Penelitian tersebut mengkaji perilaku konsumen pada usaha pengolahan dan pengawetan daging Kanasap di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa selain harga, kualitas produk menjadi pertimbangan utama yang mendorong konsumen mengambil keputusan pembelian. Temuan ini penting karena industri makanan beku atau frozen food terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap makanan praktis dan siap olah.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor kuliner Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat. Meningkatnya mobilitas masyarakat, perubahan gaya hidup, dan kebutuhan akan makanan yang mudah disiapkan telah mendorong permintaan produk makanan beku. Kondisi ini juga memicu persaingan yang semakin ketat di kalangan pelaku usaha makanan olahan, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kanasap merupakan salah satu pelaku usaha yang memproduksi daging asap dan makanan beku berbahan dasar sapi serta ayam. Produk andalannya adalah sei sapi dan sei ayam yang diproses melalui teknik pengasapan tradisional dan pembekuan untuk menjaga cita rasa serta daya tahan produk. Namun, meningkatnya jumlah pesaing dan perubahan harga bahan baku membuat perusahaan menghadapi tantangan dalam mempertahankan penjualan.
Data penjualan Kanasap menunjukkan fluktuasi dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, omzet penjualan mencapai Rp163,91 juta. Angka tersebut turun menjadi Rp155,15 juta pada 2023 sebelum kembali meningkat menjadi Rp171,9 juta pada 2024. Perubahan ini mendorong peneliti untuk menelusuri faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Untuk memperoleh jawabannya, tim peneliti melakukan survei terhadap 100 konsumen Kanasap yang berusia minimal 18 tahun dan telah melakukan pembelian setidaknya dua kali. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan metode regresi linier berganda dengan bantuan perangkat lunak statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk dan harga sama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Namun, pengaruh kualitas produk terbukti lebih besar dibandingkan harga.
Analisis statistik menghasilkan persamaan:
Y = 1,206 + 0,384X₁ + 0,272X₂
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap peningkatan kualitas produk memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan keputusan pembelian dibandingkan perubahan harga.
Beberapa temuan utama penelitian antara lain:
- Kualitas produk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
- Harga juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
- Kualitas produk memberikan pengaruh lebih kuat dibandingkan harga.
- Kualitas produk dan harga secara bersama-sama menjelaskan 54,3 persen variasi keputusan pembelian konsumen.
- Hubungan antara kualitas produk, harga, dan keputusan pembelian tergolong kuat dengan nilai korelasi 0,737.
Menurut peneliti, karakteristik produk makanan beku membuat konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga saat membeli. Mereka juga menilai kualitas produk dari berbagai aspek, seperti cita rasa, kebersihan, daya tahan penyimpanan, serta kualitas setelah produk dicairkan dan dipanaskan kembali.
Mayoritas responden penelitian berasal dari kelompok usia produktif dan pekerja aktif yang membutuhkan makanan praktis tetapi tetap mengutamakan kualitas konsumsi. Dalam kelompok konsumen ini, kualitas produk dipersepsikan sebagai manfaat utama yang diperoleh dari pembelian.
Sementara itu, harga dipandang sebagai ukuran nilai yang harus dibayar untuk memperoleh manfaat tersebut. Konsumen cenderung tetap membeli meskipun harga tidak paling murah, selama mereka merasa kualitas yang diterima sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Cici Amanda dan Samsuddin menjelaskan bahwa keputusan pembelian pada produk makanan beku tidak ditentukan oleh harga rendah semata. Konsumen melakukan evaluasi terhadap keseimbangan antara manfaat yang diterima dan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, kualitas produk dan harga bekerja secara bersamaan dalam membentuk persepsi nilai konsumen.
Temuan ini memberikan sejumlah implikasi praktis bagi pelaku UMKM makanan olahan. Strategi bisnis yang hanya berfokus pada perang harga dinilai kurang efektif untuk mempertahankan daya saing jangka panjang. Sebaliknya, menjaga kualitas produk secara konsisten dapat menjadi investasi yang lebih berkelanjutan.
Peneliti merekomendasikan agar pelaku usaha memperhatikan beberapa aspek penting, antara lain:
- Menjaga konsistensi rasa produk.
- Memastikan kebersihan dan keamanan pangan.
- Mempertahankan daya tahan produk selama penyimpanan.
- Mengembangkan kemasan yang lebih menarik dan fungsional.
- Menetapkan harga yang kompetitif sesuai daya beli konsumen.
- Memanfaatkan promosi digital dan media sosial untuk memperluas pasar.
Bagi dunia usaha, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas dapat menjadi strategi yang lebih efektif untuk mendorong penjualan dibandingkan sekadar menurunkan harga. Sementara bagi akademisi dan pembuat kebijakan, temuan ini memperkuat pentingnya pengembangan kapasitas UMKM dalam aspek mutu produk dan inovasi pemasaran.
Profil Penulis
Cici Amanda merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak yang memiliki minat kajian pada perilaku konsumen, pemasaran, dan pengembangan UMKM.
Samsuddin adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak yang menekuni bidang manajemen pemasaran, perilaku konsumen, dan strategi bisnis UMKM.
Sumber Penelitian
Amanda, C., & Samsuddin. (2026). The Influence of Product Quality and Price on Purchase Decision for Processed and Preserved Meat Products at Kanasap Businesses in Sungai Raya Subdistrict. Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Vol. 5 No. 2, halaman 545–560.
0 Komentar