Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dwi Nur Cahyarani bersama Restikasari dan dipublikasikan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research tahun 2026 mengungkap bahwa kemiskinan menjadi faktor paling dominan yang mendorong anak putus sekolah di tingkat sekolah dasar di Indonesia. Studi ini menganalisis data periode 2021–2023 dan menunjukkan bahwa bantuan pendidikan seperti Dana BOS efektif menekan angka putus sekolah, sementara pertumbuhan ekonomi daerah tidak selalu berdampak langsung.

Masalah putus sekolah masih menjadi tantangan serius dalam sistem pendidikan Indonesia. Meskipun akses pendidikan dasar semakin luas, banyak anak belum mampu menyelesaikan sekolahnya. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sekolah, tetapi juga tekanan ekonomi keluarga yang memaksa anak untuk berhenti belajar.

Penelitian ini menggunakan pendekatan data panel dengan model Fixed Effect untuk melihat pengaruh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga ketersediaan institusi pendidikan di berbagai provinsi. Variabel yang dianalisis meliputi tingkat kemiskinan, pekerja anak, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), jumlah sekolah, serta kualitas guru.

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan utama:

Kemiskinan meningkatkan risiko putus sekolah
Kenaikan tingkat kemiskinan terbukti secara signifikan meningkatkan jumlah siswa yang tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga lebih fokus pada kebutuhan dasar dibandingkan biaya pendidikan.

Pekerja anak memperparah kondisi
Anak yang terlibat dalam aktivitas ekonomi cenderung memiliki peluang lebih besar untuk putus sekolah karena waktu dan energinya terbagi antara bekerja dan belajar.

Dana BOS menurunkan angka putus sekolah
Semakin besar alokasi Dana BOS, semakin rendah angka putus sekolah. Bantuan ini membantu sekolah memenuhi kebutuhan operasional tanpa membebani orang tua.

PDRB per kapita tidak berpengaruh signifikan
Pertumbuhan ekonomi daerah tidak selalu dirasakan secara merata oleh masyarakat. Akibatnya, meski suatu wilayah berkembang, tidak semua keluarga mampu membiayai pendidikan anaknya.

Jumlah sekolah tidak menjamin penurunan dropout
Penambahan jumlah sekolah justru berkorelasi positif dengan angka putus sekolah. Hal ini disebabkan oleh ketimpangan kualitas fasilitas dan akses antarwilayah.

Kualitas guru tidak berpengaruh langsung
Persentase guru berkualifikasi tidak terbukti signifikan menurunkan angka putus sekolah, karena faktor ekonomi keluarga tetap lebih dominan.

Temuan ini menegaskan bahwa keputusan anak untuk berhenti sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di sekolah, tetapi lebih kuat dipicu oleh tekanan ekonomi di rumah. Dalam banyak kasus, anak terpaksa membantu orang tua bekerja karena keterbatasan finansial keluarga.

Secara teoritis, hasil ini sejalan dengan konsep human capital yang menyebutkan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Namun, bagi keluarga miskin, biaya pendidikan—baik langsung maupun tidak langsung—menjadi beban yang sulit ditanggung.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa indikator makro seperti PDRB per kapita sering kali tidak mencerminkan kondisi nyata di tingkat rumah tangga. Ketimpangan distribusi pendapatan membuat manfaat pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata.

Di sisi lain, peran pemerintah melalui kebijakan pendidikan terbukti penting. Dana BOS menjadi contoh intervensi yang efektif dalam mengurangi hambatan ekonomi. Dengan adanya bantuan ini, sekolah dapat beroperasi tanpa membebani siswa dengan biaya tambahan, sehingga peluang anak untuk tetap bersekolah meningkat.

Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa kebijakan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan jumlah sekolah atau sertifikasi guru. Tanpa pemerataan kualitas pendidikan dan akses yang adil, angka putus sekolah tetap sulit ditekan. Infrastruktur yang tidak merata, fasilitas yang kurang memadai, serta akses yang sulit di daerah terpencil masih menjadi kendala besar.

Implikasi dari studi ini sangat penting bagi pembuat kebijakan. Upaya menurunkan angka putus sekolah perlu dilakukan secara menyeluruh, dengan mengintegrasikan kebijakan pendidikan dan perlindungan sosial. Bantuan langsung kepada keluarga miskin, pengurangan pekerja anak, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan harus berjalan bersamaan.

Dwi Nur Cahyarani menekankan bahwa pendekatan parsial tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. “Fenomena putus sekolah merupakan hasil interaksi antara kondisi ekonomi rumah tangga dan kapasitas institusi pendidikan,” tulisnya dalam penelitian tersebut.

Profil Penulis
Dwi Nur Cahyarani merupakan peneliti di bidang ekonomi pendidikan yang fokus pada isu ketimpangan sosial dan akses pendidikan di Indonesia. Ia bekerja sama dengan Restikasari dalam menganalisis hubungan antara faktor ekonomi dan keberlanjutan pendidikan dasar. Keduanya aktif dalam penelitian kebijakan publik dan pembangunan sumber daya manusia.

Sumber Penelitian
Cahyarani, Dwi Nur & Restikasari. “Determinants of Elementary School Dropout in Indonesia: Economic and Institutional Factors.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 5, 2026, hlm. 1433–1452. URL: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr