Penelitian ini penting karena apendisitis masih menjadi salah satu kegawatdaruratan bedah paling umum di dunia, sementara resistensi antimikroba terus mengancam sistem kesehatan global. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat—baik karena tidak diperlukan, berlebihan, maupun kurang tepat sasaran—dapat menurunkan efektivitas terapi dan mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap obat.
Dipublikasikan dalam Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA), studi ini memberikan gambaran rinci mengenai praktik pengelolaan antibiotik di rumah sakit daerah Indonesia serta menunjukkan sejauh mana praktik klinis telah sejalan atau masih berbeda dari rekomendasi internasional.
Apendisitis akut terjadi ketika usus buntu mengalami peradangan dan umumnya memerlukan tindakan operasi segera untuk mencegah komplikasi serius seperti perforasi dan peritonitis. Dalam penanganan kondisi ini, antibiotik memiliki peran penting sebagai terapi pendukung. Pada apendisitis tanpa perforasi, antibiotik terutama digunakan untuk mencegah infeksi terkait operasi. Sebaliknya, pada kasus perforasi atau infeksi yang lebih kompleks, antibiotik menjadi bagian utama dari terapi pengobatan infeksi.
Pedoman internasional yang diterbitkan oleh American Society of Health-System Pharmacists (ASHP) dan Infectious Diseases Society of America (IDSA) telah mengatur bagaimana antibiotik seharusnya diberikan. Namun, penerapan standar tersebut secara konsisten sering kali menjadi tantangan, terutama di fasilitas kesehatan regional yang juga harus menyesuaikan keputusan terapi dengan protokol lokal dan ketersediaan sumber daya.
Untuk menilai kualitas peresepan antibiotik, tim peneliti UKI melakukan studi observasional retrospektif di RSUD Aeramo.
Penelitian dilakukan dengan menelaah rekam medis pasien dewasa penderita apendisitis yang dirawat antara April 2024 hingga April 2025. Dari 35 kasus yang teridentifikasi, hanya 25 rekam medis memenuhi syarat penelitian karena memiliki data lengkap mengenai jenis antibiotik, dosis, rute pemberian, dan waktu terapi.
Alih-alih menggunakan model statistik yang rumit, peneliti memakai Metode Gyssens, yaitu alat audit klinis yang digunakan secara internasional untuk menilai ketepatan penggunaan antibiotik. Metode ini mengevaluasi apakah antibiotik diberikan berdasarkan indikasi yang tepat, pilihan obat yang sesuai, dosis, waktu pemberian, serta durasi terapi. Hasil evaluasi dikelompokkan ke dalam kategori, mulai dari Kategori 0 yang menunjukkan penggunaan rasional hingga kategori yang menandakan adanya masalah seperti pemilihan obat yang kurang efektif atau tidak adanya indikasi medis yang jelas.
Profil pasien dalam penelitian menunjukkan sejumlah pola menarik.
Pasien perempuan mendominasi kasus apendisitis dengan proporsi 60 persen, sedangkan laki-laki mencapai 40 persen. Kelompok usia 18–25 tahun menjadi kelompok terbanyak dengan 52 persen dari seluruh pasien yang diteliti.
Peneliti juga menemukan jumlah kasus apendisitis perforasi sedikit lebih tinggi dibandingkan non-perforasi. Dari 25 pasien, 13 pasien (52 persen) mengalami apendisitis perforasi, sementara 12 pasien (48 persen) mengalami apendisitis tanpa perforasi.
Perbedaan ini diduga berkaitan dengan keterlambatan pasien mencari pertolongan medis.
Menurut peneliti, rendahnya kesadaran terhadap gejala awal—seperti nyeri perut kanan bawah, mual, dan gangguan pencernaan—dapat menyebabkan pasien datang terlambat ke fasilitas kesehatan. Keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko perforasi yang biasanya membutuhkan terapi lebih intensif dan penggunaan antibiotik yang lebih lama.
Pola peresepan antibiotik di RSUD Aeramo menunjukkan dominasi penggunaan golongan sefalosporin.
Seluruh pasien menerima antibiotik profilaksis berupa kombinasi cefazolin dan metronidazole sebelum operasi. Kombinasi ini lazim digunakan untuk mencegah infeksi area operasi dan secara umum sesuai dengan kebijakan rumah sakit.
Untuk terapi pra-operasi, cefotaxime menjadi antibiotik yang paling sering digunakan, yaitu pada 76 persen pasien, sementara ceftriaxone digunakan pada 20 persen kasus. Setelah operasi, pola terapi lebih beragam, meliputi cefotaxime tunggal, ceftriaxone tunggal, maupun kombinasi dengan metronidazole. Hampir seluruh pasien kemudian memperoleh cefixime sebagai terapi oral lanjutan saat pulang.
Temuan paling penting muncul ketika peneliti menilai apakah antibiotik tersebut benar-benar diberikan berdasarkan kebutuhan medis.
Dari 25 pasien, peneliti mencatat 100 kali pemberian antibiotik. Evaluasi menggunakan Metode Gyssens menunjukkan hasil yang beragam.
Penelitian menemukan:
- 53 persen penggunaan antibiotik tergolong rasional dan tepat (Kategori 0)
- 14 persen masuk Kategori IV A, artinya tersedia pilihan antibiotik yang lebih efektif
- 33 persen termasuk Kategori V, yaitu tanpa indikasi medis yang jelas
Sumber terbesar ketidaktepatan peresepan berasal dari penggunaan antibiotik pascaoperasi pada pasien apendisitis tanpa perforasi.
Menurut rekomendasi internasional, apendisitis tanpa komplikasi umumnya hanya membutuhkan antibiotik profilaksis sebelum operasi. Antibiotik tambahan setelah operasi biasanya tidak diperlukan kecuali terjadi komplikasi. Namun penelitian ini menemukan bahwa banyak pasien non-perforasi tetap menerima antibiotik dalam durasi yang lebih panjang.
Penggunaan cefotaxime dan cefixime pada kasus non-komplikasi menjadi penyumbang utama resep yang dinilai tidak memiliki indikasi yang kuat.
Tantangan juga terlihat pada pemilihan jenis obat.
Peneliti menemukan bahwa beberapa kasus perforasi masih menggunakan cefazolin, padahal pedoman internasional merekomendasikan terapi empiris yang lebih luas seperti ceftriaxone dikombinasikan dengan metronidazole untuk infeksi intraabdomen yang kompleks. Pilihan terapi ini menyebabkan sejumlah kasus masuk ke kategori yang menandakan adanya alternatif yang lebih efektif.
Meski demikian, penelitian juga menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.
Secara keseluruhan, ketepatan terapi mencapai 67 persen bila dinilai berdasarkan dosis, rute pemberian, dan waktu penggunaan. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan umumnya telah memberikan antibiotik dengan cara yang benar setelah keputusan terapi dibuat.
Masalah utama yang masih tersisa terletak pada penentuan kapan antibiotik benar-benar diperlukan dan jenis antibiotik apa yang paling tepat digunakan.
Romauli Lumbantobing dan rekan-rekannya menilai bahwa temuan ini memperkuat pentingnya Antimicrobial Stewardship Program (ASP) di rumah sakit. Program tersebut bertujuan memantau penggunaan antibiotik, meningkatkan kepatuhan terhadap pedoman klinis, serta memperlambat laju resistensi antimikroba.
Bagi rumah sakit seperti RSUD Aeramo, penelitian ini menjadi bukti praktis bahwa kepatuhan yang lebih baik terhadap protokol penggunaan antibiotik dapat meningkatkan mutu pelayanan sekaligus menjaga efektivitas antibiotik bagi pasien di masa depan.
Implikasinya tidak hanya berlaku bagi satu rumah sakit.
Ketika resistensi antimikroba terus meningkat di seluruh dunia, penelitian seperti ini menunjukkan bahwa keputusan peresepan sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Penggunaan antibiotik yang rasional kini bukan lagi sekadar persoalan klinis, melainkan telah menjadi prioritas kesehatan jangka panjang.
Profil Penulis
Dr. Romauli Lumbantobing merupakan dosen dan peneliti di Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, dengan fokus penelitian pada farmakologi, penggunaan obat rasional, dan evaluasi terapi klinis.
Lidwindy Morani Logo Ule adalah mahasiswa profesi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia yang menaruh perhatian pada penelitian praktik klinis dan evaluasi layanan kesehatan.
Nur Nunu Prihantini berafiliasi dengan Departemen Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia dan memiliki keahlian di bidang ilmu biomedis serta sains klinis.
0 Komentar