Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - NTT - Tenun Sikka Memperkuat Diplomasi Budaya Indonesia–Timor-Leste Melalui Pertukaran Lintas Batas. Pengabdian yang dilakukan oleh Agustinus Lambertus Suban dari Universitas Nusa Nipa dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa membuka ruang interaksi langsung antarpenenun lintas negara, memperkuat kerja sama budaya, sekaligus menciptakan peluang ekonomi kreatif baru.
Pengabdian yang dilakukan oleh Agustinus Lambertus Suban dari Universitas Nusa Nipa menyoroti bahwa Kedekatan historis dan budaya kedua wilayah membuka peluang besar untuk kolaborasi, tetapi selama ini interaksi langsung antar pelaku budaya terutama penenun masih terbatas.
Diplomasi Budaya yang Saling Menguntungkan
Salah satu temuan penting adalah munculnya konsep diplomasi budaya yang bersifat timbal balik. Tidak hanya Indonesia yang mempromosikan tenun Sikka, tetapi penenun Timor Leste juga ingin memperkenalkan motif tais mereka ke pasar Indonesia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya tidak lagi bersifat satu arah, melainkan kolaboratif dan setara. Tenun menjadi medium komunikasi lintas budaya yang mampu membangun hubungan harmonis di luar jalur diplomasi formal. Lebih jauh, kegiatan ini juga menghasilkan rencana konkret berupa workshop bersama yang akan digelar bergantian di Dili dan Maumere. Workshop ini bertujuan memperdalam teknik, filosofi, serta strategi pemasaran tenun lintas negara.
Pendekatan Partisipatif dan Kolaboratif
Program yang digagas Agustinus Lambertus Suban menggunakan pendekatan partisipatif. Tim peneliti melibatkan langsung penenun, pedagang, akademisi, dan komunitas budaya. Rangkaian kegiatan dimulai dari koordinasi di Maumere, dilanjutkan perjalanan ke Dili, hingga pelaksanaan pameran interaktif di Festival Tais Market. Di festival tersebut, tim memperkenalkan berbagai motif tenun Sikka sekaligus menjelaskan filosofi di baliknya kepada pengunjung internasional. Metode interaktif ini memungkinkan dialog dua arah antara penenun Indonesia dan Timor Leste. Selain pameran, tim juga menggelar pertemuan akademik dengan tiga perguruan tinggi di Dili: Dili Institute of Technology (DIT), Universidade da Paz (UNPAZ), dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL). Pertemuan ini difokuskan pada pengembangan kerja sama riset, pendidikan, dan pelestarian tenun.
Temuan Utama Penelitian
Hasil kegiatan menunjukkan sejumlah capaian penting:
Pengabdian yang dilakukan oleh Agustinus Lambertus Suban dari Universitas Nusa Nipa menyoroti bahwa Kedekatan historis dan budaya kedua wilayah membuka peluang besar untuk kolaborasi, tetapi selama ini interaksi langsung antar pelaku budaya terutama penenun masih terbatas.
Diplomasi Budaya yang Saling Menguntungkan
Salah satu temuan penting adalah munculnya konsep diplomasi budaya yang bersifat timbal balik. Tidak hanya Indonesia yang mempromosikan tenun Sikka, tetapi penenun Timor Leste juga ingin memperkenalkan motif tais mereka ke pasar Indonesia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya tidak lagi bersifat satu arah, melainkan kolaboratif dan setara. Tenun menjadi medium komunikasi lintas budaya yang mampu membangun hubungan harmonis di luar jalur diplomasi formal. Lebih jauh, kegiatan ini juga menghasilkan rencana konkret berupa workshop bersama yang akan digelar bergantian di Dili dan Maumere. Workshop ini bertujuan memperdalam teknik, filosofi, serta strategi pemasaran tenun lintas negara.
Pendekatan Partisipatif dan Kolaboratif
Program yang digagas Agustinus Lambertus Suban menggunakan pendekatan partisipatif. Tim peneliti melibatkan langsung penenun, pedagang, akademisi, dan komunitas budaya. Rangkaian kegiatan dimulai dari koordinasi di Maumere, dilanjutkan perjalanan ke Dili, hingga pelaksanaan pameran interaktif di Festival Tais Market. Di festival tersebut, tim memperkenalkan berbagai motif tenun Sikka sekaligus menjelaskan filosofi di baliknya kepada pengunjung internasional. Metode interaktif ini memungkinkan dialog dua arah antara penenun Indonesia dan Timor Leste. Selain pameran, tim juga menggelar pertemuan akademik dengan tiga perguruan tinggi di Dili: Dili Institute of Technology (DIT), Universidade da Paz (UNPAZ), dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL). Pertemuan ini difokuskan pada pengembangan kerja sama riset, pendidikan, dan pelestarian tenun.
Temuan Utama Penelitian
Hasil kegiatan menunjukkan sejumlah capaian penting:
- Interaksi budaya meningkat signifikan melalui diskusi langsung antara penenun, akademisi, dan pengunjung festival.
- Pertukaran pengetahuan terjadi aktif, termasuk filosofi motif dan teknik menenun.
- Kerja sama institusional terbentuk dengan tiga universitas di Timor Leste.
- Peluang ekonomi terbuka, terutama melalui rencana pemasaran silang produk tenun.
- Kesepakatan workshop bersama bertajuk “Exchange of Cultural Diplomacy Ideas through Weaving”.
Antusiasme pengunjung festival menjadi indikator kuat keberhasilan program. Banyak pengunjung yang sebelumnya tidak mengenal tenun Flores menjadi tertarik, bahkan menanyakan cara pembelian produk. Diskusi juga berkembang ke isu strategis seperti pelestarian budaya, regenerasi penenun muda, serta keseimbangan antara nilai sakral dan komersial dalam tenun tradisional.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Selain aspek budaya, penelitian ini menyoroti dampak ekonomi yang signifikan. Komunikasi antara pedagang di Tais Market Dili dan penjual di Maumere membuka peluang pemasaran silang. Beberapa pedagang di Timor Leste menyatakan minat untuk menjual tenun Flores, sementara pelaku usaha di Indonesia bersedia memasarkan kain tais. Skema ini berpotensi meningkatkan pendapatan penenun di kedua negara sekaligus memperluas pasar produk tradisional. Dari sisi sosial, keterlibatan langsung penenun dalam kegiatan ini memperkuat rasa percaya diri dan identitas budaya. Program ini juga mendorong generasi muda untuk melihat tenun sebagai peluang ekonomi kreatif, bukan sekadar warisan tradisional.
Profil Penulis
Agustinus Lambertus Suban adalah akademisi dari Universitas Nusa Nipa, Flores. Ia memiliki fokus keilmuan pada diplomasi budaya, pemberdayaan komunitas, dan pelestarian warisan budaya berbasis ekonomi kreatif.
Sumber Penelitian
Suban, Agustinus Lambertus. 2026. Strengthening Cultural Diplomacy Between Indonesia and Timor-Leste through Sikka Sarong Weaving as a Medium for Cultural Exchange. Asian Journal of Community Services, Vol. 5 No. 4, hlm. 195–204.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i4.16
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs
Dampak Ekonomi dan Sosial
Selain aspek budaya, penelitian ini menyoroti dampak ekonomi yang signifikan. Komunikasi antara pedagang di Tais Market Dili dan penjual di Maumere membuka peluang pemasaran silang. Beberapa pedagang di Timor Leste menyatakan minat untuk menjual tenun Flores, sementara pelaku usaha di Indonesia bersedia memasarkan kain tais. Skema ini berpotensi meningkatkan pendapatan penenun di kedua negara sekaligus memperluas pasar produk tradisional. Dari sisi sosial, keterlibatan langsung penenun dalam kegiatan ini memperkuat rasa percaya diri dan identitas budaya. Program ini juga mendorong generasi muda untuk melihat tenun sebagai peluang ekonomi kreatif, bukan sekadar warisan tradisional.
Profil Penulis
Agustinus Lambertus Suban adalah akademisi dari Universitas Nusa Nipa, Flores. Ia memiliki fokus keilmuan pada diplomasi budaya, pemberdayaan komunitas, dan pelestarian warisan budaya berbasis ekonomi kreatif.
Sumber Penelitian
Suban, Agustinus Lambertus. 2026. Strengthening Cultural Diplomacy Between Indonesia and Timor-Leste through Sikka Sarong Weaving as a Medium for Cultural Exchange. Asian Journal of Community Services, Vol. 5 No. 4, hlm. 195–204.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i4.16
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

0 Komentar