Penelitian ini dilakukan oleh Ikke Herliya Ayu Pitaloka, IGAA Noviekayati, dan Anrilia E.M. Ningdyah dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan dipublikasikan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) tahun 2026. Studi tersebut menyoroti bagaimana tipe kepribadian Big Five berhubungan dengan psychological well-being atau kesejahteraan psikologis guru pendamping ABK, serta menilai apakah strategi emotion-focused coping dapat menjadi mediator dalam hubungan tersebut.
Hasil penelitian menjadi penting karena jumlah sekolah inklusi di Indonesia terus meningkat seiring semakin terbukanya akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap guru pendamping ABK juga semakin tinggi. Namun di lapangan, banyak guru menghadapi tekanan berat, mulai dari tuntutan emosional, keterbatasan fasilitas, hingga kurangnya dukungan lingkungan kerja.
Para peneliti menjelaskan bahwa guru pendamping ABK sering menghadapi situasi yang menguras emosi. Mereka harus menangani siswa dengan berbagai kondisi khusus, menjaga stabilitas emosi di kelas, sekaligus memenuhi target pembelajaran. Tidak sedikit guru yang mengalami stres, kelelahan emosional, bahkan burnout akibat tekanan kerja yang berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam observasi awal penelitian, sebagian besar guru mengaku sering merasa tertekan karena harus menangani anak dengan tingkat kebutuhan khusus yang berat. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya pengalaman mengajar di bidang pendidikan inklusi serta keterbatasan fasilitas sekolah.
Penelitian melibatkan 103 guru pendamping ABK yang bekerja di sekolah inklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga instrumen utama, yaitu skala psychological well-being, Big Five Inventory (BFI), dan BRIEF-COPE untuk mengukur strategi coping emosional. Analisis data menggunakan metode path analysis untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Penelitian menemukan bahwa dua dimensi kepribadian dalam Big Five memiliki hubungan paling kuat dengan kesejahteraan psikologis guru, yaitu agreeableness dan conscientiousness.
Guru dengan tingkat agreeableness tinggi cenderung lebih mudah membangun hubungan sosial yang baik, memiliki empati tinggi, dan mampu menjaga kerja sama dengan rekan kerja maupun orang tua siswa. Sementara itu, guru dengan conscientiousness tinggi lebih disiplin, terorganisasi, bertanggung jawab, dan mampu mengendalikan diri saat menghadapi tekanan kerja.
Kedua karakter tersebut terbukti membantu guru mempertahankan kesejahteraan psikologis mereka di tengah tuntutan pekerjaan yang berat.
Sebaliknya, dimensi kepribadian lain seperti extraversion, neuroticism, dan openness tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap psychological well-being. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan bersosialisasi atau keterbukaan terhadap pengalaman baru saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan mental guru pendamping ABK.
Penelitian juga menguji apakah emotion-focused coping dapat menjadi jembatan antara kepribadian dan kesejahteraan psikologis. Emotion-focused coping adalah strategi menghadapi stres dengan mengelola emosi, seperti menenangkan diri, menerima keadaan, atau mengalihkan perhatian.
Namun hasilnya menunjukkan bahwa strategi tersebut tidak berperan signifikan sebagai mediator. Dengan kata lain, meskipun beberapa tipe kepribadian memengaruhi kecenderungan seseorang menggunakan coping emosional, strategi tersebut belum tentu mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis guru secara nyata.
Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa guru dengan tingkat neuroticism dan openness tinggi cenderung lebih sering menggunakan emotion-focused coping. Guru dengan neuroticism tinggi umumnya lebih mudah mengalami kecemasan dan tekanan emosional sehingga lebih sering menggunakan strategi pengelolaan emosi untuk meredakan stres.
Meski demikian, para peneliti menilai bahwa coping berbasis emosi saja tidak cukup efektif untuk menghadapi tekanan kompleks di lingkungan pendidikan inklusi. Guru pendamping ABK membutuhkan pendekatan coping yang lebih aktif dan solutif, termasuk dukungan sosial, penguatan regulasi emosi, serta strategi problem-focused coping.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa kesejahteraan psikologis guru tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan kerja, tetapi juga oleh karakter kepribadian yang dimiliki individu. Oleh karena itu, sekolah inklusi dinilai perlu memperhatikan aspek psikologis dan karakter personal dalam proses rekrutmen maupun pengembangan profesional guru pendamping ABK.
Peneliti merekomendasikan agar sekolah menyediakan pelatihan manajemen stres, penguatan empati, regulasi emosi, dan keterampilan organisasi kerja bagi guru pendamping ABK. Lingkungan kerja yang suportif juga dinilai penting untuk membantu guru mempertahankan kesehatan mental mereka.
Menurut Ikke Herliya Ayu Pitaloka dan tim peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, penguatan karakter positif seperti empati, tanggung jawab, dan ketahanan psikologis menjadi faktor penting dalam menciptakan layanan pendidikan inklusi yang lebih berkualitas.
Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya bergantung pada kurikulum atau fasilitas sekolah, tetapi juga pada kesejahteraan mental para guru yang mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus setiap hari.
Profil Penulis
Ikke Herliya Ayu Pitaloka merupakan peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang berfokus pada bidang psikologi pendidikan dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini juga melibatkan IGAA Noviekayati dan Anrilia E.M. Ningdyah dari universitas yang sama dengan fokus kajian pada psikologi, pendidikan inklusi, dan pengembangan kesehatan mental.
Sumber Penelitian
Pitaloka, Ikke Herliya Ayu., Noviekayati, IGAA., & Ningdyah, Anrilia E.M. (2026). “The Relationship between the Big Five Personality Traits and Psychological Well-Being among Teachers Supporting Children with Special Needs, with Emotion-Focused Coping as a Mediator.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 5, 1483–1502.
0 Komentar