Kehangatan Orang Tua dan Lingkungan Sekolah Jadi Kunci Kesehatan Mental Remaja Kota

Created by AI

FORMOSA NEWS - Semarang -  Hubungan emosional yang hangat antara orang tua dan anak, ditambah lingkungan sekolah yang suportif, terbukti menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental remaja di wilayah perkotaan. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian terbaru oleh dan dari Universitas Ngudi Waluyo yang dipublikasikan dalam International Journal of Education and Psychological Science Volume 4 Nomor 3 tahun 2026.

Penelitian ini menyoroti meningkatnya masalah kesehatan mental remaja setelah pandemi, terutama di lingkungan perkotaan yang penuh tekanan sosial, kompetisi akademik, serta interaksi digital yang semakin kompleks. Menurut peneliti, remaja tidak hanya membutuhkan dukungan keluarga, tetapi juga membutuhkan lingkungan sekolah yang aman secara emosional agar mampu beradaptasi secara psikososial dengan baik.

Dalam studi tersebut, Ismiriyam dan Wulansari meneliti bagaimana keterikatan emosional antara orang tua dan anak serta lingkungan sosial sekolah berperan dalam memengaruhi penyesuaian psikososial remaja. Penyesuaian psikososial sendiri mencakup kemampuan remaja mengelola emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, serta beradaptasi dengan tekanan kehidupan sehari-hari.

Penelitian dilakukan terhadap 360 siswa kelas 10 dan 11 dari dua sekolah menengah atas di kawasan perkotaan. Responden dipilih menggunakan teknik stratified random sampling untuk memastikan keterwakilan data. Para siswa mengisi kuesioner mengenai hubungan dengan orang tua, kondisi sosial sekolah, dan kemampuan penyesuaian diri mereka.

Peneliti memilih siswa kelas 10 dan 11 karena usia 15–17 tahun dianggap sebagai fase penting perkembangan identitas remaja. Pada masa ini, siswa menghadapi tekanan akademik, pencarian jati diri, serta kebutuhan besar untuk diterima secara sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterikatan orang tua-anak dan lingkungan sosial sekolah secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap penyesuaian psikososial remaja. Kedua faktor tersebut menjelaskan sekitar 42,5 persen variasi kondisi psikososial siswa.

Secara rinci, keterikatan emosional dengan orang tua memiliki pengaruh paling kuat dibandingkan faktor sekolah. Remaja yang merasa dipercaya, didengar, dan memiliki komunikasi terbuka dengan orang tua cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi lebih baik dan lebih tahan terhadap tekanan sosial maupun akademik.

Penelitian menemukan nilai korelasi tertinggi berada pada hubungan antara keterikatan orang tua dan penyesuaian psikososial remaja dengan angka r = 0,585. Artinya, semakin baik kualitas hubungan emosional dalam keluarga, semakin baik pula kondisi psikologis dan sosial remaja.

Selain faktor keluarga, lingkungan sekolah juga terbukti berperan besar dalam menjaga kesehatan mental siswa. Sekolah yang memiliki dukungan guru, hubungan pertemanan positif, serta rasa aman sosial membantu siswa menghadapi tekanan kehidupan urban yang kompetitif dan individualistis.

Penelitian ini juga menemukan efek “sinergi ekosistem” antara rumah dan sekolah. Ketika remaja memiliki hubungan baik dengan orang tua sekaligus berada di lingkungan sekolah yang positif, kemampuan penyesuaian psikososial meningkat jauh lebih tinggi dibanding jika hanya salah satu faktor yang baik.

Sebaliknya, ketidakharmonisan antara lingkungan rumah dan sekolah dapat memicu konflik identitas dan tekanan emosional pada remaja. Peneliti mencontohkan situasi ketika orang tua memberikan tekanan akademik tinggi, sementara sekolah tidak menyediakan ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan emosi mereka. Kondisi seperti ini meningkatkan risiko burnout, kecemasan, hingga krisis identitas pada siswa kelas 11.

Menurut Ismiriyam dan Wulansari, temuan ini memperkuat teori ekologi perkembangan dari psikolog Urie Bronfenbrenner yang menyebut perkembangan remaja dipengaruhi interaksi berbagai lingkungan sosial, terutama keluarga dan sekolah.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kualitas hubungan lebih penting dibanding jumlah waktu bersama. Di wilayah perkotaan, orang tua sering memiliki kesibukan kerja tinggi sehingga waktu bersama anak terbatas. Namun, komunikasi yang terbuka dan dukungan emosional tetap menjadi faktor utama pembentuk kesehatan mental remaja.

Lingkungan sekolah berperan sebagai “buffer” atau pelindung psikologis ketika remaja menghadapi masalah di rumah. Sekolah yang inklusif dapat membantu siswa tetap merasa diterima dan aman meskipun mereka memiliki hubungan keluarga yang kurang stabil.

Temuan ini dinilai penting karena masalah kesehatan mental remaja di kota besar terus meningkat. Tekanan media sosial, persaingan akademik, perubahan identitas digital, hingga isolasi sosial pascapandemi membuat remaja menjadi kelompok yang rentan mengalami gangguan kecemasan dan stres emosional.

Penelitian merekomendasikan sekolah tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga mulai membangun program kesejahteraan psikososial siswa. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:

  • Program penguatan hubungan orang tua dan anak
  • Kurikulum kesehatan mental dan social well-being
  • Pelatihan guru dalam dukungan emosional siswa
  • Lingkungan sekolah yang lebih inklusif dan aman
  • Ruang komunikasi terbuka antara sekolah dan keluarga

Selain itu, peneliti menilai intervensi kesehatan mental remaja tidak cukup hanya menargetkan individu siswa. Pendekatan harus melibatkan keluarga dan institusi pendidikan secara bersamaan agar dukungan emosional yang diterima remaja lebih konsisten.

Penelitian ini juga membuka peluang studi lanjutan mengenai pengaruh media sosial, tekanan teman sebaya, kondisi ekonomi keluarga, hingga perbedaan budaya kota dan desa terhadap perkembangan psikososial remaja.

Profil Penulis Penelitian

merupakan akademisi dari Universitas Ngudi Waluyo yang meneliti bidang psikologi perkembangan, kesehatan mental remaja, dan lingkungan pendidikan.

juga berasal dari Universitas Ngudi Waluyo dengan fokus penelitian pada penyesuaian psikososial, hubungan keluarga, dan lingkungan sosial sekolah.

Sumber Penelitian

Ismiriyam, F. V., & Wulansari. (2026). The Interaction Between Parent–Child Attachment and the School Social Environment in Predicting Adolescents’ Psychosocial Adjustment. International Journal of Education and Psychological Science, Vol. 4 No. 3, hlm. 279–290.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijeps.v4i3.415

URL resmi: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijeps/article/view/415

Posting Komentar

0 Komentar