pengelolaan utang untuk menjaga nilai perusahaan di mata investor. Temuan ini dipublikasikan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Anisa Zultia Nasution, Wiralestari, dan Eko Prasetyo dari Universitas Jambi dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) edisi April 2026. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), profitabilitas, dan leverage memengaruhi nilai perusahaan energi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2022–2024.

Hasil penelitian menjadi penting karena sektor energi menghadapi tekanan besar akibat fluktuasi harga komoditas, isu lingkungan, hingga meningkatnya tuntutan transparansi publik. Investor kini tidak hanya melihat laba perusahaan, tetapi juga memperhatikan bagaimana perusahaan mengelola dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas bisnisnya.

Penelitian dilakukan pada perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari total 71 perusahaan, peneliti memilih 50 perusahaan yang rutin menerbitkan laporan keberlanjutan atau sustainability report. Setelah proses penyaringan data dan penghapusan outlier, penelitian menggunakan 115 observasi dari 43 perusahaan.

Nilai perusahaan dalam studi ini diukur menggunakan indikator Price to Book Value (PBV), sedangkan CSR diukur berdasarkan standar internasional Global Reporting Initiative (GRI). Profitabilitas diukur menggunakan Return on Assets (ROA), leverage menggunakan Debt to Asset Ratio (DAR), dan kualitas audit dilihat dari penggunaan kantor akuntan publik Big Four atau non-Big Four.

Investor Mulai Memperhatikan CSR dan Reputasi Perusahaan

Penelitian menemukan bahwa CSR memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Tingkat signifikansi yang diperoleh sebesar 0,013 atau lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa keterbukaan perusahaan dalam melaporkan aktivitas sosial dan lingkungan mampu meningkatkan persepsi investor terhadap prospek perusahaan.

Menurut Anisa Zultia Nasution dan tim peneliti Universitas Jambi, CSR kini bukan lagi sekadar program tambahan, tetapi telah menjadi sinyal penting bagi pasar modal.

Dalam penelitian disebutkan bahwa perusahaan energi memiliki risiko sosial dan lingkungan yang tinggi karena berkaitan dengan aktivitas pertambangan, minyak, gas, dan batu bara. Ketika perusahaan gagal menjalankan tanggung jawab sosialnya, dampaknya bisa langsung memengaruhi reputasi dan nilai perusahaan.

Peneliti mencontohkan kasus dugaan pencemaran udara oleh PT RMK Energy Tbk di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Aktivitas stockpile batu bara disebut menyebabkan kadar partikulat udara melampaui baku mutu nasional sehingga pemerintah menjatuhkan sanksi administratif berupa penghentian sementara operasional.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa masalah lingkungan tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap perusahaan energi.

Profitabilitas Jadi Faktor Paling Kuat

Selain CSR, profitabilitas menjadi faktor yang paling kuat memengaruhi nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan profitabilitas memiliki tingkat signifikansi 0,001 dengan nilai statistik tertinggi dibanding variabel lainnya.

Artinya, investor sangat memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan di tengah gejolak harga komoditas energi global.

Penelitian mencatat bahwa sepanjang 2023 harga batu bara turun hingga 64,85 persen menjadi USD 136,95 per ton. Kondisi tersebut menyebabkan laba sejumlah perusahaan energi besar mengalami penurunan tajam.

Beberapa perusahaan yang disebut mengalami penurunan laba antara lain:

  • ITMG turun 58,72 persen
  • PTBA turun 51,42 persen
  • ADRO turun 34,81 persen

Penurunan laba tersebut ikut menekan harga saham perusahaan energi di pasar modal.

Menurut peneliti, perusahaan yang mampu mempertahankan profitabilitas tinggi dinilai memiliki ketahanan bisnis yang lebih baik. Hal ini memberikan sinyal positif kepada investor bahwa perusahaan masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Profitabilitas memberikan sinyal kuat mengenai kinerja dan prospek masa depan perusahaan,” tulis Anisa Zultia Nasution, Wiralestari, dan Eko Prasetyo dalam publikasi ilmiahnya.

Utang Dinilai Masih Wajar oleh Investor

Penelitian juga menemukan bahwa leverage atau tingkat penggunaan utang berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan tingkat signifikansi 0,004.

Dalam konteks sektor energi, penggunaan utang dinilai masih dapat diterima investor selama digunakan untuk mendukung proyek jangka panjang dan ekspansi bisnis.

Peneliti menjelaskan bahwa industri energi memang membutuhkan modal besar sehingga perusahaan sering menggunakan pembiayaan berbasis utang untuk membangun infrastruktur dan operasional.

Karena itu, investor tidak selalu memandang utang sebagai sinyal negatif. Sebaliknya, leverage yang dikelola secara optimal justru dianggap menunjukkan kepercayaan diri manajemen terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas di masa depan.

Namun, penelitian juga mencatat adanya perbedaan tingkat leverage pada beberapa perusahaan energi. PTBA misalnya mengalami kenaikan DAR sebesar 22,40 persen, sementara ITMG dan ADRO justru mengalami penurunan rasio utang.

Kualitas Audit Tidak Mengubah Persepsi Investor

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah kualitas audit ternyata tidak mampu memperkuat hubungan CSR, profitabilitas, maupun leverage terhadap nilai perusahaan.

Peneliti menggunakan indikator kantor akuntan publik Big Four seperti PwC, Deloitte, EY, dan KPMG untuk mengukur kualitas audit. Namun hasil analisis menunjukkan reputasi auditor tidak terlalu memengaruhi penilaian investor terhadap perusahaan energi.

Nilai signifikansi moderasi kualitas audit terhadap CSR tercatat 0,398, profitabilitas 0,530, dan leverage 0,101. Seluruh angka tersebut berada di atas ambang 0,05 sehingga dinilai tidak signifikan.

Menurut peneliti, investor di sektor energi cenderung lebih fokus pada kondisi fundamental perusahaan dibanding reputasi auditor.

Selain itu, informasi CSR dianggap sebagai informasi non-keuangan yang tidak selalu menjadi bagian utama dalam audit laporan keuangan konvensional.

Penting untuk Dunia Bisnis dan Kebijakan Publik

Penelitian ini memperlihatkan bahwa perusahaan energi perlu menjaga keseimbangan antara profitabilitas, tanggung jawab sosial, dan struktur pendanaan agar tetap menarik di mata investor.

Bagi dunia usaha, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa transparansi CSR dan pengelolaan keuangan yang sehat dapat meningkatkan kepercayaan pasar.

Sementara bagi pemerintah dan regulator pasar modal, penelitian ini menunjukkan pentingnya mendorong praktik bisnis berkelanjutan di sektor energi, terutama terkait isu lingkungan dan tata kelola perusahaan.

Peneliti juga menyarankan agar perusahaan meningkatkan kualitas pengungkapan CSR sesuai standar GRI dan lebih berhati-hati dalam mengelola utang perusahaan.

Profil Penulis

Anisa Zultia Nasution merupakan peneliti dari Universitas Jambi yang fokus pada bidang akuntansi keuangan dan nilai perusahaan.

Wiralestari adalah akademisi Universitas Jambi dengan bidang keahlian akuntansi manajemen, tata kelola perusahaan, dan pelaporan keberlanjutan.

Eko Prasetyo merupakan dosen dan peneliti Universitas Jambi yang meneliti bidang audit, pasar modal, dan analisis laporan keuangan.

Sumber Penelitian
Nasution, Anisa Zultia, Wiralestari, dan Eko Prasetyo. “Firm Value on Audit Quality as Moderation: Corporate Social Responsibility, Profitability and Leverage.” 
Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA)
Vol. 6 No. 4, April 2026, halaman 392–406.

Posting Komentar

0 Komentar